TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Langit senja perlahan berubah jingga di atas kubah megah Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau di Pekanbaru, Minggu (22/2/2026). Angin sore berembus lembut menyapu pelataran yang luas, sementara ratusan warga mulai memadati halaman masjid untuk menunggu waktu berbuka.
Anak-anak berlarian. Orangtua terlihat duduk berbincang santai. Sebagian lainnya sibuk mengabadikan momen dengan latar bangunan masjid yang berdiri megah di pusat Kota Pekanbaru. Suasana ngabuburit di pelataran masjid tersebut terasa hidup dan semarak.
Menjelang pukul enam sore, aktivitas di halaman masjid semakin ramai. Pengurus masjid tampak sibuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa gratis. Paket-paket makanan disusun berjejer memanjang di atas pelataran berkeramik putih yang bersih dan mengilap. Barisan nasi kotak, air minum, serta takjil tertata rapi, siap dibagikan kepada masyarakat yang datang.
Kebersihan halaman menjadi salah satu hal yang paling terasa. Area pelataran yang dilapisi keramik putih dijaga tetap bersih karena pengunjung tidak diperkenankan membawa sandal ke atasnya. Aturan sederhana itu dipatuhi bersama, membuat suasana berbuka terasa nyaman dan tertata. Warga pun leluasa duduk dan menggelar tikar tanpa khawatir kotor.
Di sisi lain halaman yang lebih luas, warga memanfaatkan waktu ngabuburit untuk berolahraga ringan. Tersedia jogging track khusus yang melingkar melewati bawah pepohonan rindang. Sejumlah warga terlihat berlari kecil, berjalan santai, hingga sekadar melakukan peregangan. Aktivitas ini menjadi pilihan sehat sembari menanti azan magrib.
Pepohonan besar yang mengitari kawasan masjid menghadirkan keteduhan alami. Di bawahnya, beberapa keluarga duduk bersantai sambil berbincang. Anak-anak tampak ceria bermain di sekitar orang tua mereka. Ngabuburit di Masjid An-Nur bukan sekadar menunggu waktu, tetapi menjadi ruang berkumpul yang hangat dan terbuka bagi siapa saja.
Tak sedikit pula pengunjung yang berswafoto dengan latar kubah masjid dan payung elektrik yang berdiri kokoh di halaman. Desain payung yang terinspirasi dari Masjid Nabawi itu menambah daya tarik kawasan masjid An-Nur. Setiap sudut terasa fotogenik, terutama saat cahaya matahari senja memantul di permukaan bangunan.
Di area lain, bazar Ramadan turut meramaikan suasana. Beragam stan menjajakan makanan, minuman, busana muslim, hingga aksesori. Produk-produk tersebut merupakan hasil karya pelaku UMKM binaan Baznas Riau. Warga tak hanya berburu takjil, tetapi juga memanfaatkan momen ini untuk berbelanja kebutuhan Ramadan.
Muhammad Adin, Bidang PHBI Badan Pengelola Masjid Raya Annur Provinsi Riau mengatakan, program buka puasa gratis menjadi agenda rutin setiap Ramadan.
"Setiap hari kami menyiapkan sekitar 500 paket nasi, lengkap dengan takjil dan air minum. Ini terbuka untuk semua masyarakat yang datang," ujarnya.
Menurut Adin, kegiatan ini bertujuan mempererat kebersamaan antarwarga. Ia menegaskan tidak ada pembatasan bagi siapa pun yang ingin berbuka di halaman masjid.
"Semua boleh ikut berbuka bersama di sini, tidak ada perbedaan. Program ini dibantu oleh Baznas Provinsi Riau," tambahnya.
Wiwi, salah seorang warga Panam Pekanbaru, mengaku hampir setiap Ramadan selalu menyempatkan sesekali datang ke Masjid An-Nur untuk ngabuburit bersama keluarga.
"Tempatnya nyaman dan bersih. Anak-anak juga senang karena bisa bermain dan lari-lari kecil sebelum buka," imbuhnya.
Hal senada disampaikan Lisna, warga lainnya dari Rawa Bening, yang datang bersama rekan-rekannya. Ia menilai suasana berbuka di masjid ini terasa hangat dan penuh kebersamaan.
"Kita duduk sama-sama, tidak ada jarak. Semua membaur," ujarnya.
Menjelang azan magrib, warga mulai duduk berjejer di pelataran. Paket takjil dan nasi yang telah disiapkan pengurus dibagikan secara merata. Tidak ada perbedaan status sosial, tidak ada sekat, semuanya duduk bersisian menikmati hidangan yang sama.
Sebagian warga juga membawa makanan dari rumah. Mereka menggelar tikar di atas keramik yang bersih dan rapi. Kebersamaan terasa sederhana namun penuh makna. Anak-anak duduk di tengah keluarga, menunggu azan dengan wajah penuh harap.
Saat azan magrib berkumandang, suasana hening sejenak. Ratusan tangan terangkat memanjatkan doa, lalu berbuka bersama dalam suasana yang damai. Senyum dan percakapan ringan kembali terdengar setelah tegukan pertama membasahi tenggorokan.
Ngabuburit dan buka bersama di Masjid Raya An-Nur bukan hanya menjadi momen menunggu waktu berbuka, tetapi tentang kebersamaan di ruang publik yang bersih dan tertata. Di bawah kubah megah dan langit senja Pekanbaru, Ramadan terasa lebih hangat karena semua orang duduk setara, berbagi makanan dan kebahagiaan tanpa perbedaan.
(Tribunpekanbaru.com/Alexander)