Awardee LPDP asal Aceh Utara, Ajmir Akmal, baru menerima kabar keluarganya empat hari setelah bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 lalu. Saat itu, wilayah terdampak di Aceh masih mengalami pemadaman listrik dan jaringan komunikasi putus.
Mesin ATM juga tidak dapat digunakan, sementara sinyal internet hilang. Akses ekonomi warga terputus hingga terpaksa mengungsi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, komunitas alumni LPDP Mata Garuda Aceh membuka donasi sehari setelah bencana 26 November 2025. Ajmir saat itu ditugaskan sebagai koordinator.
Ia menuturkan, di lapangan, pengungsi kehabisan makanan. Sedangkan akses logistik hampir lumpuh dan desa-desa terisolasi. Saat itu, donasi baru terkumpul ratusan ribu rupiah.
Ke Titik Bencana
Mengatasi kendala tersebut, ia bersama penerima beasiswa LPDP lainnya dari kabupaten dan kota-kota Aceh coba mengoordinasikan distribusi bantuan dari Medan dan Banda Aceh. Beberapa alumni menembus titik terdampak dengan perahu, sedangkan yang lain memfasilitasi bantuan lewat helikopter.
Selama beberapa pekan setelah bencana, Ajmir dan Mata Garuda Aceh mendistribusikan sembako ke lebih dari 300 titik wilayah terdampak. Mereka kemudian membantu penyediaan air bersih, sumur bor, perlengkapan sekolah, kitab suci.
Pemulihan Sekolah
Di sekolah-sekolah yang tertimbun lumpur setinggi pinggang, mereka juga terlibat melakukan pembersihan. Diharapkan, anak-anak bisa segera kembali belajar.
Ajmir menilai bantuan tidak boleh berhenti di fase darurat, tetapi harus berlanjut pada fase pemulihan dan pendampingan pascabencana jangka panjang. Dalam hal ini, ekonomi dan pendidikan harus masuk daftar prioritas.
"Kalau sekolah tidak segera pulih, dampaknya bisa panjang. Anak-anak bisa kehilangan momentum belajar," ujarnya, dilansir dari Media Keuangan Kemenkeu.
Sementara itu, alumni LPDP berlatar medis digandeng untuk memberikan pelayana kesehatan di pengungsian. Sementara obat-obatan hasil donasi didistribusikan, pendampingan psikososial bagi warga terdampak juga dilakukan.
Ia mengakui masih ada keterbatasan di sana-sini. Untuk itu, Mata Garuda Aceh coba berfokus pada misi kecil satu persatu. Saat ini, mereka tengah membantu satu janda dengan lima anak yatim agar bisa memiliki tempat tinggal tetap sebelum Idulfitri.
"Kami tahu semua butuh bantuan. Tapi kami memilih memastikan satu keluarga ini benar-benar tertolong," tuturnya.
Baginya, kendati kecil, tindakan nyata bisa berdampak psikis besar bagi penyintas bencana.
"Mental korban itu sebenarnya sudah sangat terpukul. Kehadiran kita saja di sana sudah bisa memberi semangat," ucapnya.
Soal Kontribusi dan Pengabdian
Menyoroti peran awardee LPDP, pengalaman di lapangan usai banjir Aceh baginya mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk proyek besar. Kehadiran, pendampingan, dan konsistensi terkadang justru merupakan bentuk kontribusi yang paling dibutuhkan warga.
Ia menekankan, kontribusi merupakan hal penting yang perlu dilakukan awardee LPDP. Nilai ini tertanam dalam salah satu proses seleksi beasiswa LPDP, yang mana para pendaftarnya diminta menuliskan rencana kontribusi mereka bagi bangsa.
"LPDP meminta kita menulis kontribusi yang ingin kita lakukan. Harapan saya, ketika sudah menjadi awardee, lakukanlah seperti yang kita tulis," ujarnya.
Sebelum peristiwa banjir Aceh, Ajmir sendiri kembali ke daerahnya usai studi dan menekuni profesi sebagai dosen di Universitas Almuslim Bireuen. Di sana, ia juga mendampingi petani dan kelompok warga desa, salah satunya mengembangkan pestisida alami bersama-sama untuk meningkatkan ketahanan pertanian lokal.
Keputusan pulang baginya bukan soal konsekuensi sebagai penerima beasiswa negara, tetapi komitmen pribadi untuk berkontribusi di daerah asal.
"Ilmu itu bukan untuk ditinggikan, tapi untuk diturunkan ke masyarakat," katanya.
Berjejaring dan Bekerja Sama
Bersama jejaring alumni LPDP Mata Garuda Aceh, ia jug aktif menyosialisasikan beasiswa, kegiatan pendidikan, dan kolaborasi lintas daerah yang berdampak. Hal ini yang kemudian menjadi dasar penting saat merespons darurat bencana Aceh.
Pada kontribusi penanganan bencana sendiri, ia mendapati pentingnya untuk tidak jalan sendiri-sendiri.
"Di situ saya merasa, ilmu dan jejaring yang kami punya harus benar-benar digunakan. Kalau bukan saat seperti ini, lalu kapan?" ucapnya.
Alumnus Magister Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) ini aktif membangun jejaring sejak Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP. Upaya ini juga ia lakukan di IPB, sebelum memilih kembali ke tanah rencong.
Sinergi ini yang ia harapkan pada pemerintah, khususnya untuk sektor yang butuh kolaborasi lintas kementerian/lembaga lebih terstruktur seperti pertanian dan ekonomi.
"Mungkin pemerintah bisa membantu penyediaan alat berat, kemudian bagaimana petani ini (bisa) mendapat permodalan khusus," ucapnya.
Kerja sama antarinstansi teknis juga menurutnya perlu lebih dari percepatan pemulihan infrastruktur. Dalam hal ini, warga penyintas bencana dibantu bisa kembali memiliki penghidupan yang berkelanjutan.







