TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Akademi Komunitas Muhammadiyah Palangka Raya yang digagas Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), akan dijalankan dengan skema kolaboratif lintas dinas.
Sistem pembelajarannya memadukan teori di sekolah terdekat dengan praktik langsung di lokasi cetak sawah pemerintah.
Direktur Kerjasama Perguruan Tinggi UMPR, Rakhdinda Dwi Artha Qairi mengatakan, program tersebut melibatkan Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng, serta sejumlah dinas lainnya.
“Di Akademi Komunitas Muhammadiyah Palangka Raya ini kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kalteng, Dinas TPHP Kalteng dan beberapa dinas lainnya,” ujarnya kepada awak media, Senin (23/2/2026).
Untuk perkuliahan teori, UMPR mendapat izin memanfaatkan fasilitas SMA terdekat sesuai domisili mahasiswa.
Sementara praktik lapangan yang porsinya mencapai 60 persen akan dilaksanakan di area cetak sawah dengan dukungan sarana dan alat mesin pertanian (alsintan) dari Dinas TPHP Kalteng.
“Lulusan ini nanti akan bergabung di Brigade Pangan karena ada 30.000 hektare yang disiapkan untuk dimanfaatkan,” jelasnya.
Sebagai contoh implementasi, Dinas TPHP telah menyiapkan lokasi praktikum di Dadahup dan Pulang Pisau.
Mahasiswa dari wilayah tersebut akan menjalani teori di SMA setempat dan praktik di lokasi cetak sawah terdekat dengan dukungan alsintan yang tersedia.
“Kalau mahasiswa dari Pulang Pisau, teorinya di SMA di sana, praktiknya menggunakan lokasi dan alsintan dari Dinas TPHP di Dadahup dan Pulang Pisau,” ungkapnya.
Skema serupa juga diterapkan di Sukamara yang memiliki program cetak sawah seluas 1.000 hektare tahun ini.
Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa belajar dekat dengan wilayah tempat mereka akan bertugas atau mengembangkan usaha pertanian.
“Supaya mereka tidak harus ke Palangka Raya, tapi dekat dengan tempat ia akan dijadikan Brigade Pangan atau ingin menjadi wirausahawan di sektor pertanian,” katanya.
Rakhdinda menegaskan, target 1.000 hingga 2.000 peserta telah melalui kajian internal kampus dan dinilai realistis sesuai desain program.
“Angka itu bukan karena buru-buru, tapi sudah dikaji. Diploma I ini desainnya sudah jelas, maka angka seribu itu rasional,” ujarnya.
Dalam kurikulum, mahasiswa dibekali keterampilan budidaya, pembibitan, hingga pengoperasian alsintan modern seperti drone.
Pembelajaran pembibitan dinilai penting karena ketersediaan bibit masih menjadi kendala dalam program cetak sawah di Kalteng.
“Selama ini kalau mau cetak sawah sering harus menunggu kiriman bibit dari daerah lain. Maka mahasiswa kami ajari cara membibit dengan berbagai kondisi air,” jelasnya.
Tak hanya aspek produksi, mahasiswa juga mendapat materi mekanisme pasar, pengemasan, dan branding produk agar memiliki nilai tambah.
Baca juga: UMPR Targetkan 3.000 Warga Kalteng Kuliah D1 Pertanian Perkuat Brigade Pangan dan Cetak Sawah
Baca juga: Pandangan Epistemologis dari Kampus UMPR: Apakah Sains dan Agama Harus Selalu Berjarak?
UMPR turut menggandeng perbankan untuk mendukung akses permodalan bagi lulusan yang ingin berwirausaha.
“Kalau selama ini karungnya tidak ada merek, kita ajari bagaimana memesan karung agar ada mereknya,” tambahnya.
Ke depan, UMPR mengusulkan agar pendidikan vokasi ini tidak hanya berfokus pada pertanian, tetapi diperluas ke sektor perikanan dan peternakan.
“Kami sudah usul ke pemerintah, tahun depan tidak hanya pertanian, tapi juga perikanan dan peternakan,” pungkasnya.