SURYA.co.id LAMONGAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Keduyung, Kecamatan Laren, Lamongan Jawa Timur menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Keduyung untuk menyokong kebutuhan protein dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui unit usaha ayam petelur.
Langkah ini diambil sebagai upaya nyata dalam memperpendek rantai distribusi pangan sekaligus memberdayakan potensi ekonomi yang ada di desa sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ketua BUMDes Keduyung, Muhammad Imam Syafi’i, menyatakan, unit usaha ayam petelur yang dikelolanya sedang dalam tren pertumbuhan yang positif.
Meski saat ini masih dalam tahap awal pengembangan, produktivitas harian terus dipantau untuk memenuhi permintaan SPPG.
Baca juga: MBG Jatim Jangkau 8,4 Juta Pelajar, Perputaran Ekonomi Tembus Rp 4,17 Trilliun
"Karena ini baru tahap pertama, baru tahap belajar untuk bertelur. Alhamdulillah sekarang sudah mencapai 40 persen, dari 300 ekor ayam sekarang bertelur 100 butir per hari," terang Imam Syafi’i kepada SURYA.co.id, Senin (23/2/2026)
Pihaknya optimis angka produksi ini akan terus melonjak hingga mencapai titik maksimal menjelang akhir bulan suci Ramadan.
"Mudah-mudahan di akhir Ramadan ini bisa produksi maksimal sekitar 300 telur. Dalam waktu satu minggu setelah proses bertelur semua, kita bisa menyuplai penuh SPPG Keduyung," tambahnya.
Baginya, kerja sama ini merupakan solusi atas tantangan pemasaran yang sering dihadapi usaha mikro di desa.
Dengan adanya pembeli siaga (off-taker) seperti SPPG, BUMDes dapat memangkas biaya transportasi dan distribusi secara signifikan.
Banyak keuntungannya, tidak terlalu sibuk untuk pemasaran karena sudah ditampung SPPG.
Biaya operasional bisa seminim mungkin karena langsung disetorkan ke MBG.
Di sisi lain, SPPG Keduyung menekankan pentingnya kolaborasi lokal dalam menjalankan misi pemenuhan gizi masyarakat.
Kepala SPPG Keduyung, Andre Febrian, menjelaskan bahwa operasional mereka yang telah dimulai sejak 26 Januari 2026 lalu memang diarahkan untuk menyerap produk lokal sesuai regulasi.
"Sesuai juknis (petunjuk teknis) pengadaan, kita memang harus mengambil supplier dari daerah sekitar," ujar Andre Febrian.
Menurutnya, kedekatan lokasi antara produsen dan penyalur menjadi kunci keberhasilan program ini, terutama dalam menjaga kesegaran bahan pangan.
Andre mengaku sangat terbantu dengan adanya stok telur dari BUMDes karena memudahkan koordinasi saat terjadi kekurangan stok secara mendadak.
"Sangat terbantu, daripada jauh-jauh mending daerah sekitar. Lebih cepat, kalau stok kurang tinggal datang ke BUMDes, jadi tidak perlu menunggu lama," ungkapnya.
Meskipun memasuki bulan puasa, SPPG tetap berkomitmen menjaga kualitas menu yang diberikan kepada penerima manfaat.
Pihaknya juga menekankan pentingnya mempertahankan kearifan lokal dalam setiap program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kolaborasi antara BUMDes dan SPPG Keduyung ini menjadi contoh konkret bagaimana program nasional dapat berintegrasi dengan ekonomi kerakyatan, menciptakan siklus ekonomi yang mandiri di tingkat desa.