SRIPOKU.COM, MUARA ENIM - Saluran irigasi Lubuk Genting 1 Ayek Lemutu, Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, ambruk.
Akibatnya puluhan hektar sawah di kawasan Lubuk Genting 1 gagal tanam sehingga menyebabkan ratusan jiwa terancam rawan pangan.
Dari pantauan dan informasi yang dihimpun Sripoku.com di lapangan, Minggu (21/2/2026), terlihat hamparan sawah di kawasan persawahan Lubuk Genting 1 seperti tidak terawat karena dipenuhi rumput dan sebagian digenangi air hujan.
Beberapa petani mencoba membajak dengan mesin bajak di persawahan tersebut namun hasilnya tidak optimal karena tanahnya lengket akibat kekurangan air.
Sementara itu di kawasan persawahan Lubuk Genting II yang terletak didataran lebih rendah dan dialiri irigasi, terlihat padi berumur 2 bulan sudah tumbuh subur dan hijau sehingga tampak kontras dengan kawasan persawahan Lubuk Genting 1 yang terletak di dataran lebih tinggi.
Menurut Kades Tanjung Bulan Tarzanudin (54) bahwa permasalahan ini berawal adanya pembangunan proyek irigasi di ataran Lubuk Genting 1 Ayek Lemutu oleh Pemkab Muara Enim pada tahun 2025.
Namun pada saat pengerjaan ternyata tidak selesai sehingga air tidak bisa mengalir optimal ke atas kawasan persawahan Lubuk Genting 1.
"Kemarin kami secara gotong royong sudah berupaya melakukan perbaikan supaya air bisa mengalir. Tapi tidak optimal. Rencananya mau gotong royong lagi, namun kalau irigasinya sudah ambruk kami tidak sanggup lagi sebab memerlukan biaya besar," tukas Kades tiga periode ini.
Lanjut Tarzanudin, sebelum ada kerusakan irigasi te AQrsebut, masyarakatnya sangat tergantung irigasi untuk bersawah.
Dan selama setahun bisa melakukan panen dua kali. Namun sejak adanya kerusakan tersebut, sebagai warganya tidak bisa lagi bersawah dan gagal tanam. Dan jika itu terjadi, pasti warganya akan rawan pangan.
"Seharusnya padi sudah berumur 2 bulan, sudah lebaran warganya sudah bisa panen padi. Setidaknya ada 63 hektar sawah bergantung dengan air irigasi, jika kekeringan dipastikan akan gagal tanam dan rawan pangan bisa mencapai ratusan jiwa," tegasnya.
Atas permasalahan tersebut, dirinya meminta kepada Pemkab Muara Enim untuk segera memperbaiki dan menyelesaikan saluran irigasi tersebut sebab ini sangat urgen menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Kami sangat kecewa dengan proyek irigasi tersebut sebab tidak tuntas. Kedepan kalau proyek seperti tolong diawasi dengan benar karena ini menyangkut perut warga," pungkasnya.
Hal senada dikeluhkan oleh petani yakni Zulkarnain (53) dan Yanto (55) keduanya warga Desa Tanjung Bulan, bahwa mata pencarian utama mereka adalah bersawah sedangkan yang lain hanya sampingan.
Namun sejak saluran irigasi rusak, otomatis air tidak lagi mengalir terutama ke kawasan persawahan Lubuk Genting 1 sehingga para petani pasrah sebab tidak bisa lagi bersawah.
"Percuma kami punya mesin bajak, bibit dan lain-lain. Kalau tidak ada air padi tidak tumbuh. Jadi kami sangat menunggu irigasi diperbaiki," harapnya.
Masih dikatakan para petani, bahwa seluruh petani yang sawahnya berada di kawasan Lubuk Genting 1 dipastikan sudah gagal tanam.
Sebab jika irigasi bagus seharusnya padi sudah berumur 2 bulan dan sudah lebaran sudah bisa di panen dan padinya bisa untuk makan dan sebagian untuk dijual untuk keperluan sehari-hari.
"Kalau seperti ini, kami sudah hilang satu kali kesempatan menanam padi. Jika tidak cepat diperbaiki bisa-bisa setahun ini tidak bisa nanam lagi. Dan jika itu terjadi keluarga kami bisa kelaparan," tegasnya.(ari)