Perjuangan Bu Nini Bertahan Hidup sebagai Guru Honorer Tanpa Suami, Rela Jual Pastel di Sekolahan
Sinta Darmastri February 24, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - SMA Negeri 5 Bukittinggi pagi itu masih diselimuti udara dingin yang khas. Di dalam kelas, suara Nini Kurmala R terdengar stabil saat mengupas tuntas struktur teks argumentasi. Ia adalah sosok guru Bahasa Indonesia yang dikenal tegas, bahkan tak jarang disebut galak oleh murid-muridnya. Namun, di balik wibawa di depan papan tulis, Nini sedang memikul beban hidup yang nyaris tak kasat mata.

Statusnya sebagai guru honorer masih mengambang di ruang abu-abu kebijakan, gaji yang sering terlambat, hingga duka mendalam setelah kepergian sang suami tepat dua hari sebelum hari ulang tahunnya.

Rahasia di Balik Meja Guru

Bagi rekan sejawat dan para murid, ia adalah Bu Nini. Namun di luar gerbang sekolah, ia adalah ibu tunggal dari empat anak yang harus memutar otak demi sesuap nasi. Setiap pagi, Nini melangkah masuk ke sekolah dengan dua benda berbeda di tangannya, Map berisi RPP di tangan kanan, dan sebuah keresek hitam misterius di tangan kiri.

Keresek itu bukan berisi buku, melainkan 200 buah pastel goreng. Benda ini sering ia sembunyikan di bawah meja sebelum bel berbunyi. Barulah saat istirahat tiba, ia menawarkannya dengan suara rendah kepada rekan guru atau pegawai sekolah.

"Pastel, Bu…," katanya lirih, dengan senyum yang tetap dijaga agar tidak berubah menjadi iba.

Keuntungannya? Hanya Rp 200 per biji. Jika semua ludes terjual, Nini membawa pulang Rp 40.000. Angka yang jauh dari kata cukup, mengingat separuhnya harus langsung habis untuk biaya penitipan anak bungsunya yang baru berusia dua tahun. Sisanya? Hanya cukup untuk membeli telur, minyak goreng, atau ongkos pulang.

Baca juga: Ironi Guru Honorer, Gaji Minim Belum PPPK, Pegawai Dapur MBG jadi ASN, BGN: Tidak Ada Keistimewaan

Rekam Jejak Pengabdian yang Panjang

Nini bukan guru sembarangan. Lulusan Universitas Negeri Padang tahun 2010 ini mengawali kariernya di Tanjungpinang dengan prestasi gemilang. Salah satu muridnya pernah meraih nilai 100 pada Ujian Nasional sebuah pencapaian langka yang membuatnya diganjar penghargaan oleh Wali Kota saat itu.

"Waktu itu rasanya percaya diri sekali, saya pikir jalan jadi guru ini sudah benar," kenangnya.

Namun, roda nasib membawanya kembali ke Sumatera Barat. Meski jam mengajarnya penuh (28 jam per minggu), status administratifnya tersendat. Ia terjebak dalam masalah sinkronisasi data NUPTK dan formasi PPPK yang tak kunjung menemui titik terang, meskipun nilainya memenuhi syarat.

"Kalau kalah perangkingan, saya terima. Ini tidak ada perangkingan, tidak ada kejelasan," ujarnya lirih.

Baca juga: Cerita Tri Wulansari Guru Honorer di Jambi, Terancam Penjara Usai Razia Rambut & Pukul Mulut Murid

Kenangan Mie Goreng dan Duka yang Datang Tiba-tiba

Sebelum berjualan pastel, Nini dan almarhum suaminya, Eka, sempat berjuang lewat jalur kuliner. Setelah sang suami terkena PHK, mereka membuka gerobak kaki lima. Awalnya mereka menjual nasi sup, namun sepi peminat karena momen Idul Adha.

Mereka pun berinovasi dengan menu Mie Goreng Uncle Muthu yang sempat viral. Usaha ini mulai membuahkan hasil, hingga akhirnya musibah datang. Pada 6 Januari 2026, sang suami jatuh sakit dan koma. Jumat dini hari, sosok pelindung itu berpulang, meninggalkan Nini dengan empat anak dan sejuta beban ekonomi.

"Sekarang saya kehilangan tempat sandaran," kata Nini, sembari terisak.

Baca juga: Guru Honorer di Jeneponto Mendadak Dipecat Digantikan Ponakan Kepsek, Disdikbud: Saling Memaafkan

Menolak Menyerah di Depan Murid

Kini, hidup Nini bergantung pada 200 pastel dan honor jam mengajar yang tak seberapa. Anak-anaknya pun turut merasakan dampaknya; ada yang dibantu wali kelas untuk uang jajan, ada pula yang terancam harus pindah sekolah karena kendala biaya.

Meski badai menghantam, di dalam kelas Nini tetaplah sang pendidik yang disiplin. Ia tak ingin rasa ibanya melunturkan kualitas pendidikan bagi murid-muridnya. Karakter dan kejujuran tetap menjadi materi utama yang ia ajarkan.

"Untuk mengajar, semua orang mungkin bisa. Mendidik itu yang susah," ucapnya.

Harapan Nini sederhana. Ia tidak meminta keajaiban atau jalan pintas. Ia hanya butuh kepastian atas status pengabdiannya selama bertahun-tahun, agar napas pendidikannya tak terhenti hanya karena formasi yang dianggap tidak tersedia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.