Legenda Sejak 1937, Bubur Muhdhor Tuban Tetap Jadi Primadona Berbuka Cita Rasa Rempah Timur Tengah
Sudarma Adi February 22, 2026 05:30 PM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Muhammad Nurkholis

TRIBUNJATIM.COM, TUBAN – Semerbak harum aroma rempah-rempah tercium kuat saat proses memasak bubur Muhdhor di area kompleks Masjid Muhdhor Tuban, Jalan Pemuda, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Minggu (22/2/2026).

Setiap bulan Ramadan, setelah shalat Dhuhur, para bapak-bapak pengurus masjid bersama warga sekitar bergotong royong memasak hidangan khas yang hanya tersaji saat bulan suci tersebut.

Bubur Muhdhor sendiri merupakan bubur khas kuliner Timur Tengah, dengan perpaduan rempah-rempah, daging dan bumbu gulai yang kaya rasa.

Baca juga: Rekaman CCTV Pencurian Kotak Amal Saat Ramadan di Masjid Baitus Salam Al-Karim Tuban

Resep Warisan: 10 Kg Daging Kambing & Rempah Pilihan

Dalam sehari, pengurus masjid menyiapkan berbagai bahan, mulai dari daging kambing sekitar 10 kilogram, beras 30 kilogram, kelapa 20 butir, serta berbagai bumbu seperti kayu manis dan rempah lainnya.

Sebelum diolah menjadi masakan, bahan-bahan tersebut terlebih dahulu disiapkan oleh ibu-ibu setempat. Kemudian proses memasak dimulai setelah shalat Dhuhur.

Dalam proses memasak sendiri, akan berlangsung sekitar tiga jam-an, hingga bubur benar-benar siap dibagikan menjelang berbuka puasa.

Sebab dalam memasak bubur tersebut tidak boleh sembarangan sang juru masak harus terus mengaduk adonan bubur di kuali agar tekstur yang diinginkan bisa tercapai.

Menjelang azan Magrib, antrean panjang terlihat memenuhi area masjid.

Banyak warga sekitar, bahkan dari luar Kecamatan Tuban, rela mengantri dan berdesak-desakan hanya untuk menikmati sepiring hidangan yang hanya tersedia saat bulan Ramadan tersebut.

“Setiap tahun bulan Ramadan saya pasti antre untuk mengambil bubur Muhdhor di masjid ini,” ujar Ahmad Basori (61), warga Kelurahan Perbon, Kecamatan/Kabupaten Tuban.

Ia mengaku rela mengantre sejak pukul 16.00 WIB demi mendapatkan bubur tersebut.

Menurutnya, banyaknya warga antre merupakan hal yang lumrah karena bubur Muhdhor hanya dimasak saat Ramadan.

“Saya antri mulai pukul 16.00 WIB. Banyak orang mengantre, tapi itu wajar karena banyak peminatnya,” imbuhnya.

Ahmad juga menilai bubur Muhdhor memiliki cita rasa yang kaya akan rempah-rempah. Selain itu, makanan tersebut cukup mengenyangkan dan baik untuk kesehatan.

“Makan satu piring saja sudah kenyang beda dengan nasi. Selain itu bubur ini mengandung banyak rempah-rempah tentunya baik untuk kesehatan. Ini nanti akan saya makan bersama keluarga,” bebernya.

Baca juga: Geliat Imlek 2577 Klenteng Kwan Sing Bio Tuban: Ribuan Pengunjung Padati Gelaran Barongsai dan Reog

Sementara itu, takmir masjid, Agil Bunamay (67), mengatakan bahwa pada awal kemunculannya bubur Muhdhor dimasak khusus untuk fakir miskin yang berpuasa. 

Namun seiring waktu, bubur tersebut kini dibagikan untuk masyarakat umum.

“Awalnya untuk fakir miskin yang berpuasa, lama-lama untuk umum,” ujarnya.

Tradisi memasak bubur Muhdhor sendiri sudah ada sejak tahun 1937. Dan terus dipertahankan hingga kini. Untuk tradisi memasak dalam skala besar diperkirakan hanya masih bertahan di Tuban saja.

Menurut Agil, di beberapa daerah lain, sebagian masjid mulai beralih ke makanan yang lebih praktis karena proses memasak bubur membutuhkan waktu lama dan tenaga yang cukup besar.

“Tuban ini yang masih mempertahankan tradisi memasak untuk berbuka, di beberapa daerah lebih memilih masakan instan yang lebih praktis,” imbuhnya.

Diketahui dalam sekali memasak bubur Muhdhor, dapat menghasilkan sekitar 400 hingga 500 porsi yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat dan sebagian akan digunakan untuk menu berbuka puasa bersama, di masjid Muhdhor dalam setiap hari selama bulan Ramadan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.