TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menurut riset atau penelitian, mengikuti pendidikan di usia senja bisa berdampak sangat positif bagi para lanjut usia atau lansia.
Menurut studi Indonesia Ramah Lansia (IRL), para siswa yang ikut Sekolah Lanjut Usia atau Sekolah Lansia memiliki kualitas hidup jauh lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengikuti.
Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta ingin terus memperluas jangkauan program Sekolah Lansia di awal tahun anggaran 2026.
Setidaknya, sembilan Sekolah Lansia Standar Satu (S-1) akan diluncurkan untuk memberikan ruang bagi para eyang di Kota Pelajar agar tetap berdaya di usia senja.
Menurut Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, penambahan sembilan sekolah baru ini menjadi bagian dari target Pemkot dalam merealisasikan wadah bagi lansia di setiap kelurahan.
Adapun tambahan Sekolah Lansia S-1 yang telah dikukuhkan meliputi Sekolah Lansia Anugrah 8 Kricak, Kotabaru SMART, Jasmine 23 Pringgokusuman, SETAMAN Mantrijeron, Bakti Wredho 11 Panembahan, Aji Yuswo Prawirodirjan, Abinaya Sentosa Purwokinanti, Wreda Mandiri 15 Sorosutan, dan Senja Bahagia Prenggan.
"Jadi, ada tambahan sekolah lansia di tahun anggaran 2026 ini. Sangat luar biasa, para peserta juga sangat semangat. Bahkan, saya mendapat informasi ada peserta yang usianya lebih dari 100 tahun. Ini sesuatu yang luar biasa," katanya, Minggu (22/2/26).
Sebagai informasi, tambahan sembilan unit tersebut jelas sangat krusial, mengingat pada 2025 lalu baru berdiri enam Sekolah Lansia di wilayah Kota Yogyakarta.
Menurut Wawan, Sekolah Lansia bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar tetap produktif di tengah keluarga maupun masyarakat.
"Dari hasil penelitian, sekolah lansia ini berdampak besar. Memberikan rasa optimis, menumbuhkan semangat, menambah pengalaman, berbagi cerita, memperluas pertemanan, dan yang paling penting membuat para lansia merasa lebih percaya diri serta merasa masih dibutuhkan," ujarnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogya, Retnoningtyas, menyebut, strategi pemberdayaan melalui Sekolah Lansia terbukti membuahkan hasil.
Berdasarkan kajian Indonesia Ramah Lansia (IRL), warga sepuh yang mengenyam pendidikan informal pun memiliki kualitas hidup yang jauh lebih baik.
"Dari sampling lebih dari 600 lansia, ditemukan bahwa lansia yang mengikuti Sekolah Lansia memiliki kualitas hidup enam kali lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti," ungkapnya.
Meski saat ini sudah ada 15 sekolah lansia yang tersebar di 15 kelurahan, ia mengakui pekerjaan rumah masih cukup panjang, karena ada sekitar 30 kelurahan yang belum terjangkau.
Padahal, Eno mengungkapkan, antusiasme terhadap sekolah ini cukup tinggi, di mana setidaknya sudah ada ratusan lansia yang menjadi siswanya.
"Standar 1 itu lebih dasar, sifatnya ringan dan menyenangkan. Kegiatannya banyak untuk hiburan seperti bernyanyi, tepuk tangan, dan pembekalan kesehatan," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan, kelulusan dari Sekolah Lansia punya indikator sederhana namun bermakna dalam, yaitu lansia tidak menjadi beban keluarga.
Pihaknya sama sekali tidak menargetkan lansia harus produktif atau menghasilkan, karena yang terpenting mereka tetap mandiri dan bisa beraktivitas sendiri.
"Ada yang usianya sudah kepala sembilan, tapi masih datang ke sekolah lansia, itu sudah keren sekali. Kalau mereka bisa membuat kerajinan atau menambah pemasukan itu bagus, tapi bukan target utama. Yang utama adalah mereka tetap sehat, tidak ndeprok, dan bisa mengurus diri sendiri," urainya.
Sekolah Lansia adalah program pendidikan non-formal dari BKKBN dan Indonesia Ramah Lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat).
Program ini memberikan materi kesehatan, keterampilan, dan sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi kesepian, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan mendukung active ageing.
Tujuan utama: Meningkatkan kualitas hidup lansia dan menjadikan mereka berdaya, tidak sekadar menjadi kelompok rentan.
Materi Pembelajaran: Meliputi kesehatan (fisik & mental), gizi, teknologi informasi, kewirausahaan, hukum, agama, serta seni budaya.
Kurikulum & Metode: Umumnya terdiri dari standar S1 (dasar), S2 (menengah), dan S3 (praktik), seringkali diadakan dua minggu sekali dengan metode ceramah, praktik, dan senam.
Target Peserta: Umumnya warga berusia 60 tahun ke atas.
Wisuda: Peserta yang menyelesaikan program akan diwisuda sebagai bentuk apresiasi.
Lansia (Lanjut Usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita, yang mengalami proses penuaan.
Di Indonesia, kelompok ini rentan terhadap penyakit kronis (hipertensi, diabetes, stroke) dan membutuhkan pola hidup sehat, nutrisi seimbang, serta pendampingan sosial untuk mencapai lansia tangguh yang aktif dan mandiri.
Batasan Usia: Menurut UU No. 13 Tahun 1998 dan WHO, seseorang disebut lansia jika berusia 60 tahun ke atas.
Klasifikasi Lansia (WHO):Lanjut usia (elderly): 60-74 tahun.
Lanjut usia tua (old): 75-90 tahun.
Usia sangat tua (very old): >90 tahun.
Perubahan Fisik: Umumnya terjadi penurunan fungsi tubuh, seperti kulit keriput, rambut putih, penurunan penglihatan/pendengaran, dan kekakuan sendi.
Kesehatan: Rentan terhadap penyakit multipatologis (lebih dari satu penyakit) dan penurunan sistem imunitas.
Lansia Tangguh: Istilah bagi lansia yang tetap sehat, aktif, mandiri, serta memberikan kontribusi positif bagi keluarga.
Perawatan & Tips: Melakukan olahraga ringan, makan makanan gizi seimbang (rendah garam dan gula), istirahat cukup, dan menjaga hubungan sosial agar terhindar dari depresi.