Sosok Oesman Sapta Odang, Raja Bisnis dari Kalbar yang Beri Fasilitas Jet Pribadi ke Nasaruddin Umar
Sinta Darmastri February 23, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Nama Oesman Sapta Odang, atau yang akrab disapa OSO, mendadak jadi buah bibir. Bukan soal manuver politiknya di Partai Hanura, melainkan karena fasilitas jet pribadi yang ia berikan kepada Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

Penerbangan mewah menuju Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (15/2/2026) lalu itu kini berbuntut panjang. Niat hati ingin menyingkat waktu demi peresmian Balai Sarkiah, sang Menteri justru harus berurusan dengan aduan dugaan gratifikasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menag Dilaporkan, KPK Mulai Pasang Mata

Laporan yang dilayangkan oleh Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) pada 20 Februari 2026 menjadi pemantik polemik ini. Menanggapi situasi tersebut, Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam.

"Pihaknya tengah melakukan pendalaman melalui pengumpulan informasi dari berbagai sumber (open source)," ujar Setyo Budiyanto menanggapi laporan tersebut.

Baca juga: Dugaan Gratifikasi Menteri Agama, Gunakan Fasilitas Jet Pribadi, Nasaruddin Umar Dilaporkan ke KPK

Profil OSO: Sang Raja Bisnis dari Kalimantan Barat

Siapakah sosok di balik fasilitas jet pribadi ini? Dr. (H.C.) H. Oesman Sapta Odang Dt. Bandaro Sutan Nan Kayo bukan orang baru di panggung nasional. Lahir di Sukadana pada 18 Agustus 1950, ia adalah perpaduan antara politisi ulung dan pengusaha papan atas.

Perjalanan karier politiknya sangat mentereng:

  • Ketua Umum Partai Hanura (2024-2029).
  • Mantan Ketua DPD RI (2017-2019).
  • Mantan Wakil Ketua MPR RI dalam dua periode berbeda.

Namun, yang paling mengesankan adalah gurita bisnisnya di bawah bendera OSO Group. Usahanya merambah mulai dari pertambangan, properti, transportasi, hingga perhotelan. Bahkan, OSO juga tercatat sebagai salah satu komisaris di maskapai Lion Air. Tak heran jika pada 2016, Globe Asia menempatkannya dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia dengan taksiran kekayaan mencapai USD 350 juta.

Kontroversi Pendidikan dan Jejak Organisasi

Latar belakang pendidikan OSO juga tergolong unik. Meski menyelesaikan SMA melalui jalur ijazah Paket C, ia berhasil meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Senior University International di Amerika Serikat pada tahun 1999—jauh sebelum ia menamatkan pendidikan menengahnya secara formal pada 2006.

Di luar bisnis, OSO adalah organisatoris sejati. Ia memimpin berbagai lembaga besar seperti:

  • Ketua Majelis Pembina Pusat PERTI (2022–2027).
  • Ketua Umum HKTI (2010–2015).
  • Ketua Umum Gebu Minang.

Baca juga: Tanggapan Singkat Ketua KPU: Usai Kena Sanksi Skandal Penggunaan Jet Pribadi Senilai Rp 90 Miliar

Pembelaan Kemenag: Demi Efisiensi Waktu

Di tengah riuh rendah kritik warganet di media sosial X, Kementerian Agama (Kemenag) segera memberikan klarifikasi. Melalui Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Thobib Al Asyhar, ditegaskan bahwa penggunaan jet tersebut murni karena faktor teknis.

"Pak OSO secara khusus mengundang dan berharap Balai Sarkiah diresmikan Menag. Pak OSO yang berinisiatif siapkan jet pribadi untuk Menag agar bisa hadir di tengah agenda Menag yang padat," ungkap Thobib di Jakarta (19/2/2026).

Thobib juga menambahkan bahwa seluruh moda transportasi disiapkan oleh penyelenggara acara. Menurutnya, penggunaan fasilitas tersebut bertujuan agar Menag tetap bisa melayani umat secara maksimal meski di hari libur.

"Seluruh moda transportasi perjalanan disiapkan oleh penyelenggara," pungkasnya.

Meski Kemenag beralasan demi efisiensi, publik tetap mempertanyakan batas tipis antara fasilitas penyelenggara dan potensi benturan kepentingan. Kini, bola panas ada di tangan KPK untuk menentukan apakah penerbangan singkat ke Sulawesi Selatan itu merupakan bentuk gratifikasi atau murni urusan dinas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.