BANGKAPOS.COM - Memasuki hari ke-6 di bulan suci ini, menjaga kualitas ibadah menjadi tantangan tersendiri.
Bukan sekadar menahan lapar, puasa adalah momentum pembuktian ketulusan hamba di hadapan Sang Pencipta.
Berikut adalah naskah ceramah singkat yang bisa Anda gunakan sebagai materi kultum subuh atau menjelang berbuka :
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Jemaah yang berbahagia,
Di bulan Ramadan ini, seorang muslim yang memenuhi syarat, wajib melaksanakan ibadah puasa. Dengan bertambahnya jumlah umat Islam, tentu semakin banyak pula yang menjalankan ibadah puasa. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah setiap orang yang menjalankan ibadah puasa akan diterima Allah, atau sebaliknya ibadah puasanya menjadi sia-sia di sisi Allah, sebagaimana disinyalir Rasulullah "Betapa banyak orang yang berpuasa, dan bagian dari puasanya (yang ia dapat hanya) lapar dan dahaga." (HR. Ahmad).
Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Di antara perbuatan yang bisa menyia-nyiakan ibadah puasa kita adalah berpuasa bukan karena Allah, atau salah niat. Niat adalah pokok dari segala amal. Salah niat akan menjadikan puasa sia-sia.
Termasuk salah niat adalah kita berpuasa bukan karena Allah. Diam-diam ada niat terselinap di dalam hati kita yang bukan karena Allah. Ada riya', maupun ada pengharapan kepada selain Allah. Riya adalah salah satu bentuk kesyirikan yang sangat dibenci Allah.
Karenanya, ibadah semacam itu akan tertolak dan akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam api neraka. Allah berkalam, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (al-Kahfi: 110).
Niat adalah roh amal, inti, dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Sebaliknya, amal jadi rusak karena niat yang rusak. Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, "Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat, dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya."
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Salah satu perkara yang dapat menyia-nyiakan puasa kita adalah percaya dengan "klenik". Karena orang yang percaya kepada dukun, pembaca nasib, paranormal dan sejenisnya, ia telah menyekutukan Allah. Ketika seseorang telah menyekutukan Allah, maka seluruh amal ibadahnya menjadi sia-sia.
Allah berkalam, "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (az-Zumar: 65).
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad" (HR. Abu Daud dan an-Nasâ'i).
Ma'âsyiral muslimin rahimakumullâh,
Salah satu hal yang bisa menjadikan ibadah puasa kita sia-sia adalah menyakiti tetangga. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah "Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah disebut-sebut banyak mengerjakan shalat, puasa, dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya." Rasulullah menjawab, "Dia di neraka." Laki-laki tadi bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah disebut-sebut sedikit mengerjakan puasa, sedekah, dan shalat, hanya saja ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya." Rasulullah berkomentar, "Dia di surga." (HR. Ibnu Hibbȧn).
Di samping itu, memutus silaturahim juga menjadi penyebab tertolaknya semua amal ibadah, termasuk ibadah puasa. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, "Allah tidak menerima amalan orang yang memutus tali silaturrahim." (HR. Ahmad).
Ketika seluruh amal ibadah itu tertolak, bisa dipastikan ia tidak akan masuk surga. Diriwayatkan dari Jubair bin Muth'im bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Seorang pemutus silaturahim tidak akan masuk surga." (HR. Bukhari Muslim).
Hukuman bagi orang yang memutus tali silaturahim, tidak hanya akan dirasakan di akhirat, namun di dunia pun ia akan merasakannya. la bisa mati dalam kondisi yang mengenaskan atau su'ul khatimah. Naudzubillah.
Diriwayatkan dari Nabi "Barang siapa memutus tali kekeluargaan atau bersumpah palsu, maka ia akan melihat akibat buruknya sebelum ia meninggal." (Silsilah al-Ahâdits ash-Shahihah, al-Albâni).
Baca juga: 15 Kultum Ramadhan Singkat 7 Menit tentang Puasa, Sabar, Menjaga Lisan dan Bersyukur
(Tribun Priangan/ Bangkapos.com)