Masjid Al-Furqon Kayuagung Tertua di OKI, Saksi Bisu Kejayaan Masa Lalu
tarso romli February 23, 2026 11:27 PM

SRIPOKU.COM KAYUAGUNG – Masih berdiri kokoh dan megah di Kelurahan Jua-jua Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan Masjid Al-Furqon bukan sekadar tempat ibadah biasa.

Bangunan ini merupakan masjid beton pertama sekaligus tertua di Bumi Bende Seguguk menyimpan rekam jejak sejarah panjang sejak penjajahan Belanda.

Dibangun rentang tahun 1913 hingga 1915 Masehi, Masjid Al-Furqon menjadi simbol kebangkitan rakyat pascaruntuh Kesultanan Palembang Darussalam.

Dikatakan Husin, warga Kelurahan Jua-jua sekaligus keturunan salah satu pendiri masjid, H. Munggah, menceritakan bahwa gagasan pembangunan masjid ini muncul dalam sebuah pertemuan besar di Palembang pada tahun 1840 silam.

"Saat itu, ulama-ulama sepuh termasuk H. Munggah dan H. Hasan Kotip berkumpul dengan pesirah dan depati se - Kota Palembang Darussalam di kantor Nederland yang berada di Benteng Kuto Besak (BKB)," ujar Husin sewaktu dihubungi pada Senin (23/2/2026) pagi.

Dalam pertemuan tersebut, para ulama menyuarakan keresahan mengenai minimnya rumah ibadah di wilayah Kayuagung.

Kala itu, tempat ibadah berupa surau-surau kecil berbahan kayu  tersebar di pinggiran Sungai Komering.

Setelah melalui diskusi panjang antar-perwakilan marga, dipilihlah Kelurahan Jua-jua sebagai lokasi pembangunan masjid berkonstruksi beton pertama di Kayuagung.

"Dulu di tahun 1840, masjidnya masih berbentuk surau kayu di pinggir sungai. Baru pada tahun 1913, bangunan kayu itu dibongkar dan dipindahkan ke area tebing atau pinggir jalan untuk dibangun permanen," jelas dia.

Menurutnya, pembangunan menjadi bukti semangat gotong-royong warga.

H. Hasan Kotip berperan besar dengan menyiapkan seluruh material bangunan, sementara H. Munggah menghibahkan tanahnya untuk tapak masjid tersebut. 

Masyarakat lainnya berbagi tugas, mulai dari menggali pondasi hingga mendirikan tiang secara manual.

"Berdasarkan sejarah berkembang pembangunan awal masjid selesai di tahun 1915, namun penyempurnaan terus dilakukan oleh menantu kedua tokoh pendiri  hingga tahun 1936," ungkapnya.

Menariknya, meski telah melalui beberapa kali renovasi termasuk penggalian lantai papan menjadi lantai semen tahun 1940 arsitektur asli masjid ini tetap dipertahankan.

"Bentuk dan gaya arsitekturnya masih asli, tidak berubah sejak dulu. Kami hanya memperluas ruangan dan mengganti bahan kayu di bagian dalam dengan beton agar lebih kokoh," tambah Husin.

Kini, Masjid Al-Furqon telah resmi terdaftar sebagai cagar budaya di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan.

Masjid ini dikelola secara turun-temurun oleh tokoh agama setempat, mulai dari Kiyai Aboubakar hingga saat ini dipegang oleh H. Saipul Ardan.

"Keberadaan masjid Al-Furqon tidak hanya menjadi pusat syiar Islam di Kayuagung, tetapi jadi destinasi wisata religi bagi masyarakat yang ingin melihat langsung sisa-sisa peninggalan arsitektur masa lalu yang masih berdiri kokoh menantang zaman," pungkasnya.

Baca juga: Tiket Mudik Gratis di Sumsel Naik Kereta Api Masih Tersedia, Ayo Daftarkan Segera: Bawa KTP dan KK

Baca juga: Pulang Sekolah Remaja 15 Tahun Dirudapaksa Ayah Tiri, Korban Diancam Kekerasan

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.