TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Pengorbanan kembali dilakukan atlet cabang olahraga atletik National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Sumatera Utara, Reza P. Perangin-angin.
Pada Ramadan 1447 Hijriah ini, ia harus menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga tercinta demi menjalani Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) persiapan ASIAN Para Games 2026.
Reza mendapat panggilan Pelatnas untuk memperkuat Indonesia di ajang Asian Para Games 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Nagoya, Jepang, pada 15 September hingga 3 Oktober 2026.
Ini menjadi kali kedua bagi Reza merasakan Ramadan tanpa keluarga. Sebelumnya, ia juga menjalani situasi serupa pada 2023 saat mengikuti persiapan ASEAN Para Games 2023 di Kamboja.
Jika tiga tahun lalu ia masih berdua dengan sang istri, kini Reza telah dikaruniai seorang anak yang masih berusia 1,5 tahun. Kehadiran buah hati membuat makna kebersamaan Ramadan semakin dalam, sekaligus membuat rasa rindu kian berat.
“Sedihlah. Okelah kalau dibilang di tahun 2023 masih berdua saya dan istri. Kalau sekarang kan sudah punya anak, masih kecil, enggak puasa dan Ramadan bersama anak kayaknya sedih,” ujar Reza kepada Tribun Medan.
Ia menceritakan, sebelum kembali masuk Pelatnas, dirinya hanya memiliki waktu sekitar dua minggu di rumah usai membela Indonesia pada ASEAN Para Games di Thailand tahun 2026 lalu. Waktu singkat tersebut bahkan tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga karena sempat jatuh sakit selama lima hari.
“Apalagi kemarin baru dua minggu saya di rumah setelah ASEAN Para Games langsung dipanggil lagi. Rasa rindu pun belum puas, apalagi saya juga di sana cuma dua minggu, dan lima harinya sakit,” ungkapnya.
Ramadan bagi Reza bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momen mempererat hubungan keluarga. Ia mengaku sangat merindukan suasana berbuka puasa bersama ibu dan keluarga besar di kampung halaman.
“Yang pastinya sangat dirindukan kumpul bersama keluarga, sama ibu, sama keluarga-keluarga yang lain,” katanya.
Selain hangatnya suasana kebersamaan, ada satu hal sederhana namun begitu berarti yang paling ia rindukan, yakni masakan sang istri. Bagi Reza, awal Ramadan selalu identik dengan hidangan rendang daging yang tersaji di meja makan rumahnya. Menu khas itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol perhatian dan kebersamaan keluarga kecilnya saat menyambut bulan suci.
Namun pada Ramadan kali ini, tradisi tersebut harus ia lewatkan. Jarak dan tanggung jawab sebagai atlet nasional membuatnya hanya bisa mengenang cita rasa masakan rumah yang telah begitu akrab di lidahnya.
“Kemudian rindu juga dari masakan istri. Kalau biasanya di awal puasa itu ada masakan rendang daging. Jadi itu yang cukup saya rindukan di awal Ramadan ini. Kemudian kalau hari biasa di Ramadan menunya random saja, tapi karena lidah sudah biasa Medan, jadi masakan istri itu semuanya dirindukan,” tuturnya.
Kini, selama menjalani Pelatnas, Reza sepenuhnya mengikuti menu sahur dan berbuka yang telah disiapkan oleh pengurus. Ia menyadari pentingnya menjaga asupan gizi demi menunjang performa latihan yang tetap berjalan meski dalam kondisi berpuasa.
“Untuk sekarang ini menu berbuka atau sahur ikut yang disediakan pengurus saja sih. Karena saya juga baru di Pelatnas ASIA Para Games ini,” jelasnya.
Latihan intensif selama Ramadan tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, Reza menegaskan bahwa profesionalisme sebagai atlet nasional menuntut kesiapan fisik dan mental dalam kondisi apa pun. Ia menjadikan bulan suci sebagai momentum untuk melatih kesabaran, disiplin, serta memperkuat mental bertanding.
Meski demikian, ia tetap berharap mendapat kesempatan pulang saat Idulfitri agar bisa merayakan Lebaran bersama istri dan anak.
“Saya berharap kalau pun nanti bisa diberikan waktu pulang, saya akan pulang untuk ketemu istri dan anak untuk Lebaran bersama keluarga,” ucapnya penuh harap.
Di balik rasa rindu yang mendalam, Reza menyimpan target besar. Ia ingin membalas pengorbanan keluarga dengan prestasi membanggakan di Asian Para Games 2026.
“Saya juga berharap tahun ini bisa mendapatkan medali di ASIA Para Games 2026,” pungkasnya.
Ramadan kali ini menjadi ujian ganda bagi Reza, menahan lapar dan dahaga, sekaligus menahan rindu pada keluarga tercinta. Namun demi Merah Putih dan cita-cita membawa pulang medali untuk Indonesia serta Sumatera Utara, ia memilih tetap tegar. Sebab baginya, setiap tetes keringat dan setiap rindu yang tertahan adalah bagian dari perjuangan menuju podium kehormatan.
(Cr29/tribun-medan.com)