TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus kekerasan terhadap anak kembali mengguncang Sukabumi setelah seorang bocah berinisial NS (12) dilaporkan meninggal dunia diduga akibat penyiksaan yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Korban, yang masih bocah, sempat mengucapkan permintaan maaf dan memohon pengampunan kepada ayahnya sebelum menghembuskan napas terakhir.
Kejadian tragis ini menimbulkan keprihatinan mendalam masyarakat sekaligus menyoroti rentetan kekerasan yang dialami korban sejak lama.
Baca juga: Siasat Licik Ibu Tiri Usai Siksa Anak di Sukabumi, Bohongi Suami soal Kondisi Korban: Sakit Demam
Awang Satibi, ayah dari NS (12) bocah yang tewas setelah diduga disiksa oleh ibu tirinya di Sukabumi tak kuasa menahan tangis menceritakan perkataan terakhir anaknya sebelum meninggal.
Korban sempat menyampaikan beberapa patah kata di rumah sakit saat korban sempat dirawat pada Kamis (19/2/2026).
Saat itu putranya yang terbaring dirawat mengucapkan kata-kata yang membuatnya hati Awang merasa teriris.
"Dia ngomong ke saya. Dia sambil pegang pipi saya, sambil ngelihatin muka saya, dia bilang 'ayah maafkan dedek'," cerita Awang sambil terisak dikutip dari Youtube TV One, Minggu (22/2/2026).
"Terus di situ saya nangis, saya peluk, 'kamu enggak perlu minta maaf, ayah yang minta maaf'," sambung Awang.
Saat dirawat di hari itu, kata Awang, merupakan awal Ramadhan.
Seharusnya NS harus segera berangkat ke pesantren.
Bahkan Awang sempat dihubungi pihak pesantren karena NS tak kunjung datang.
Sambil menghibur, Awang memberi uang Rp50.000 ke NS karena setelah sembuh harus berangkat ke pesantren.
"Saya kasih uang Rp50.000, uang itu di ke sinikan (ditempel) ke jidat dia, terus dia ngomong ke saya 'alhamdulillah nanti buat bekal di pesantren'," cerita Awang.
Awang menceritakan bahwa putranya itu agak berbeda dengan anak pada umumnya.
Korban tak memiliki cita-cita seperti anak-anak yang lainnya.
"Memang anak ini beda dengan anak pada umumnya ya. Kalau anak lain pada umumnya cita-citanya ingin jadi doktor, ingin jadi pilot, ingin jadi apalah gitu," katanya.
"Anak saya ini dia punya cita-cita ingin jadi kiai, ingin jadi ulama. Ini yang membuat saya sakit," imbuh Awang manahan tangis.
Kepala RS Bhayangkara Kombes Pol Carles Siagian menjelaskan bahwa korban mengalami luka bakar di lengan, kaki, punggung, bibir dan hidung, serta paru-paru sedikit membengkak.
"Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," kata Carles dikutip dari Metro TV.
Masih ada pemeriksaan pemeriksaan laboratorium yang mana hasilnya belum keluar.
"Sudah dilakukan pemeriksaan mendalam, pembukaan organ-organ, diautopsi, dan kita melakukan pemeriksaan laboratorium, sudah dikirim ke Jakarta, kami sedang menunggu hasil untuk mengetahui apakah ada zat-zat lain di dalam organ korban," katanya.
Ayah korban, Awang, mengaku bahwa memang dia menemukan sejumlah kejanggalan sehingga akhirnya dia meminta hal ini diusut polisi.
Seperti saat baru pertama dia dapati korban penuh luka sepulang kerja dengan kulit banyak luka bakar.
Ditambah pengakuan ibu tiri korban yang dipertanyakan, yaitu menyebut bahwa luka kulit melepuh adalah hal biasa pada anak yang demam.
Sementara menurut dokter yang memeriksanya, disebutkan bahwa demam tidak akan membuat kulit melepuh seperti itu.
"Saya belum bisa menuduh ini penganiayaan oleh pasangan saya, karena saya lagi menunggu hasil otopsi. Cuman memang ini ada kejanggalan menurut saya," kata Awang dikutip dari TV One.
Ditambah sebelum meninggal, korban sempat mengaku ke ayahnya bahwa dia dipaksa minum air panas.
"Anak saya pun sempat menjawab. Jadi anak saya menjawab 'dikasih dipaksa minum air panas'," kata Awang.
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)