Penulis Tere Liye Puji Kontribusi Dwi Sasetyaningtyas, Sentil Penghujat: Abaikan Haus Validasinya
ninda iswara February 25, 2026 04:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak ramai diperbincangkan di media sosial.

Alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menjadi sasaran kritik hingga hujatan dari sejumlah warganet.

Pemicunya adalah unggahan yang menampilkan paspor Inggris milik anaknya, disertai pernyataan, “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan.”

Kalimat tersebut dengan cepat menyulut perdebatan.

Banyak yang mempertanyakan sikap dan komitmennya sebagai penerima beasiswa yang dibiayai negara.

Di tengah gelombang kritik itu, muncul sisi lain yang jarang disorot.

Baca juga: Profesi Ayah Dwi Sasetyaningtyas Ternyata Mentereng, Anaknya Ngaku Hidup Sederhana, Ketahuan Bohong?

Jejak pengabdian Dwi selama hampir satu dekade terakhir di Indonesia ternyata tidak singkat.

Lulusan Sustainable Energy Technology dari Delft University of Technology, Belanda, ini diketahui aktif dalam berbagai inisiatif berkelanjutan.

Ia terlibat dalam pengembangan riset business model framework energi surya yang kini diterapkan di Pulau Sumba.

Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong akses energi bersih di wilayah timur Indonesia.

Di bidang lingkungan, langkahnya juga cukup konkret. Ia memprakarsai penanaman lebih dari 10.000 pohon bakau di sejumlah wilayah pesisir, mulai dari Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, hingga Karawang.

Aksi ini ditujukan untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus menekan dampak abrasi.

Tak berhenti di situ, Dwi juga menggagas gerakan “Kawan Kompos” yang memberikan pelatihan gratis kepada ribuan orang untuk mengolah sampah organik dari rumah.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari edukasi pengelolaan limbah berbasis komunitas.

Melalui akun Instagram pribadinya, ia pernah menyampaikan refleksi atas perjalanan pengabdiannya.

"Selama 9 tahun masih jauh dari sempurna, karena semua yang saya kerjakan dengan sumber daya uang, tenaga, dan segala keterbatasan yang saya miliki," ungkap Dwi melalui akun Instagramnya.

Selain itu, ia tercatat merenovasi sekolah di Sumba, NTT, serta memberdayakan lebih dari 200 ibu rumah tangga agar memiliki penghasilan melalui bisnis berkelanjutan.

Kontroversi mungkin telah membentuk persepsi publik dalam waktu singkat.

Namun, rangkaian aktivitas sosial dan lingkungan yang dijalankan Dwi menunjukkan bahwa cerita tentang dirinya tidak berhenti pada satu unggahan semata.

Baca juga: Oversharing Berbuntut Polemik, Tercoreng Pencapaian Dwi Sasetyaningtyas, Suami Kembalikan Dana LPDP

PENERIMA LPDP - Tere Liye komentari viralnya Dwi Sasetyaningtyas
PENERIMA LPDP - Tere Liye komentari viralnya Dwi Sasetyaningtyas (Instagram/@sasetyaningtyas)

Sentilan Menohok Tere Liye untuk penghujat Dwi Sasetyaningtyas

Di tengah hujan kritik, penulis produktif Tere Liye muncul dengan 'pembelaan' yang tajam.

Ia menilai respons publik, pejabat, hingga tokoh terhadap video Dwi sudah masuk kategori "super lebay" atau berlebihan.

Tere Liye mempertanyakan mengapa kesalahan administratif atau pilihan pribadi seseorang justru lebih dihujat daripada kejahatan luar biasa seperti korupsi.

"Duh, yang jelek-jelekin Indonesia itu adalah yang korupsi, bancakan uang rakyat lewat proyek-proyek. Yang nepo baby, yang nyuap. Hanya karena dia bilang 'cukup saya saja yang WNI', itu sih pendapat dia," tegas penulis novel Negeri Para Bedebah tersebut.

Meski mengakui tidak menyukai konten video Dwi yang dianggap "haus validasi", Tere mengajak masyarakat untuk bercermin.

Ia menyayangkan netizen yang begitu garang mengkritik alumni LPDP namun bungkam terhadap isu-isu besar seperti pelemahan KPK atau kerusakan lingkungan skala nasional.

"Apa sih dosa dari orang ini? Apakah dia nyuri? Korup? Zolim? Jika tidak, abaikan saja video haus validasinya," pungkas Tere Liye.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi publik dan para penerima beasiswa negara mengenai batasan antara ranah privat, komunikasi publik yang bijak, serta esensi pengabdian yang sesungguhnya kepada Tanah Air.

(TribunTrends/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.