Ini Sosok JMH, Wiraswasta yang Nekat Mengaku Polisi dan Aniaya Tiga Karyawan SPBU di Pulogadung
Moch Krisna February 25, 2026 09:01 AM

 





TRIBUNSUMSEL.COM --
Sosok Pria berinisial JMH ditangkap atas kasus penganiayaan terhadap  tiga karyawan SPBU Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur,

JMH yang sempat mengaku anggota Polri ketika melakukan penganiayaan ternyata berbohong.

Adapun profesi asli dari JMH pria ngaku polisi ternyata seorang Wiraswasta.

Hal tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto melansir dari Kompas.com, Rabu (25/2/2026)..

 "Pelaku berinisial JMH telah diamankan dan dipastikan bukan anggota kepolisian, melainkan warga sipil berprofesi wiraswasta," kata Budi.

Pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, tim gabungan Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur dan Unit Reskrim Polsek Pulogadung menangkap pelaku di Rawalumbu, Bekasi Timur.

Pelaku kemudian dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur.

Nomor polisi pada kendaraan yang digunakan pelaku juga tidak sesuai dengan peruntukannya.

 

PENGANIAYAAN - Seorang pria menganiaya tiga karyawan SPBU hingga babak belur di Kelurahan Cipinang, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu, (22/2/2026), sekitar pukul 22.24 WIB. Polisi mengungkap identitas pelaku penganiayaan terhadap tiga pegawai SPBU di kawasan Cipinang, Jakarta Timur yang videonya viral di media sosial. Setelah diburu dan diamankan pelaku yang berinisial JMH dipastikan bukan anggota kepolisian, melainkan warga sipil berprofesi wiraswasta.
PENGANIAYAAN - Seorang pria menganiaya tiga karyawan SPBU hingga babak belur di Kelurahan Cipinang, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu, (22/2/2026), sekitar pukul 22.24 WIB. Polisi mengungkap identitas pelaku penganiayaan terhadap tiga pegawai SPBU di kawasan Cipinang, Jakarta Timur yang videonya viral di media sosial. Setelah diburu dan diamankan pelaku yang berinisial JMH dipastikan bukan anggota kepolisian, melainkan warga sipil berprofesi wiraswasta. (Tribun jakarta/Bima)

 

Kronologi Kejadian

Mukhlisin (38), salah satu staf SPBU, menuturkan kejadian bermula dari proses pengisian Pertalite.

Secara data, barcode pelanggan terdaftar, namun kendaraan yang digunakan tidak sesuai dengan identitas yang tercantum dalam sistem. 

"Sebenarnya pihak customer tersebut mengisi Pertalite, dan nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan digambar di EDC tersebut. Jadi kan peraturan nomor di nopol sama mobil harus sesuai di EDC SPBU," tutur Mukhlisin saat ditemui, Senin (23/2/2026).

Petugas kemudian menyarankan pelanggan menggunakan jenis Pertamax sesuai prosedur operasional standar (SOP). "Disarankan ke Pertamax.

Kalau yang di Solar paling kita sarankan ke Pertamina Dex. Ada pilihan sih sebenernya," jelas Mukhlisin. "Dari pihak customer-nya itu menyebut 'Ini mobil jenderal'. 

Terus di video juga dia menyebut bilangnya 'kapolda' gitu. Ada narasi, ada kata-kata 'kapolda' ketika dia ngebentak-bentak gitu tadi," tuturnya.

Mukhlisin, mengatakan, ketiga korban adalah dua operator dan satu staf, yakni Khoirul Anam, Lukmanul Hakim, dan Abud Mahmudin, mengalami luka memar hingga gigi copot setelah dianiaya pelaku JMH.

"Kalau Khoirul Anam itu di pipi, tamparan pipi. Terus yang Lukman itu di rahang sebelah kanan. Terus yang Abud di bawah mata, sama di pipi deket mulut, jadi giginya otek," jelas Mukhlisin. 

Pihak SPBU telah melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polsek Pulogadung.

"Tadi pagi sekitar pukul 09.00 WIB langsung melapor ke Polsek. Tadi sudah ke sini Propam Polda Metro Jaya Minta keterangannya saja terkait video tersebut," lanjutnya.

 

Diancam Dibunuh

Salah satu korban Lukman Hakim (19) mengaku dianiaya dan mendapat ancaman pembunuhan dari seorang pelanggan yang mengaku aparat. 

"Saya dipukul bolak-balik sama dia. Nah, baru saya lari ke belakang, lari ke mes dikejar sama dia. Dia ngomong kan, 'Lari lu, mau ke mana lu, mau mati sekarang lu?' dia bilang kayak gitu. Nah, enggak lama saya lari ngibrit ke sana-sana, ke belakang mes deh dikejar terus," ucap Lukman.

Lukman mengatakan, warga sekitar sempat berteriak menyuruhnya berlindung ke Polsek Pulogadung yang berada di depan SPBU.

 "Warga ngomong langsung bilang, 'Bang, ke Polsek saja Bang.' Nah, ya sudah saya lari ke Polsek. Nah, kirain saya dia ngikutin ke Polsek. Ya sudah ternyata dia pas saya ke Polsek dia sudah pulang," lanjut Lukman.

Diduga Dalam Keadaan Mabuk Lukman Hakim menyebut terduga pelaku yang mengaku aparat diduga dalam kondisi mabuk saat menganiaya karyawan SPBU.

 "Kata orang-orang saat itu sih seperti habis itu (mabuk), Cuma saya enggak tahu juga habis isap, minum apa enggaknya," kata Lukman Hakim.

Lukman berupaya melarikan diri ketika penganiayaan terjadi. Namun pelaku mengejar korban hingga keluar area SPBU. "Dia ngajakin ribut begitu. Pas saya sama staf mundur dia nantangin, loncat-loncat (seperti kuda bertinju) sampai ke luar-luar jalanan begitu, kayak nantangin," ujarnya.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.