TRIBUN-BALI.COM - Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar menggelar konservasi lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali tahun 2026 pada Minggu (22/2).
Konservasi kali ini menyasar lontar milik almarhum I Wayan Langgeng (Mangku Bajra) di Jalan Danau Maninjau No. 15 Sanur Kaja, Kota Denpasar.
Sebanyak 16 cakep lontar dikonservasi dalam kegiatan ini. Dari jumlah tersebut 5 lontar ditemukan dalam kondisi rusak.
Salah seroang Penyuluh Bahasa Bali, Ni Wayan Marti Megasari menyebut, 5 lontar rusak dalam kondisi patah, hancur, dan menempel.
“Kerusakannya kemungkinan marena air. Dulu katanya pernah kebakaran di ruang penyimpanannya,” paparnya.
Sementara itu, 11 cakep lontar yang masih dibaca berupa Lontar Kuranto Bolong, Pragolan, Panugrahan Bhatara ring Pulaki, Sasapaning Pajajiwan, hingga Usadha Cetik.
Baca juga: TRAGEDI Laka! Budiartika Alami Luka Berat Pasca Kecelakaan di Jalur Singaraja-Gerokgak
Baca juga: MAYAT Mengapung di Perairan Sembulungan Diserahkan ke Pihak Keluarga, Anak Korban Langsung Jemput
Putra Mangku Bajra, Komang Candra Gita menuturkan lontar tersebut ditulis oleh sang ayah sejak masih remaja. Kebanyakan naskah tersebut disalin dari buku-buku koleksinya.
“Ada buku-bukunya, lalu beliau salin ke lontar. Kurang lebih tahun 1980-an beliau sudah gemar menulis lontar, karena beliau memang orang sastra. Bahkan saat saya umur tahun 2000-an, saya masih melihat beliau aktif di bidang sastra,” ungkap pria yang bergelut dalam dunia pedalangan ini.
Dirinya pun menuturkan jika ayahnya merupakan guru Bahasa Bali dan Agama di SMP Wisata Sanur. Namun karena menjadi seorang pemangku, sang ayah berhenti menjadi guru. “Selain menulis lontar, beliau juga menulis puisi-puisi Indonesia, karena dasarnya memang sastra,” imbuhnya.
Namun sayangnya, tempat penyimpanan lontarnya di bale piasan sempat terbakar di tahun 2012 lalu. Sehingga dari 40-an cakep lontar, kini hanya tersisa 16 cakep. “Untuk isinya, kebanyakan adalah lontar mantra-mantra, ada juga tentang panugrahan-panugrahan,” imbuhnya.
Dirinya pun menuturkan, sebelum dilakukan konservasi, di tahun 2019 telah dilakukan pengecekan awal. Untuk saat ini, untuk bidang menulis lontar diteruskan anak keduanya yang kini juga kuliah di jurusan Sastra Bali.
“Kalau untuk menulis dan membaca aksara, keponakan saya juga pintar sekali, bahkan pernah juara satu menulis aksara,” ungkapnya.
Ia pun menuturkan, jika sang ayah memperkenalkan lontar kepada semua anaknya, namun tak semua mengambil jalan itu. (sup)