TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Umum PB IKAMI Sulawesi Selatan, Andi Inamul Hasan, menyampaikan belasungkawa meninggalnya Bripda DP (19) diduga dianiaya seniornya.
Penganiayaan itu diduga terjadi di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, Minggu (22/2/2026) subuh.
Lokasi asrama berada di dalam Lingkungan Mapolda Sulsel Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Bripda DP berasal dari Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang.
Lokasi rumah duka dari pusat kota Kabupaten Pinrang berjarak kurang lebih 12 kilometer (Km).
Ketua Umum Andi Inamul Hasan menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan tragedi kemanusiaan yang harus diusut secara tuntas dan adil.
Baca juga: Bripda DP Diduga Dianiaya Senior, Kapolda Sulsel Pimpin Pelepasan Jenazah di Pincara Pinrang
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Ini bukan hanya duka keluarga, tetapi duka kita bersama," ujarnya.
Negara harus hadir memastikan keadilan ditegakkan secara terang dan tanpa kompromi.
PB IKAMI Sulsel mengecam keras segala bentuk kekerasan dalam institusi mana pun.
Terlebih dalam institusi penegak hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjunjung tinggi nilai profesionalisme, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Ia mendesak Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polda Sulawesi Selatan, untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh, objektif, dan transparan.
Proses hukum harus berjalan profesional tanpa intervensi dan tanpa ada upaya menutup-nutupi fakta.
“Transparansi adalah fondasi kepercayaan publik. Kami meminta agar perkembangan penanganan kasus ini disampaikan secara terbuka kepada masyarakat dan terutama kepada keluarga korban,” lanjutnya.
PB IKAMI Sulsel juga mendorong evaluasi internal secara komprehensif terhadap sistem pembinaan, pengawasan, serta relasi senior dan junior di lingkungan institusi, guna memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sebagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan, PB IKAMI Sulsel menyatakan komitmennya untuk terus mengawal proses ini sebagai bentuk empati kepada keluarga korban serta dukungan terhadap tegaknya supremasi hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
6 Polisi Senior dan Seangkatan Bripda DP Diperiksa
Bripda DP (19) personel Ditsamapta Polda Sulsel yang merenggang nyawa diduga akibat dianiaya seniornya.
Peristiwa dugaan penganiayaan itu disebut terjadi di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, Minggu (22/2/2026) subuh.
Lokasi asrama itu berada di dalam Lingkungan Mapolda Sulsel Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Bripda DP, jenazah almarhum pun diautopsi di RS Bhayangkara.
Ayah Bripda DP, Aipda Muhammad Jabir mengatakan, hasil koordinasi sementara dengan Bid Propam Polda Sulsel, ada enam orang polisi yang diperiksa.
Keenam orang itu, adalah teman seangkatan dan senior Bripda DP.
"Sudah ada diperiksa di Polda sekarang, tiga, lettingnya juga dipanggil semua," ujar Aipda Muhammad Jabir ditemui di depan Ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.
"Lettingnya tiga orang dan seniornya juga tiga orang," lanjutnya.
Baca juga: Dugaan Bripda DP Meninggal Dianiaya Senior Menguat, Ayah: Memar di Perut, Hitam di Leher
Dugaan penganiayaan terhadap Bripda DP mencuat setelah keluarganya menemukan luka memar di tubuh almarhum.
Aipda Muhammad Jabir mengatakan, luka memar itu diduga kuat akibat pukulan.
"Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus," ucap Aipda Muhammad Jabir yang masih mengenakan kaos olahraga Polisi.
Sebagai seorang polisi, Aipda Muhammad Jabir tentu paham betul luka yang dialami putranya itu.
Ia menduga, luka tersebut terindentifikasi kuat akibat pukulan.
"Kalau benda tumpul (mungkin tidak ada), kalau bekas pukulan mungkin ada," jelasnya.
Personel Polres Pinrang ini pun berharap, agar penyelidikan penyebab kematian Bripda DP diungkap transparan.
Ayah tiga anak ini, sangat berharap keadilan atas meninggalnya putra keduanya itu.
"Kabid Propam sudah langsung tadi datang di sini dan kami selaku orang tua sudah menyampaikan untuk diusut tuntas sampai jelas siapa yang melakukan penganiyaan kalau memang ada penganiayaan," tegasnya.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, dugaan sementara meninggalnya Bripda DP diduga karena sakit.
Namun demikian, lanjut Didik, penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti meninggalnya DP.
"Iya ada anggota Bripda DP selesai shalat shubuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Makassar (RS Daya), setelah dilakukan perawatan meninggal dunia," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto kepada tribun.
"Sementara permasalahan masih dilakukan proses pemeriksaan/pendalaman lebih lanjut, perkembangan akan kami sampaikan," lanjutnya.
Hal senada diungkapkan Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy.
Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sulsel, menyelidiki penyebab pasti meninggalnya Bripda DP (19) yang diduga dianiaya seniornya.
Hal itu ditegaskan Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy saat ditemui di halaman RSUD Daya, Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu (22/2/2026) siang.
Zulham mengatakan, informasi awal yang ia peroleh Bripda DP disebut sakit pada waktu subuh tadi.
"Hasil koordinasi dengan bapak Ditsamapta, dapat laporan pagi, ada kejadian setelah salat subuh artinya ada laporan anggota Ditsamapta Polda Sulsel yang sakit dan dibawa ke rumah sakit," terangnya didampingi Ditsamapta Polda Sulsel Kombes Pol Brury Soekotjo.
Meski demikian, kata Zulham, pihaknya akan menyelidiki pasti penyebab meninggalnya DP.
Sebab, ada dugaan Bripda DP meninggal dunia akibat mendapat tindakan kekerasan sari seniornya.
"Kita Bid Propam mendalami, makanya jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut, baik visum luar maupun visum dalam," jelasnya.
Perwira tiga melati ini menegaskan, semua prosedur penyelidikan penyebab pasti meninggalnya almarhum akan dilaksanakan secara profesional dan terbuka.
Zulham mengaku akan mengungkap secara terang semua fakta penyelidikan yang nantinya ditemukan.
"InsyaAllah kita akan ungkap kalau memang ada kejadian di luar dari kejadian umum atau mencurigakan, atau kekerasan disitu kita akan luruskan," sebutnya.(*)