Laporan Wartawan Tribungayo.com Bustami | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Lubang raksasa di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah dilaporkan semakin hari semakin meluas.
Fenomena ini, kini berdampak tak hanya pada infrastruktur jalan dan lahan pertanian, akan tetapi berpotensi menyasar kesejumlah rumah warga.
Sugiarno warga Kampung Pondok Balik mengungkapkan jika fenomena lubang raksasa yang tak kunjung diperbaiki ini mulai membuat dirinya was-was.
"Bagaimana tidak was-was lubang ini dengan rumah kami kurang lebih 100 meter lagi dan setiap hari lubang ini selalu terkikis," ujar Sugiarno kepada TribunGayo.com Senin (23/2/2026).
Sugiarno bersama warga lainnya berharap kepada Pemerintah lubang raksasa ini untuk segera diperbaiki ataupun diatasi.
"Orang pemerintah pusat tapi sudah turun ke lokasi, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan, maka kami berharap untuk segera diperbaiki jangan menunggu korban dulubaru di kebut," katanya.
Sementara pantauan di lokasi, longsoran dari lubang raksasa itu kini telah mengikis setengah badan jalan alternatif.
Jalan ini merupakan bekas jalan PT KKA yang sudah lama tidak difungsikan.
Kondisi ini juga mengancam lahan pertanian cabai warga lebih meluas serta perkebunan kopi di sekitar lokasi.
Kemudian karena kondisi tersebut akses lalu lintas kini dialihkan melalui Kampung Blang Paku, Bener Meriah menuju Kampung Segene Balik hingga Pondok Balik, Aceh Tengah.
Namun, jalur tersebut tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas karena sebagian badan jalan rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir 2025 lalu, termasuk kerusakan sejumlah jembatan.
Pondok Balik sendiri berada di wilayah perbatasan Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Selama ini, warga lebih banyak mengakses jalan menuju Wih Pesam untuk mengangkut hasil pertanian karena jaraknya lebih dekat.
Namun, setelah lubang raksasa meluas dan memutus jalan utama maupun jalan alternatif, warga terpaksa memutar melalui Kecamatan Kute Panang dengan jarak tempuh jauh lebih panjang.
Warga lainnya, Sabirin ditemui di lokasi mengaku putusnya jalur alternatif ini merupakan pukulan berat baginya dan ribuan masyarakat Kecamatan Ketol yang menggantungkan ekonomi dari sektor pertanian.
Karena jalur tersebut biasanya digunakan untuk mengangkut komoditas pertanian.
"Jadi terputusnya jalur utama juga jalur alternatif ini menjadi beban bagi petani, proses pengangkutan hasil panen jadi lebih sulit dan jauh, semoga cepat diperbaiki jangan lagi jalur transportasi menjadi kendala para petani mendistribusikan hasil panen," pungkasnya.(*)
Baca juga: BRIN Ungkap Pemicu Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Membesar
Baca juga: Menteri PU Ungkap Penyebab Lubang Raksasa Terus Membesar di Aceh Tengah