Cerita Nana Priatna di Pangandaran: Berkah Ramadhan dari Manisnya Kolang-kaling
Kemal Setia Permana February 22, 2026 08:11 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Di sudut Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Pangandaran, Jawa Barat, seorang pria bernama Nana Priatna (52) setia menjalani rutinitasnya sebagai pengolah kolang-kaling. 

Dari tangan terampilnya, buah aren yang sederhana disulap menjadi komoditas manis yang banyak diburu, terutama saat bulan suci Ramadhan.

Hampir setiap hari, Nana mengambil buah aren dari pohon milik warga sekitar yang sebelumnya telah iabeli. 

Buah-buah itu kemudian diolah menjadi kolang-kaling melalui proses perebusan dan perendaman yang memakan waktu cukup panjang. 

Proses pengolahan itu dilakukan Nana di halaman rumah dengan dibantu oleh satu keluarga serta tetangganya.

Baca juga: Es Cendol Elizabeth 2.0: Pilihan Tempat Bukber Kekinian di Bandung dengan Sentuhan Menu Tradisional

Tentu, pekerjaan tersebut bukan hal yang mudah, namun sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.

"Setiap hari saya mengolah kolang-kaling. Apalagi sekarang kalau bulan Ramadan, permintaannya meningkat dibanding hari biasa," ujar Nana kepada Tribun Jabar di sela sela aktivitasnya mengolah buah kolang-kaling, Minggu (22/2/2026) siang.

Ramadhan memang membawa berkah tersendiri bagi Nana. Jika pada bulan-bulan biasa omzetnya cenderung menurun, maka kondisi sebaliknya terjadi di bulan puasa bahkan melomjak tajam. 

Seperti diketahui, buah kolang-kaling menjadi satu bahan favorit untuk campuran kolak dan minuman segar berbuka puasa.

Pada hari biasa, harga kolang-kaling di wilayah Kabupaten Pangandaran berkisar Rp8 ribu per kilogram.  Namun ketika Ramadan, harganya naik menjadi Rp10 ribu per kilogram.

Dalam sehari semalam, Nana mampu memproduksi hingga 50 kilogram kolang-kaling.

Kenaikan harga juga terjadi pada bahan baku. Sebelumnya satu pohon aren yang diborong menghasilkan sekitar satu kuintal buah dengan harga Rp50 ribu, kini harganya bisa mencapai Rp100 ribu per pohon.

Baca juga: Head to Head Persib vs Persita, Bojan Hodak: Mereka Menunggu Kami Melakukan Kesalahan

"Sekarang ini bahan baku agak susah. Pohon aren sudah mulai langka. Kita beli ke warga, kadang ada, kadang enggak. Kalau pun ada, harganya lumayan mahal," katanya.

Tentu, kelangkaan pohon aren menjadi tantangan tersendiri bagi Nana. Ia harus lebih jeli mencari bahan baku agar produksi tetap berjalan. 

Meski demikian, semangatnya tak surut. Baginya, kolang-kaling adalah sumber penghidupan yang harus disyukuri dan dijalani dengan kerja keras.

Tak hanya dipasarkan di wilayah Pangandaran, hasil olahan Nana juga dikirim hingga ke Cilacap, Jawa Tengah. 

Jaringan pelanggan yang sudah dibangun membuat usahanya tetap bertahan di tengah naik turunnya harga bahan baku.

Bagi Nana, bulan Ramadan bukan sekadar momen peningkatan omzet, tapi juga pengingat akan pentingnya memanfaatkan potensi alam sekitar. 

Dari pohon aren yang kian langka, Ia belajar tentang ketekunan dan kesabaran.

"Lumayan buat menyambung hidup, yang penting kita mau kerja keras," ucap Nana. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.