SRIPOKU.COM- Di tengah duka atas kematian anaknya, Lisnawati, ibu kandung dari NS (12) yang tewas diduga akibat penganiayaan ibu tiri di Sukabumi, Jawa Barat, mengambil langkah hukum dengan melaporkan mantan suaminya, AS, ke pihak kepolisian pada Selasa (24/2/2026).
Lisnawati menduga terdapat unsur kelalaian dan pembiaran saat kondisi korban memburuk sebelum meninggal dunia.
Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, mengatakan pihaknya telah menyerahkan sejumlah barang bukti kepada penyidik, termasuk percakapan WhatsApp antara kliennya dan AS ketika korban dalam kondisi kritis.
“Betul, betul, itu yang menjadi bukti,” kata Krisna dalam dialog Kompas Malam, KompasTV, Selasa.
“Ada beberapa chat yang kita sudah serahkan bukti-bukti tadi ke penyidik, seluruh chat sudah kita serahkan ke penyidik,” imbuhnya menegaskan.
Krisna mengungkapkan, dalam percakapan tersebut AS memberi tahu bahwa anak mereka sedang sakit.
Namun saat Lisnawati meminta agar korban segera dibawa ke rumah sakit, permintaan itu tidak langsung ditindaklanjuti.
Ia juga menyebut ada pesan berbahasa Sunda yang maknanya dinilai tidak pantas disampaikan dalam situasi kritis.
“Ada kalimat pakai bahasa Sunda yang saya enggak mengerti ya di dalam chat WA-nya itu, yang menurut klien saya artinya bahwa ‘yaudalah kalau paling mati nanti dikubur aja katanya di dekat bapaknya’. Lah ini dalam keadaan kritis. Kenapa harus ditunggu, kenapa enggak langsung dibawa ke rumah sakit?,” kata Krisna.
Atas isi percakapan tersebut, pihak Lisnawati menduga adanya kelalaian, pembiaran, dan penelantaran yang dilakukan AS terhadap anaknya sebelum meninggal dunia.
“Kami duga ada kelalaian, pembiaran, dan pelantaran,” tegasnya.
Baca juga: Pintar Akting, Tabiat Asli Ayah NS 12 Kali Menikah Terungkap, Nelangsa Mantan Istri Jadi Korban KDRT
Kasus kematian Nizam Syafei atau NS (12) menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan penganiayaan di balik luka bakar yang ditemukan di sekujur tubuhnya.
Peristiwa ini menyeret perhatian luas karena awalnya kematian bocah tersebut disebut akibat sakit panas tinggi.
Namun, keterangan medis justru mengarah pada dugaan kekerasan fisik, yang kemudian memunculkan pertanyaan besar soal alibi yang sempat disampaikan ibu tirinya kepada sang ayah.
Anwar Satibi, ayah kandung Nizam, mengaku semula mempercayai penjelasan istrinya terkait kondisi anaknya.
Dalam wawancara di podcast Denny Sumargo, Anwar menceritakan bahwa ia tidak langsung menaruh curiga ketika istrinya menyebut luka melepuh di tubuh Nizam sebagai dampak panas tinggi.
Saat pertama kali membawa Nizam ke Rumah Sakit Jampang Kulon, Anwar masih berpegang pada keterangan tersebut.
Ia bahkan menirukan langsung penjelasan istrinya kala itu.
“Istri saya menjawab, ‘Ya, ini kan sakit panas ya, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang suka panas, kalau panasnya berlebihan suka melepus seperti ini, seperti kesiram air panas katanya gitu’,” ujar Anwar.
Alibi itulah yang awalnya diyakini Anwar sebagai penyebab kondisi putranya.
Ia menerima penjelasan tersebut tanpa banyak pertanyaan, karena disampaikan dengan seolah masuk akal.
Keyakinan itu runtuh ketika dokter perempuan yang menangani Nizam memberikan penegasan berbeda, bahkan di hadapan istrinya.
Hati bak hancur tahu fakta jika ada dugaan istrinya penyebab sang anak meninggal dunia.
“Dia cek, cek, cek itu di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya.
Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong. Di depan istri saya yang dokter perempuan itu ya.
Dokter perempuan itu ngomong lantang loh,” tegas Anwar.
Pernyataan tersebut menjadi titik balik bagi Anwar.
Ia mengaku baru menyadari ada kejanggalan setelah mendengar langsung penjelasan medis itu.
“Oh saya ini kan Bang udah enggak muda. Maksudnya udah agak lama ya. Saya baru kali ini melihat orang sakit panas sampai pada melepuh gitu kulitnya. Apalagi dikuatkan dengan pernyataan doktor ke saya. Ini bukan karena sakit. Ada luka bakar. Luka bakar,” ungkapnya.
Setelah pemeriksaan, Nizam dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif. Namun sekitar dua jam kemudian, nyawanya tak tertolong.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, dokter sempat memanggil Anwar agar mendampingi putranya.
“Justru saya nge-dzikirin, ‘tolong dituntun, katanya anaknya’. Dituntun berdoa gitu, dzikir.
Udah gitu anak saya lewat. Udah enggak ada napas,” kenangnya pilu. Saat dokter menanyakan kemungkinan tindakan CPR, Anwar memilih menolak.
“Dokter kan nanya ini mau, mau di apa? Kata saya jangan, jangan. Kasihan kata saya,” ucapnya.