SERAMBINEWS.COM - Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah pesawat nirawak pengintai tercanggih milik Angkatan Laut AS, MQ-4C Triton, dilaporkan hilang secara misterius di atas Teluk Persia pada 22 Februari 2026.
Drone bernilai ratusan juta dolar itu sebelumnya mengirimkan sinyal darurat sebelum lenyap dari radar memicu spekulasi luas, mulai dari kerusakan teknis hingga dugaan serangan sistem pertahanan atau peperangan elektronik Iran.
Kirim Sinyal Darurat, Lalu Hilang
Berdasarkan laporan pelacakan penerbangan waktu nyata, pesawat dengan nomor registrasi 169660 dan kode panggilan OVRLD1 lepas landas dari Abu Dhabi dan melakukan misi pengawasan maritim di selatan Iran pada ketinggian sekitar 32.900 kaki.
Baca juga: Jet Tempur Siluman AS Tembak Jatuh Drone Iran di Dekat Kapal Induk USS Abraham Lincoln
Tak lama kemudian, drone tersebut memancarkan kode darurat (squawk) sebelum seluruh sinyalnya terputus.
Sejumlah unggahan yang beredar menyebutkan bahwa “pesawat nirawak pengintaian MQ-4C AS yang beroperasi di atas Teluk Persia baru saja menyampaikan sinyal darurat sebelum menghilang dari radar,” mempertegas situasi genting di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, ditandai dengan pengetatan sanksi, insiden saling tembak drone awal Februari, serta peningkatan pengerahan armada AS di sekitar Selat Hormuz.
Hilang Karena Diserang atau Gangguan Teknis?
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Washington maupun Teheran. Namun, sejumlah klaim tak terverifikasi menyebut drone tersebut mungkin menyimpang ke wilayah udara Iran.
Sinyal darurat yang dikirim membuka berbagai kemungkinan:
Kerusakan mesin atau sistem avionik
Gangguan elektronik (electronic warfare)
Peretasan atau pengacauan sinyal GPS
Bahkan kemungkinan ditembak jatuh
Iran diketahui memiliki arsitektur pertahanan udara berlapis serta investasi signifikan dalam teknologi peperangan elektronik.
Insiden ini mengingatkan pada penembakan jatuh RQ-4A Global Hawk milik AS oleh Iran pada 2019—peristiwa yang nyaris memicu konfrontasi militer terbuka.
Jika benar terjadi tindakan permusuhan, hilangnya Triton akan menjadi pukulan strategis besar bagi operasi intelijen dan pencegahan AS di kawasan.
MQ-4C Triton bukan drone biasa. Dikembangkan dalam program Broad Area Maritime Surveillance (BAMS), ia menjadi tulang punggung strategi pengawasan maritim AS.
Dengan bentang sayap 130,9 kaki setara pesawat komersial serta daya tahan terbang hingga 30 jam, Triton mampu mengawasi jutaan mil laut dalam satu misi.
Sensor radar AN/ZPY-3 Multi-Function Active Sensor memberikan cakupan 360 derajat untuk mendeteksi dan melacak kapal secara real time. Sistemnya terintegrasi dengan pesawat patroli P-8A Poseidon, membentuk jaringan pengawasan berlapis di kawasan.
Drone ini rutin beroperasi dari Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab untuk memantau aktivitas di sekitar Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global setiap hari.
Jika hilangnya Triton terbukti akibat aksi militer atau sabotase elektronik, implikasinya sangat luas:
Menguji ketahanan drone ketinggian tinggi terhadap pertahanan udara modern
Memaksa AS meninjau ulang aturan keterlibatan (rules of engagement)
Meningkatkan risiko eskalasi langsung AS–Iran
Memperkuat polarisasi keamanan di kawasan Teluk
Sebaliknya, jika penyebabnya adalah gangguan teknis, insiden ini tetap menyingkap kerentanan struktural dalam operasi ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) yang selama ini dianggap superior.
Di tengah belum adanya pernyataan resmi, hilangnya drone paling mahal dan canggih di dunia ini menjadi simbol rapuhnya keseimbangan pencegahan di kawasan Teluk, wilayah yang setiap percikan kecilnya dapat berdampak besar pada stabilitas energi dan keamanan global.(*)