Psikolog Soroti Kasus Bripda Pirman Bunuh Junior 'Emosi, Kepribadian, dan Simbol Seragam'
Ari Maryadi February 23, 2026 06:22 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kasus kekerasan kembali mencoreng institusi kepolisian.

Anggota Direktorat Samapta (Ditsamapta) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) Bripda Dirja Pratama (19) tewas di tangan seniornya Bripda Firman.

Kematian Bripda Dirja Pratama diduga karena alami dianiaya oleh Bripda Pirman.

Beberapa bagian tubuh korban mengalami luka memar.

Jasad Bripda DP telah dikebumikan di kampung halamannya, Kabupaten Pinrang.

Kabupaten Pinrang berjarak 183 kilometer ke arah utara Kota Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulsel.

Sedangkan Bripda Firman telah ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa tragis di internal Korps Bhayangkara ini mendapat sorotan publik.

Apalagi, kematian Bripda DP ini karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh seniornya sendiri.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Basti Tetteng menyayangkan terjadinya tindak kekerasan berujung hilangnya nyawa seseorang di tubuh Polda Sulsel.

Ia mengungkapkan, ada tiga faktor diduga penyebab tindak kekerasan terjadi.  

Pertama, situasi tertentu dan emosi sesaat.

Ada momen kadang orang di situasi tertentu itu marah, jengkel sehingga meluapkan kemarahannya.

Namun, situasi ini bukan karena dendam lama.

“Ada situasi dan ada pemicu sehingga melampiaskan amarah dengan kekerasan,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (23/2/2026).

Faktor kedua, sebut Basti Tetteng, adalah kepribadian.

Kedua, seseorang bisa terbiasa melampiaskan kemarahan.

 Setiap orang berbeda-beda, situasi sama tapi ada orang tak bertindak anarkis.

Berarti faktor kedua, kepribadian. Faktor kepribadian ini bermacam-macam, ada neuroticism,

Neuroticism merupakan dimensi kepribadian yang cenderung mengalami emosi negatif dan ketidakstabilan emosional.

Basti melanjutkan, orang seperti ini mudah tersulut emosinya oleh sesuatu hal tertentu.

Bagi orang lain mungkin tak perlu emosi, tapi bagi orang tertentu gampang sekali tersulut emosinya.

Namun, perlu diinvestigasi lebih dalam kecenderungan meluapkan emosinya.

Apakah karena sudah terbentuk lama, atau terbentuk di keluarga dan lingkungannya tumbuh.

“Kecenderunga orang itu (neuroticism) gampang sekali melampiaskan kemarahannya, bukan karena situasi, tapi  dia bisa membesar-besarkan,” tuturnya.

Faktor ketiga, sambung Basti, adalah faktor seragam polisi.

Seragam polisi ini dianggap hero, sehingga merasa hebat, meremehkan orang lain.

Akan tetapi, hal ini masih butuh penelusuran mendalam.

Ketua Senat Fakultas Psikologi UNM ini belum mengetahui sejauh mana menggejala seragam Polri membuat kecenderungan perilaku agresif.

“Seragam turut memperkuat perilaku seseorang. Pakai seragam polisi yang punya pengaruh dan senjata sehingga muda melampiaskan. Tapi, masih butuh diperdalam  kecenderungan simbol seragam ini,” jelasnya.

Cegah Kejadian Serupa Tak Terulang

Polda Sulsel harus mencegah tindak kekerasan berulang terjadi dilakukan oleh anggotanya.

Baik itu anggota Polda Sulsel ke masyarakat, mahasiswa dan lainnya maupun antar sesama anggota Polda Sulsel.

Basti Tetteng meminta polisi memperketat di seleksi penerimaan.

Jika ada calon anggota kepolisian memiliki kepribadian yang agresif, lebih baik digugurkan.

“Sejak awal punya kecenderungan neuroticism saat seleksi, jangan diloloskan,” imbaunya.

Ia melanjutkan, di lingkungan kepolisian perlu pengakraban dan dikuatkan jaringan solidaritasnya. Utamanya, kohesi sosialnya.

Dengan kohesi dan empati tinggi terhadap teman bisa menurunkan atau meminimalkan tindak kekerasan di kesatuan polisi.,

“Kalau saling bahu-membahu, pasti tidak akan saling menyakiti satu sama lain karena mereka merasa seperti saudara,” ucap pria berpangkat lektor kepala ini.

Terakhir, kata Basti, polisi perlu ada konselor.

Ketika ada masalah dihadapi, entah itu dalam tugas, instansi maupun rumah tangga ada teman bicara untuk membantu menyelesaikan.

“Peran konselor ini perlu dimaksimalkan. Supaya ketika ada masalah, tidak sampai meluapkan emosi. Ada tempat berbagi cerita mendapatkan solusi,” pungkas Ketua Tim Seleksi KPU Sulsel 2018 ini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.