Seekor Anak Gajah Terjebak Dalam Tangki Septik di Mes Karyawan HTI Minas Siak
M Iqbal February 22, 2026 07:16 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK- Karyawan PT Arara Abadi di Distrik Tapung, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak dikejutkan suara gaduh kawanan gajah Sumatra, Minggu (22/2/2026).

Sedikitnya ada 11 ekor Gajah Sumatra turun dari tepian hutan lindung yang berbatasan langsung dengan permukiman itu. 

Para karyawan yang terkejut berhamburan keluar rumah. Mereka menyelamatkan diri dari kemungkinan amukan gajah liar tersebut.

Dalam situasi yang menegangkan itu, tak ada yang menyangka seekor anak gajah tertinggal. Anak yang diperkirakan belum  cukup berumur satu bulan. 

Kawanan yang datang sejak subuh hitam, baru bergerak menjauh sekitar pukul 10.00 pagi. Mereka meninggalkan kerusakan pada dinding bangunan. Sejumlah dinding roboh, beberapa unit sepeda motor tergeletak rusak. 

Karyawan menyangka kawanan itu telah benar-benar kembali ke hutan. Namun seekor anak yang masih sangat mungil, tertinggal di dalam tangki septik. Seekor anak gajah, diperkirakan belum genap sebulan umurnya, terperosok dan tak mampu keluar. Tubuhnya terbenam lumpur. Belalai kecilnya bergerak gelisah. Ia terpisah dari induknya.

Kapolres Siak, AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar mengatakan pihak perusahaan itu berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan kepolisian untuk melakukan evakuasi.

Prosesnya tak bisa gegabah. Induk dan kawanan gajah diduga masih berada di sekitar hutan, sensitif terhadap ancaman.

Tangki saptik  itu mungkin ambles saat dilintasi kawanan. Anak gajah yang berjalan di belakang induknya tak kuat menahan beban pijakan tanah yang rapuh, lalu terjerembap masuk. Kepanikan anak itulah yang kemungkinan memancing suara gaduh dan membuat kawanan mendekat ke area mess.

Petugas mengikatkan tali secara perlahan ke tubuh anak yang berlumur lumpur itu. Tarikan dilakukan sangat hati-hati. 

Begitu berhasil diangkat, anak gajah itu berdiri goyah. Lumpur menetes dari kulitnya. Setelah diperiksa dan dinyatakan stabil oleh dokter hewan, ia diarahkan perlahan ke tepian hutan.

“Hati-hati, anak ini baru lahir, jangan keras-keras guyurannya,” ujar seorang petugas saat air disiramkan untuk membersihkan lumpur dari tubuhnya.

Beberapa petugas menggiringnya dan mendorongnya dari belakangnya. Begitu sampai di bibir hutan, petugas tampak terus membangun komunikasi. 

“Hati-hati, pelan-pelan,” ujar petugas melihat anak gajah sempoyongan di bibir hutan. 

“Ini anaknya, ini anaknya!,” teriak petugas. 

Tak lama, seekor gajah dewasa muncul dari balik pepohonan. Ia mendekat cepat, seolah mengenali aroma dan suara yang dicarinya. Disusul satu ekor lainnya yang meniupkan terompet panjang, menggema di antara batang-batang kayu. Anak gajah itu lalu merapat, dan kawanan kembali menyatu.

Momen itu berlangsung dramatis. Menyisakan kesan dalam bagi  yang menyaksikan.

Menurut AKBP Sepuh, kawanan gajah tersebut diduga sudah berada di sekitar lokasi selama sepekan terakhir. Hunian mess memang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, teritori jelajah alami satwa yang kini kian menyempit.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, baik manusia maupun gajah. Anak gajah sudah kembali ke kawanannya,” ujarnya.

Ia mengingatkan, gajah Sumatra merupakan satwa dilindungi sekaligus kebanggaan Pulau Sumatra. Penanganan konflik, katanya, harus mengedepankan pendekatan preventif dan humanis. Kepolisian, BBKSDA, dan perusahaan kini mendorong sistem peringatan dini agar perjumpaan mendadak semacam itu tak lagi berujung pada risiko.

(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.