Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah – Kondisi Jalan Patimura atau Jalan Raya Punggur, penghubung Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah, hingga kini masih memprihatinkan.
Kerusakan parah di sejumlah titik baru ditangani secara darurat melalui penimbunan batu split dan penggalian drainase oleh Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Lampung.
Petugas UPTD Wilayah 3 BMBK Provinsi Lampung Wawan menyebut langkah tersebut sebagai respons cepat atas keluhan masyarakat.
Namun, perbaikan permanen dengan rigid beton baru direncanakan terealisasi sekitar Mei atau Juni 2026.
“Penanganan darurat ini bersifat sementara. Nanti ruas jalan ini akan diperbaiki dengan rigid cor atau beton, tapi kemungkinan baru terealisasi sekitar bulan lima atau enam,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Artinya, masyarakat masih harus melintasi jalan yang berpotensi kembali rusak saat momen mudik dan Idul Fitri mendatang. Kekhawatiran itu disampaikan Okta Rafi, pemuda setempat yang sehari-hari melintasi ruas tersebut.
Menurut Okta, penimbunan batu sudah berulang kali dilakukan. Bahkan, jalan sempat ditambal aspal pada Desember lalu, namun kerusakan kembali muncul dalam waktu singkat.
“Lubangnya terlalu banyak, kendaraan yang lewat juga berat-berat. Sudah ditambal aspal pun sekarang hilang lagi,” keluhnya.
Ia menilai tambal sulam tak mampu menahan beban kendaraan besar yang setiap hari melintas. Selain itu, drainase yang tidak optimal membuat air hujan menggenang dan merusak struktur jalan dari bawah. Saat musim kemarau tiba, debu tebal menjadi persoalan lain bagi pengguna jalan.
Ironisnya, kondisi ini terjadi di ruas vital penghubung dua wilayah penting di Lampung. Menjelang Lebaran, kekhawatiran warga semakin besar karena jalan tersebut diprediksi akan dipadati pemudik, baik pengendara sepeda motor maupun mobil pribadi yang membawa keluarga.
“Kita yang naik motor jarak dekat saja susah, apalagi pemudik dari jauh,” ujar Okta.
Ia menambahkan, setelah berjibaku dengan jalan rusak di wilayah Kecamatan Punggur, pengendara kembali menghadapi kondisi serupa saat memasuki Kota Metro. Warga Nunggalrejo pun harus berdamai dengan lubang, debu, dan kubangan di tengah geliat pembangunan infrastruktur di daerah lain.
Menurut Okta, kerusakan jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi juga berdampak pada akses ekonomi, distribusi hasil pertanian, hingga aktivitas pelajar.
Ia berharap pemerintah tidak hanya bergerak setelah persoalan viral, tetapi benar-benar merealisasikan perbaikan permanen dengan kualitas yang baik, termasuk pembenahan sistem drainase agar kerusakan tidak terus berulang.
“Kalau diperbaiki, tolong kualitasnya bagus. Drainasenya dilancarkan. Jalan itu penting bagi masyarakat,” tegasnya.
Hingga kini, warga hanya bisa menunggu realisasi janji perbaikan, sementara waktu terus berjalan dan Lebaran 2026 kian dekat di tengah kondisi jalan yang masih berlubang.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)