TRIBUNNEWSMAER.COM - Bocah berinisial NS (12), asal Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia dengan kondisi tubuh penuh luka bakar melepuh dan lebam di sejumlah bagian. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kasus ini menyedot perhatian publik setelah video kondisi korban beredar luas.
Pemeriksaan forensik menemukan luka bakar hampir di sekujur tubuh korban, meliputi lengan, kaki, paha, tangan, hingga punggung. Luka juga teridentifikasi di area bibir dan hidung yang diduga berkaitan dengan paparan panas.
Meski demikian, dokter forensik belum menyimpulkan secara pasti apakah luka tersebut akibat penganiayaan. Ada indikasi paparan panas sebagai penyebab luka bakar, namun kepastian masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel paru-paru dan jantung korban.
Proses pemeriksaan itu diperkirakan memakan waktu lima hingga tujuh hari.
Di tengah sorotan publik, ibu tiri korban berinisial TR membantah seluruh tudingan penganiayaan. Ia menegaskan tidak pernah menyiramkan atau memaksa korban meminum air panas.
"Saya berharap semoga ada kemukjizatan dari yang Mahakuasa karena bukan seperti ini yang saya harapkan, dan tidak sekejam itu seperti yang dituduhkan oleh para netizen."
"Netizen itu memang yang mahabenar segalanya, tetapi kan tidak seperti itu sebenarnya, bukan kaya begitu," kata NS dalam keterangan voice-nya saat dihubungi Kompas.com via WhatsApp, Sabtu (21/2/2026) malam.
TR juga mengklaim luka melepuh pada tubuh korban bukan akibat penyiraman air panas, melainkan karena kondisi panas dalam dan dugaan penyakit tertentu.
Baca juga: Sumpah Ibu Tiri Diduga Siksa Anak hingga Tewas, Yakin Hukum Akan Ditegakkan: Allah yang Maha Tahu
"Terkait penyiraman yang kaya gitu, itu tidak benar dan tidak ada, jujur itu kalaupun ada kulit yang melepuh (pada NS), itu faktor dari panas dalam gitu, terus akibat (ada dugaan penyakit yang diderita NS), jadi tidak ada yang namanya penyiraman air panas, ataupun minum air panas tidak pernah ada, saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," lanjut TR.
Ia menyebut telah merawat NS sejak kelas 3 SD dan kini hanya bisa menyerahkan semuanya pada waktu.
"Biar waktu yang menjawab semuanya, biar waktu yang menjawab segalanya seperti apa kebenaran dan keasliannya," ujar TR.
Sebelum meninggal, NS sempat ditanya mengenai penyebab luka-luka di tubuhnya. Dengan suara lirih, ia menyebut satu kata.
"Mamah," kata NS pelan.
Mendengar hal itu, ayah korban, Anwar Satibi (38), emosi dan sempat mencoba menyerang TS, namun berhasil dicegah oleh orang-orang di sekitarnya.
Kasus ini masih menyisakan banyak tanda tanya. Di satu sisi terdapat bantahan keras dari ibu tiri, di sisi lain hasil forensik masih menunggu kepastian ilmiah untuk mengungkap penyebab pasti luka yang dialami korban. (TribunNewsmaker/TribunLampung)