SUNGAILIAT, BABEL NEWS - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Bahrin menjalankan komitmen dalam mendukung transformasi kesehatan yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Transformasi kesehatan di fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat lanjutan yaitu rumah sakit tersebut berkenaan dengan program kesehatan Kanker, Jantung, Stroke, Urologi-Nefrologi serta Kesehatan Ibu dan Anak (KJSU-KIA).
Direktur RSUD Depati Bahrin, dr Yogi Yamani mengatakan, transformasi kesehatan yang dicanangkan oleh Kemenkes RI tersebut dilakukan dari hasil pemetaan tren penyakit yang terjadi di masyarakat. "Tren penyakit di Indonesia ini sudah berpindah, dari penyakit infeksi ke penyakit yang sifatnya metabolisme atau penyakit katastropik," kata Yogi Yamani, Jumat (20/2).
Hal ini tergambar di mana pada tahun 1970-an sampai 1990-an lalu masih banyak terjadi penyakit-penyakit infeksi seperti malaria, tipes, hepatitis, TBC dan lain sebagainya. Namun sekarang ini, kondisinya mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit katastropik seperti kanker, jantung, stroke, urologi-nefrologi serta kesehatan ibu dan anak.
"Untuk mensukseskan program tersebut, oleh Kementerian Kesehatan sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari alat kesehatan (alkes), sarana, prasarana dan sumber daya manusia (SDM)," jelasnya.
Ia menyebut, pemenuhan sarana dan prasarana pada program transformasi digital ini dilakukan dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat dan rumah sakit. Termasuk pula dalam hal menyiapkan SDM seperti dokter spesialis, dokter subspesialis, dokter fellow spesialis maupun para tenaga keperawatan yang memerlukan pelatihan khusus.
"Namun untuk alat kesehatannya, ini disiapkan dan dihibahkan langsung oleh Kemenkes RI secara langsung," ungkapnya.
Ia mengakui, pada program kesehatan KJSU-KIA tersebut, RSUD Depati Bahrin ditetapkan oleh Menteri Kesehatan melalui Keputusan Menteri Kesehatan sebagai rumah sakit pelaksana program KJSU-KIA di level madya.
Oleh karena itu, berbagai alat kesehatan yang sudah dipetakan kebutuhannya sejak tahun 2024 tersebut direncakan bakal ditempatkan di RSUD Depati Bahrin pada tahun 2026 ini. "Saat ini sarana prasarana sudah kita siapkan, SDM-nya sebagian besar sudah 80 persen kita siapkan, tinggal menunggu alat kesehatannya," ungkapnya.
Adapun alat kesehatan yang dimaksud yakni cath lab atau laboratorium kateterisasi yang dapat dipergunakan untuk penyakit kanker, jantung dan stroke yang saat ini sedang disiapkan instalasinya. "Alat cath lab ini bisa digunakan untuk penyakit jantung. Misalnya orang kena serangan jantung mendadak, itu bisa dipasangi ring untuk menyelamatkan dulu nyawanya sebelum dilakukan tindakan definitifnya, misalnya dengan operasi bypass jantung," jelasnya.
Begitupun bagi pasien yang mengalami stroke dan mengalami penyumbatan di pembuluh darah otak. Alat cath lab dapat memungkinkan pemasangan ring di pembuluh darah otak sehingga aliran darah otak berjalan kembali sehingga pasien tidak jadi lumpuh dan meninggal.
Kemudian, alat cath lab tersebut juga dapat dipergunakan untuk pencucian atau pembersihan otak dengan tujuan memperbaiki kembali aliran otak dengan tindakan-tindakan radio intervensi. "Nah itu kegunaan dari alat cath lab tadi, jadi bisa dokter jantung yang menggunakan, dokter radiologi dan dokter saraf yang menggunakan. Bahkan dokter bedah jantung yang sudah kita punyai sekarang pun bisa menggunakan itu apabila kasus-kasusnya tidak memerlukan operasi terbuka," tuturnya.
Selain cath lab, direncanakan tahun ini RSUD Depati Bahrin juga akan menerima alat kesehatan berupa CT Scan untuk menunjang program KJSU-KIA. "Kedua alat ini (cath lab dan CT scan-red) mudah-mudahan di pertengahan tahun ini alat-alat tersehut sudah bisa uji fungsi dan dipergunakan," jelasnya.
Ia menambahkan, RSUD Depati Bahrin juga mulai menyiapkan pelayanan kesehatan kemoterapi untuk pengobatan kanker sebagai bagian dari program kesehatan KJSU-KIA tersebut. Pihaknya telah menyiapkan ruangan untuk peralatan dan handling obat-obat kemoterapi tersebut dan tinggal menunggu alat kesehatannya dari Kemenkes RI.
"SDM juga sudah kita siapkan, baik itu tenaga farmasi maupun apoteker dan asisten apoteker. Tinggal kita menunggu alat-alat untuk handling obat-obat kemoterapinya dari Kemenkes. Ini mungkin di tahun berikutnya baru bisa terwujud," ujarnya.
Kemudian, yang sedang disiapkan pula oleh RSUD Depati Bahrin yakni laboratorium patologi anatomi untuk pemeriksaan pasien yang mengalami berbagai kondisi. Misalnya seperti memeriksa penyakit tumor, apakah termasuk tumor ganas atau jinak.
"Itu namanya pemeriksaan imunohistokimia (IHK) di laboratorium patologi anatomi. Dan selama ini kita selalu mengirim ke laboratorium luar seperti RSUP Babel dan RS Siloam," ungkapnya.
Yogi Yamani menyebut, dengan adanya laboratorium patologi anatomi tersebut, maka tidak perlu lagi mengirim keluar dan RSUD Depati Bahrin dapat mendukung laboratorium tersebut untuk kemoterapi. "Tujuannya adalah untuk mengurangi angka kesakitan, mencegah kematian dan mengurangi angka rujukan ke rumah sakit luar atau ke luar Pulau Bangka," harapnya.
Ia berharap, RSUD Depati Bahrin menjadi rumah sakit yang one stop service atau dalam artian tidak perlu lagi merujuk pasien. "Karena kalau dirujuk ke luar Pulau Bangka ini bebannya luar biasa, baik bagi pasien maupun keluarganya," tambahnya. (u2)