Gema azan dari menara masjid itu seakan terus mengingatkan warga Samarinda bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari oleh cahaya iman

Samarinda (ANTARA) - Tempo dulu, sebuah monumen berdiri dengan beragam kisah nan filosofis. Ceritanya bahkan menembus era dari generasi ke generasi, sarat dengan nilai-nilai moral, terlebih jikalau bangunan itu berdiri awet dan terus dimakmurkan hingga kini.

Nilai moral semacam itu lah yang selalu terpatri di balik bangunan rumah ibadah tertua di Kota Samarinda. Masjid Shirathal Mustaqiem adalah narator dalam ceritera kampung maksiat yang menjelma jadi pusat peribadatan dan adab masyarakat Kota Tepian.

Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid Samarinda Seberang itu pada penghujung abad ke-19 bukanlah sebuah tempat untuk merapalkan doa. Riwayat tutur masyarakat setempat secara turun-temurun mengisahkan bahwa area tersebut pernah menjadi pusat kemelut moral.

"Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya. Tempat ini dulunya adalah kampung maksiat yang pekat tenggelam dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi," kata Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, saat berbincang di area masjid tersebut.

Dari kisah masa silam, sebuah karomah dan tekad dari seorang ulama pendatang perlahan menyibak kabut gelap itu, mengubah sebuah sarang maksiat menjadi pusat cahaya ibadah yang cahayanya masih benderang hingga hari ini.

Legenda ini berpusat pada sosok karismatik bernama Said Abdurachman bin Assegaf atau digelar sebagai Pangeran Bendahara. Ia adalah seorang bangsawan, pendakwah, sekaligus saudagar muslim keturunan Arab yang berasal dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.

Mengarungi pesisir Kalimantan dan menyusuri sungai-sungai besar, kapalnya akhirnya berlabuh di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Pada awalnya, Samarinda Seberang hanyalah pelabuhan persinggahan dan tempat tinggal sementara bagi Said Abdurachman. Tujuannya murni berniaga, membawa barang dagangan dan mencari penghidupan di rute perdagangan Nusantara yang tengah ramai oleh kapal-kapal asing maupun lokal.

Selama menetap dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, mata batin Said Abdurachman menangkap sebuah realitas yang menggugah nuraninya. Di balik pekatnya kemaksiatan yang menyelimuti kampung tersebut, ia melihat secercah harapan. Sang ulama menyadari bahwa posisi Samarinda Seberang sebenarnya sangat strategis, sebuah urat nadi perdagangan yang memiliki potensi raksasa sebagai pusat penyebaran dan syiar agama Islam di tanah Kutai.

"Niat murni untuk berdagang perlahan bergeser menjadi panggilan jiwa. Said Abdurachman memutuskan untuk menetap. Bukan lagi sekadar untuk berniaga, melainkan untuk mengembangkan syiar dan kajian cendekia Islam di tengah masyarakat yang tengah tersesat kala itu," tutur Mazbar.

Gelar Pangeran Bendahara

Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah mendarah daging tentu bukan perkara mudah. Akan tetapi, karomah seorang ulama sejati tidak selalu termanifestasi dalam keajaiban yang melanggar hukum alam, melainkan pada kemampuannya melunakkan hati-hati yang mengeras bak batu.

Dengan pendekatan humanis, keteladanan akhlak, dan kajian dakwah yang menyejukkan akal, Said Abdurachman perlahan mulai merangkul masyarakat.

Ketekunan dan ketaatannya yang tanpa kompromi dalam menjalankan syariat Islam membuatnya dengan cepat ditokohkan oleh masyarakat setempat. Para pelaku maksiat perlahan-lahan meninggalkan arena sabung ayam dan mulai duduk bersila mendengarkan petuah agama.

Dalam pajangan tulisan muka masjid yang divalidasi pemerintah setempat, kabar tentang ulama yang berhasil membawa kedamaian di Samarinda Seberang ini akhirnya sampai ke telinga penguasa Kerajaan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Menyadari besarnya pengaruh positif sang ulama bagi kestabilan dan moralitas rakyatnya, pada tahun 1880, Sultan Kutai memberikan pengakuan resmi yang luar biasa.

Said Abdurachman Assegaf diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang, dan dianugerahi gelar kehormatan yang disandang hingga akhir hayatnya: Pangeran Bendahara.

Said Abdurachman dengan senang hati menerima pengangkatan dan gelar tersebut. Bagi Pangeran Bendahara, jabatan ini bukanlah sebuah kebanggaan duniawi, melainkan sebuah amanah suci.

Ia meyakini bahwa dengan kewenangan sebagai Kepala Adat dan Agama, ia akan lebih leluasa dan memiliki payung hukum untuk melaksanakan syiar Islam. Banyak hal yang menurut catatan dia harus segera dibenahi, terutama dalam meluruskan masalah keagamaan yang masih melenceng.

Masjid Shiratal Mustaqiem

Dalam proses pembenahan moral masyarakat tersebut, Pangeran Bendahara menyadari satu kendala besar, yakni kurangnya sarana peribadatan yang memadai untuk menampung jamaah yang kian hari kian membesar. Dalam pikiran dia, tak akan mungkin membangun peradaban umat tanpa sebuah pusat pijakan spiritual.

"Kondisi inilah yang kemudian membuat Pangeran Bendahara menyuarakan ide besar untuk membangun sebuah masjid di Samarinda Seberang dan wilayah sekitarnya. Visi tersebut segera diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Shiratal Mustaqiem," Mazbar mengisahkan.

Masjid Shirathal Mustaqiem, lokasi yang dulunya adalah kampung maksiat kini menjadi pusat peribadatan tertua di Samarinda. ANTARA/Ahmad Rifandi.

Masjid Shirathal Mustaqiem didirikan pada tahun 1881. Secara filosofis, lokasi masjid ini didirikan tepat di lahan yang dulunya sering digunakan sebagai arena perjudian, sebuah langkah berani untuk membersihkan tanah maksiat menjadi tempat sujud kepada Ilahi.

Sepeninggal Pangeran Bendahara, semangat untuk merawat dan membangun rumah Allah ini tidak lantas meredup. Tongkat estafet pembangunan masjid kemudian dilanjutkan oleh tokoh setempat bernama Kapitan Jaya. Kehidupan beragama di Samarinda Seberang terus tumbuh pesat, menciptakan lingkungan yang kondusif, religius, dan damai.

Kini, lebih dari satu abad telah berlalu. Masjid Shiratal Mustaqiem tetap berdiri kokoh bersahaja di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Bangunan ini bukan sekadar cagar budaya tertua di Kota Samarinda, melainkan monumen dari sebuah perjuangan dan karomah ulama besar.

Hikayat Pangeran Bendahara Said Abdurachman bin Assegaf adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan. Bahwa dengan kesabaran, ilmu, dan keikhlasan, sebuah wilayah yang dulunya diwarnai pekatnya kemaksiatan, sabung ayam, dan perjudian, diubah menjadi pusat ibadah yang diharumkan oleh lantunan ayat suci.

Menara segi delapan setinggi 21 meter itu masih berdiri tegap, menyatu dengan masjid yang telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional. Gema azan dari menara masjid itu seakan terus mengingatkan warga Samarinda bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari oleh cahaya iman.