Swiss-Belhotel Balikpapan, Hadirkan Cita Rasa Uighur Lewat Menu Berbuka
Budi Susilo February 22, 2026 10:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Swiss-Belhotel Balikpapan menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berbeda dari biasanya di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.  

Dengan mengusung tema "Taste of Xinjiang", hotel ini mengajak masyarakat Balikpapan menjelajahi kekayaan kuliner khas Muslim Uighur.

Sebuah daerah di Tiongkok yang kental dengan pengaruh Timur Tengah dan Mediterania.

Untuk diketahui, paket buka puasa ini hadir dengan harga Rp 228 ribu per orang. Dapat dinikmati setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 21.00 Wita selama bulan puasa Ramadan.

Baca juga: Polsek Sangkulirang Amankan Arus Lalu-lintas pada Bazar Ramadan Benua Baru Ilir

Executive Chef Swiss-Belhotel Balikpapan, Chef Kelana, menjelaskan tema ini memberikan sudut pandang baru tentang saudara-saudara Muslim di wilayah tersebut menikmati hidangan, termasuk saat berbuka puasa.

Xinjiang itu salah satu daerah Muslim di Tiongkok, tepatnya wilayah Uighur.

Makanan mereka banyak dipengaruhi Turki dan negara-negara Arab.

Saya mencoba membongkar resep-resep khas mereka dan menghadirkannya di sini," ujarnya, Minggu (22/2/2026) saat diwawancarai TribunKaltim.co di Swiss-Cafe.

Chef Kelana mengaku tertantang untuk mengeksplorasi cita rasa yang belum banyak dikenal masyarakat Balikpapan. 

Sebab baginya, menjadi chef berarti harus siap menguasai dan memahami berbagai kuliner internasional.

Baca juga: Ramadan 2026, Volume Sampah Samarinda Naik 20 Persen

Sehingga, dalam sajian Ramadan di Swiss-Belhotel Balikpapan kali ini, lebih dari 50 menu yang dirotasi tiap harinya. Mulai dari appetizer, sup, hingga main course. 

Lengkap dengan ciri khas hidangan Xinjiang yang ditampilkan dengan penggunaan bahan utama berkualitas.

Terutama daging kambing, sapi dan domba, dengan bumbu yang tidak berlebihan.

"Orang Uighur itu lebih fokus ke kualitas bahan utama. Kalau bikin sup kambing, ya rasa kambingnya yang ditonjolkan," bebernya.

"Bumbunya sederhana, seperti jinten dan bawang putih. Mereka enggak banyak campur-campur. Natural food," jelasnya.

Ia juga membeberkan, konsep ini berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang kerap menonjolkan kuah atau racikan bumbu. 

Di Xinjiang, justru kesegaran dan kualitas daging menjadi pusat perhatian.

Melalui konsep ini, Chef Kelana ingin mengedukasi sekaligus membuka wawasan masyarakat tentang ragam kuliner dunia tanpa harus bepergian jauh.

"Balikpapan itu kota yang bagus. Enggak perlu jauh-jauh ke Jakarta atau Bandung untuk coba makanan unik. Di sini juga bisa," pungkasnya. (*) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.