SURYA.co.id KEDIRI - Di Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, berdiri Masjid Al Mudda’i yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di wilayah tersebut.
Dikelilingi pepohonan rindang dan deretan sawo kecik yang telah berusia puluhan tahun, masjid ini masih mempertahankan tradisi lama, termasuk penggunaan jam matahari sebagai penanda waktu salat.
Saat datang ke area masjid, suasana di sekitar masih terasa asri. Jalan menuju lokasi sedikit masuk dari jalan raya utama dan langsung disambut oleh dua pohon sawo sebagai pagar utama luar masjid.
Total ada sekitar sepuluh pohon sawo kecik berdiri kokoh di halaman yang menjadi ciri khas masjid tua sebagaimana lazim ditemui pada bangunan-bangunan lawas di Jawa.
Masjid ini diyakini telah berdiri sejak era 1920-an atau bahkan sebelumnya. Dari struktur bangunannya, terlihat ciri khas masjid kuno dengan empat tiang utama atau soko guru dari kayu jati yang masih asli dan belum pernah diganti.
Baca juga: Di Masjid Al Akbar Surabaya, Ribuan Warga Jatim Nikmati Kurma Raja Salman dan Pecahkan 3 Rekor MURI
"Kami belum menemukan tanda pasti kapan bangunan ini pertama didirikan namun kalau melihat dari struktur bangunannya, ini sekitar tahun 1920 ke bawah," ucap Misnan, salah satu pengurus Masjid saat ditemui, Senin (23/2/2026).
Misnan menyebut, konstruksi empat tiang penyangga tersebut mirip dengan beberapa masjid tua lain di Kabupaten Kediri, seperti Masjid Baiturrahman Tambakrejo Gurah dan Masjid Al Khotib Gurah pada era sebelum 1930-an.
Nama Al Mudda’i diambil dari nama yang berkaitan dengan tokoh agama setempat, Hasan Mudda’i yang dahulu dikenal sebagai kiai pembabat alas di wilayah tersebut.
Di belakang masjid, hingga kini masih terdapat makam Hasan Mudda’i beserta keluarga dan keturunannya.
Menurut cerita turun-temurun, peletakan batu pertama masjid konon dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sang pendiri Nadhatul Ulama (NU). Di masa lampau, kawasan ini juga pernah memiliki pondok pesantren yang lokasinya tak jauh dari aliran sungai di belakang masjid, sebagai sumber kebutuhan air para santri.
Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Masjid Agung Gresik Pasang Eskalator untuk Jemaah Lansia
"Dulu ada pondoknya, tapi sudah tidak ada sejak saya kecil. Bekas-bekasnya masih terlihat di sisi selatan masjid," kata pria 55 tahun ini.
Salah satu keunikan Masjid Al Mudda’i adalah keberadaan jam matahari tradisional yang oleh warga setempat disebut bencet. Alat ini masih terpasang dan digunakan untuk mengetahui waktu istiwa atau waktu masuk salat ketika matahari bersinar.
"Orang sini menyebutnya jam bencet," ucap Misnan.
Jam matahari tersebut terbuat dari bahan tembaga dan kuningan, dilengkapi jarum menyerupai paku serta penanda angka numerik jam.
Cara membacanya cukup sederhana, yakni dengan memanfaatkan bayangan sinar matahari.
"Kalau ada matahari bisa dilihat. Kalau nggak ada matahari, nggak bisa dilihat," jelasnya.
Masnan memperkirakan alat jam matahari itu sudah ada sejak sekitar tahun 1980-an, bersamaan dengan pembangunan renovasi ulang masjid pada 1984.
Meski masjid telah beberapa kali mengalami renovasi, terutama pada bagian lantai dan atap teras depan, empat tiang utama di ruang dalam tetap dipertahankan keasliannya.
"Kami terus menjaga masjid ini agar tetap lestari, sesuai awal masjid ini berdiri. Bentuk utama, termasuk empat tiang penyangga dari kayu jati, tidak diubah. Kami juga rutin membersihkan masjid agar para jemaah bisa beribadah dengan nyaman dan khusyuk," jelas Misnan.
Selain digunakan untuk salat lima waktu, masjid ini juga menjadi tempat mengaji anak-anak setiap selepas Magrib. Meski jumlah jemaah tidak seramai dulu, aktivitas keagamaan tetap berjalan.
"Kalau masjid tertua di Canggu ya yang di sini," kata Misnan.
Misnan menambahkan, dahulu, masjid ini juga pernah dijadikan markas pejuang pada masa 1945.
Seiring waktu, kawasan sekitar berubah, pondok pesantren tak lagi berdiri, dan jumlah anak-anak di lingkungan sekitar berkurang. Letaknya yang masuk ke dalam dari jalan raya juga membuat masjid ini tidak terlalu ramai.