Oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Salah satu penyakit masyarakat modern adalah stres. Puasa adalah obat yang dianggap mujarab.
Berikut penjelasan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar dalam Mutiara Ramadan Tribunnews.com.
Baca juga: Mutiara Ramadan, Awalilah Kehidupan Dengan Taubat
Jika harapan tidak berkesesuaian dengan kenyataan maka di situ berpotensi timbul stress. Apalagi jika kebutuhan itu sudah betul-betul mendesak tetapi Solusi tak kunjung datang.
Di sinilah puasa memegang peranan penting untuk meminimalisir atau menghilangkan stres.
Kita perlu menyadarkan diri kita bahwa kenyamanan mungkin bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, keindahan bisa disaksikan di obyek-obyek wisata, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan. Ketenangan bukan hanya miliknya orang kaya atau pejabat tetapi ketenangan juga bisa dirasakan oleh orang-orang miskin.
Ketenangan lebih merupakan akibat daripada sebab. Ketenangan dan kebahagiaan adalah
pemberian (given/kasab) dari Tuhan. Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa
(state of mind). Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan
ketenangan. Di sinilah arti penting puasa.
Puasa merupakan spiritual training untuk melawan keinginan diri paling efektif. Bukankah berpuasa berarti menahan diri tidak makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan yang berselera rendah lainnya. Pusa mendidik jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani.
Orang-orang arif sering mengatakan, puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin. Nabi Muhammad Saw juga pernah mengatakan: Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin).
Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu. Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin. Sebaliknya kita juga tidak bisa takjub sepenuhnya kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka merasa bahagia dan tenang.
Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya, karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT. Rabbana atina fiduunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa quna;adzabannar (YaAllah anugrahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dariapi neraka). Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia akhirat.
Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif. ”Dunia adalah cermin akhirat”, demikian kata Nabi. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses.
Ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia. Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin ialah menurut para ’arifin ialah menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.
Idealnya setiap orang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan halwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya dan bangsawan. Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salahsatu mesjid, misalnya yang sering
dilakukan di dalam bulan suci Ramadan.
Salah satu keutamaan Ramadan ialah tersedianya waktu dan tempat untuk beriktikaf, yakni berdiam diri melakukan muahasabah di masjid karena Allah SWT. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Alquran lebih banyak, salat, tafakkur dan berzikir.
Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan
kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ashhabul Kahfi, melejit ke atas dan
mendapatkan pencerahan.
Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa faqir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan akan melahirkan generasi lemah (dha’if) di mata Allah.
Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak. Kita perlu mengingat bahwa jika kehidupan di akhirat setara dengan 1000 tahunnya dunia, maka kalau ada orang dikarunia usia 70 tahun maka itu artinya sekitar 3 menitnya akhirat.
Maukah kita menukar hanya tiga menit dengan keabadian akhirat. Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di
akhirat.
Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahdzan innallaha ma’ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita). Semoga dengan berpuasa
sebulan penuh stres kita akan hilang, amin.