TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Interaksi publik di media sosial terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tercatat menembus 4,2 miliar dalam satu tahun pertama masa jabatannya.
Dalam laporan bertajuk Rapor Setahun Pemerintah Daerah Provinsi 2026, Dedi tercatat sebagai gubernur dengan tingkat publikasi dan engagement (interaksi publik) tertinggi di Indonesia pada periode tersebut.
Sementara itu, percakapan di media sosial mencapai 4.573.206 unggahan yang tersebar di berbagai platform, yakni X, Facebook, Instagram, TikTok, Threads, dan YouTube.
DIR menyebut data dikumpulkan dari 11.000 media online, 200 media cetak, serta 40 media elektronik nasional dan daerah. Untuk media sosial, pengumpulan dilakukan melalui sistem crawling (pengambilan data otomatis berbasis teknologi kecerdasan buatan/Artificial Intelligence).
Dalam kategori Highest Publication, Dedi mencatat:
Sementara dalam kategori Highest Engagement, ia membukukan:
Di posisi berikutnya terdapat Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dengan 959 juta engagement dan 5,7 miliar audience.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga masuk dalam daftar dengan tingkat publikasi dan interaksi signifikan sepanjang periode riset.
DIR menegaskan engagement tinggi menunjukkan intensitas perhatian publik, namun tidak secara otomatis merepresentasikan sentimen positif.
Baca juga: Mengapa Kepala Daerah Paling Rentan Kena OTT?
Menurut DIR, tahun pertama kepemimpinan kepala daerah merupakan fase pembentukan legitimasi publik.
Laporan tersebut juga menemukan perbedaan karakter antara media massa dan media sosial.
Media massa mencatat dominasi sentimen positif hingga 79 persen. Sementara media sosial menjadi ruang apresiasi sekaligus kritik. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube mencatat interaksi tinggi, sedangkan X menjadi kanal dengan percakapan paling kritis.
DIR menilai, di era keterbukaan informasi, kepala daerah tidak hanya dituntut menjalankan kebijakan, tetapi juga mampu membaca dinamika opini publik di ruang digital.
Riset ini menyimpulkan bahwa legitimasi publik kini terbentuk melalui kombinasi antara kebijakan substantif dan komunikasi publik yang efektif.
Interaksi publik Dedi Mulyadi menembus 4,2 miliar pada tahun pertama masa jabatan (20 Februari 2025–19 Februari 2026). Berdasarkan analisis media dan media sosial, ia menjadi gubernur dengan eksposur dan perhatian publik tertinggi di Indonesia.