Rencana Wajah Baru Jembatan Kewek: Dilengkapi Taman Kota, Trotoar Diperlebar Sampai 2 Meter
Hari Susmayanti February 24, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rencana revitalisasi Jembatan Kewek yang menjadi salah satu urat nadi menuju kawasan Malioboro menunjukkan progres positif.

​Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) kini tengah mengejar pemenuhan readiness criteria (RC) guna memastikan proyek dapat berjalan lancar mulai Aprlil mendatang.

​Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPKP Kota Yogyakarta, Hasri Nilam Baswari mengungkapkan, dokumen Detailed Engineering Design (DED) untuk Jembatan Kewek sudah masuk tahap finalisasi.

​Bahkan, hasil uji tanah yang dilakukan beberapa waktu lalu mengonfirmasi bahwa kondisi struktur tanah di lokasi tersebut sesuai dengan perencanaan awal.

​"Uji tanah itu untuk mengonfirmasi ulang nilai kedalaman tanah keras, dan hasilnya hampir sama dengan data sebelumnya. Berarti tidak ada kendala, DED juga sudah finalisasi," ujarnya, Selasa (24/2/2026).

​Nilam menuturkan, meski pembangunan struktur utama jembatan dibiayai penuh APBN, ada beberapa bagian proyek yang menerapkan skema cost-sharing melibatkan APBD Kota Yogyakarta.

​Dijelaskan, anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat akan difokuskan untuk pembangunan fisik dan penataan taman di sisi samping jembatan. 

Sementara itu, Pemkot Yogyakarta melalui alokasi APBD bakal mengambil peran dalam penataan trotoar atau jalur pedestrian di sekitarnya.

​Satu hal yang dipastikan akan berubah signifikan adalah kenyamanan pejalan kaki, di mana pihaknya berencana memperlebar pedestrian sepanjang Jembatan Kewek.

"Untuk trotoarnya rencananya kami lebarkan sampai 2 meter. Kalau sekarang kan 1,3 meter ya, nanti kurang lebih 1,5 sampai 2 meter, tergantung kondisi, biar pejalan kaki lebih nyaman," cetusnya.

Bukan tanpa alasan, ia memandang, keberadaan Tempat Khusus Parkir (TKP) di lahan eks Menara Kopi, Kotabaru, membuat peran pedestrian Jembatan Kewek semakin krusial.

Dengan pedestrian yang lebih lebar, wisatawan yang singgah di kantong parkir tersebut semakin leluasa mengakses Malioboro dengan berjalan kaki.

Nilam pun memastikan, rencana pelebaran trotoar ini sudah mendapatkan lampu hijau dari jajaran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta.

Penyempitan badan jalan akibat pelebaran trotoar diprediksi tidak akan mengganggu arus lalu lintas secara ekstrem, mengingat skema lalu lintas di Jembatan Kewek sudah satu arah.

"Ya, dari teman-teman di Dishub juga menyebut, karena itu satu arah, kalau mengurangi sedikit lebar jalan untuk trotoar tidak masalah," cetusnya.

Sementara, Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Bambang Seno Baskoro, menandaskan, revitalisasi Jembatan Kewek jadi momentum menciptakan sinergitas kawasan yang lebih solid.

Bukan sekadar perbaikan struktur teknis, melainkan bagian dari visi besar untuk memperkuat ekosistem pedestrian yang terintegrasi dengan Malioboro.

"Jangan hanya fokus di jembatannya, tapi juga sinergitas di kawasan ini. Supaya bisa mendukung penyesuaian pedestrian Malioboro," ujarnya.

Poin krusial yang disoroti adalah bagaimana menghidupkan area parkir eks Menara Kopi sebagai pengganti permanen dari TKP Abu Bakar Ali (ABA). 

Integrasi akses menjadi kunci agar wisatawan tetap nyaman menuju jantung kota, dengan dibarengi upaya pemberdayaan ekonomi lokal dan moda transportasi ramah lingkungan.

"Nanti bisa disediakan becak listrik sebagai alternatif menuju Malioboro. Kemudian pelaku UMKM di sana juga harus diberikan tempat yang layak," cetus Seno.

"Sehingga, ketika parkir eks Menara Kopi bisa permanen, kemudian akses ke Malioboro menjadi lebih nyaman, tentu ini ke depan bisa saling terintegrasi dengan baik," pungkasnya.

Baca juga: Persiapan Pembangunan Ulang Jembatan Kewek Yogyakarta, Uji Kedalaman Tanah Keras Mulai Digulirkan

Mengenal Jembatan Kewek

Jembatan Kewek dibangun bersamaan dengan jaringan rel kereta api dan Stasiun Lempuyangan yang dikelola Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1872.

Nama “Kewek” berasal dari istilah Belanda Kerk Weg, yang artinya jalan menuju gereja, sedangkan “Kretek” merupakan sebutan orang Jawa untuk jembatan.

Hal ini karena salah satu rute jembatan ini mengarah ke Gereja Santo Antonius di Kotabaru, salah satu alasan penamaan jembatan tersebut.

Pada masa awal, pembangunan jembatan ini sejalan dengan pembangunan Kotabaru pada 1920-an oleh pemerintah Belanda.

Jembatan dibuat dengan struktur viaduk untuk menghindari penumpukan kendaraan akibat lalu lintas kereta api yang padat.

Kretek Kewek Berada di Kawasan Cagar Budaya

Kretek Kewek kini menjadi bagian inti kawasan pusaka Kotabaru sesuai Keputusan Gubernur DIY No. 186/KEP/2011 tentang Penetapan Kawasan Cagar Budaya.

Jembatan juga tercatat dalam daftar Potensi Heritage Kota Yogyakarta 2011 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, meski belum resmi menjadi cagar budaya.

Perda Provinsi DIY No. 6 Tahun 2012 kemudian turut menegaskan pelestarian warisan budaya harus memperhatikan bentuk dan fasad asli jembatan.

Pada 2011, jembatan ini direnovasi seiring dengan dibangunya jalur ganda kereta api.

Jalur kereta yang melintas di atas Jembatan Kleringan juga turut dielektrifikasi pada 2020 untuk mendukung KRL Yogyakarta.

Setelah renovasi pada tahun 2012, nama Jembatan Kleringan pada bagian yang menghubungkan Kecamatan Jetis dan Gondokusuman diganti dengan nama Jembatan Amarta.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.