TRIBUNTRENDS.COM - Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas masih saja jadi sorotan akibat pernyataan di media sosial yang memicu polemik.
Dalam sebuah unggahan, wanita yang akrab disapa Tyas ini sempat membanggakan status WNA yang didapat sang anak.
"Cukup aku jadi WNI, anakku jangan," ucap Tyas hingga langsung viral dan ramai dikritik.
Sorotan netizen membuat jejak digital Tyas ramai dikuliti. Istri dari Arya Iwantoro ini pernah mengaku hidup susah sebelum memutuskan mengikuti suami ke Inggris.
Namun publik menemukan inkonsistensi dalam pernyataannya itu. Sebab dalam sebuah wawancara lama, Tyas juga pernah ungkap soal sosok sang ayah.
Di wawancara tersebut, Tyas menyebutkan ayahnya bekerja sebagai Financial Manager, sebuah jabatan yang dianggap mentereng oleh publik.
Baca juga: Jumlah Uang Saku Suami Dwi Sasetyaningtyas Selama LPDP di Inggris, Total Capai Miliaran Rupiah
Tyas lantas bercerita bahwa sang ayah adalah sosok yang detail termasuk soal pendidikan.
Ketika Tyas mengutarakan keinginan untuk masuk ke ITB, ia harus memberikan alasan yang menjual tentang mengapa ia memilih kuliah di sana.
"Dan papa saya adalah seorang Financial Manager, apa-apanya dihitung.
Kalau lagi kumpul-kumpul biasa, suka ditanya, SMP mau masuk ke mana dan seterusnya. Pas saya bilang masuk ITB saja, saya harus "jualan" ke mereka, kenapa saya pilih ITB," ungkap kala itu.
Pernyataan lama Tyas ini membuat publik meragukan ceritanya soal pernah hidup susah.
Sebelumnya, Dwi Sasetyaningtyas juga pernah curhat soal sosok sang ayah dalam sebuah utas.
Sempat banggakan fasilitas dari mertua, Dwi Sasetyaningtyas ternyata memiliki hubungan kurang harmonis dengan almarhum ayahnya.
Ibu dua anak ini pun menceritakan penyebab renggangnya hubungan mereka dalam sebuah utas di Threads.
Renggangnya hubungan ayah dan anak ini berawal ketika Dwi Sasetyaningtyas kembali ke Indonesia untuk mengerjakan tesis di Pulau Sumba beberapa tahun lalu.
Baca juga: Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Dipanggil LPDP Gegara Dugaan Pelanggaran Kewajiban
Dwi Sasetyaningtyas pun mampir ke Surabaya untuk mengunjungi kedua orangtuanya.
Saat pulang ke Surabaya, ia tengah hamil empat bulan.
Dwi Sasetyaningtyas pun berusaha memenuhi keinginannya untuk makan sushi karena makanan tersebut harganya sangat mahal di Belanda.
Sayang, keinginannya ini ditolak oleh sang ayah dengan kata-kata yang cukup menyakitkan.
"Susha sushi terosss, panganan mentah ngono ae lapo seh dituku, larang pisan, gak usah!" (Sushi terus, makanan mentah gitu aja kenapa sih dibeli, mahal sekali, tidak usah!)," tulis Dwi Sasetyaningtyas menirukan teguran sang ayah.
Dwi Sasetyaningtyas hanya bisa terdiam saat tahu respon sang ayah.
"Aku dimarahin dan cuma bisa nunduk di dalam mobil... Sekali lagi, Aku datang dari Belanda, lagi hamil anak pertama empat bulan," lanjutnya.
Padahal Dwi Sasetyaningtyas sendiri berniat untuk menraktir keluarga.
Ia juga tahu sang ayah bukanlah orang susah yang tak punya uang.
"Padahal aku JARANG BANGET PULANG. Padahal aku tau bapakku punya uang. Padahal aku mau traktir bayarin sekeluarga," tulisnya.
Merasa sakit hati dengan ucapan ayah, Dwi Sasetyaningtyas memilih untuk pulang ke rumah mertua di Jakarta dan kembali ke Belanda keesokan harinya.
Satu bulan setelah kejadian tersebut, ayah Dwi Sasetyaningtyas ternyata meninggal dunia.
Baca juga: Sempat Rendahkan Status WNI, Kini Tyas Alumnus LPDP Curhat Sulitnya Akses Dokter Gigi di Inggris
Ia pun segera pulang ke Surabaya namun terlambat karena sang ayah sudah dimakamkan saat ia tiba.
"Dan itu jadi kenangan terakhir aku dan bapkku, karena 1 bulan kemudian Babakku meninggal TANPA aku ada disana.
Aku berusaha beli tiket tercepat di hari yang sama buat terbang dari Belanda-Surabaya. Tapi sudah terlambat. Bapakku sudah dimakamkan pas aku sampe surabaya," lanjutnya.
Namun ternyata dampak psikologis masih dirasakan oleh Dwi Sasetyaningtyas meski sang ayah telah tiada.
Ia bahkan sampai harus ke psikolog hanya untuk memaafkan almarhum ayahnya.
Luka batin mendalam yang disimpan Dwi Sasetyaningtyas lah yang menjadi penyebabnya.
"Sampe sekarang aku bolak balik ke psikolog CUMA BUAT MEMAAFKAN perilaku bapakku," pungkasnya.
(TribunTrends/GPS/Ninda)