Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah
mufti February 25, 2026 09:35 AM

T.A. SAKTI, penerima Kehati  Award  dari Yayasan Kehati ahun 2001, melaporkan dari Gampong Ujong Blang, Mukim  Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya

Bucue, sebuah kampung  berusia tua di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh. Hal ini dibuktikan dengan dua  situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis  itu terletak di Meunasah Jambee, salah satu dusun dari tiga dusun di Bucue. Di ujung paling timur Meunasah Jambee terhampar sebuah perkuburan lama.

Menurut penuturan para sesepuh kampung, pemilik kuburan itu adalah para pendatang dari Pase,  Aceh Utara.  Selain kuburan yang luas, sebuah kolam tua yang  besar juga masih ada sampai sekarang. 

Dekat kolam  itu, sebidang tanah  luas, yang hingga sekarang digelari “Tanoh Meulasah” (tanah milik gampong) dan sepetak sawah “Umong Ie Bu” (sawah bubur puasa) juga masih ada.

Satu situs lainnya adalah Kubu Teungku Raja Imum di ujung barat Meunasah Jambee. Kemungkinan besar, beliau adalah ‘teungku’ atau guru agama Islam bagi warga asal Pase yang mendiami kampung baru.

Sampai sekarang, warga Bucue Meunasah Jambee dan sekitarnya, setahun sekali mengadakan “khanduri blang” (kenduri sawah) di makam Teungku Raja Imum.

Pada abad ke 7 H/13 M Kerajaan Islam Pasai diserang oleh sebuah kekuatan  luar, maka terjadilah pengungsian penduduk dari kerajaan  itu ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok pengungsi  menetap di Gampong Bucue dan satu rombongan lain menetap di kampung lain yang sampai sekarang masih digelari  Meunasah Pasee (Kampung Pasai). Lokasinya dekat Gampong Tiba, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Kata “tiba”, berarti setelah sampai di situ menetaplah mereka di situ, lalu membangun meunasah.

Gampong rebutan

Pada abad ke-19,  saat kontrol  kekuasaan pusat Kerajaan Aceh Darussalam ke daerah-daerah sudah melemah, terjadilah konflik antara uleebalang (hulubalang) di Aceh  yang saling memperluas wilayah. Peristiwa ini disebut  periode Perang Pageue  (perang pagar), Perang Meusunoh Lhok (perang perebutan wilayah).

Dalam Nazam Akhbarun Na’im, karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum yang ditulis tahun 1270 H/abad ke-19 M, kita jumpai  kritikan pengarang terhadap Perang Meuseunuh Lhok ini, antara lain, sebagai berikut:

Ladom muprang meuseunoh lhok, dijih dawok tueng kuwala

Sare pungo baktueng nanggroe, raja pindoe jen peudaya

Sabab harok baktueng wase, rakyat mate dum meukeuba

Soehan teungoh ka jirampaih, sinyan salah bak Peutua

(Terjemahan:  Orang berperang merebut daerah, mereka sibuk rampas pelabuhan. Semua gila rebut negeri, hulubalang keji setan perdaya. Sebab, enak terima upeti, rakyat mati tak dikira. Siapa tak turut harta dirampas, dia salah dari Ketua).

Hal serupa juga berimbas terhadap Gampong Bucue. Gampong ini selalu jadi sumber sengketa antara Uleebalang Keumangan dengan Uleebalang Cumbok. Akibat sering bertukar penguasa, di Gampong Bucue terdapat sebuah masjid sampai sekarang, padahal dalam tradisi Aceh sebuah masjid berada pada sebuah mukim yang berlokasi  di Kandang, sebab Gampong Bucue termasuk dalam Mukim Kandang (bercahaya).

Dalam  awal tahun 1970-an, masjid ini, atas saran Teungku Ramli Titeue, diberi nama “Masjid  Al Huda”.

Masa kolonial

Saat  perang  total (1873– 1903)  melawan Belanda masih berkobar di Aceh, Gampong Bucue termasuk salah satu sentral  perlawanan terhadap Marsose (pasukan khusus Belanda). Di kampung ini berdomisili seorang Panglima Kuta Sukon bernama Teungku (Tgk) Ahmad Titeue. Kuta Sukon (benteng Sukon) terletak di Gampong Sukon dekat Kota Sigli.

Terakhir, panglima ini berhasil ditawan oleh Belanda, lalu dibuang ke Beutawi alias  Batavia (Jakarta sekarang).

Dalam periode perang gerilya, di Gampong Bucue terdapat dua pusat gerilyawan Aceh yang digelar “Ureueng Muslimin”(Orang Muslimin), yaitu di Lampoeh Rot Timu kawasan Meunasah Jambee dan di Kuta Trieng, Dusun Meuseujid.

Banyak pejuang dari luar Gampong Bucue ikut berjuang  dari  kedua benteng ini.

Akibat pengkhianatan mata-mata Belanda,  Benteng Lampoh Rot Timu dibakar Belanda. Salah seorang yang luput  dari musibah tersebut adalah Tgk Ibrahim alias Abi Nyak Jali.

Kemudian, Abi Nyak Jali juga syahid di Kuta Trieng akibat terjangan peluru Belanda. Abang beliau, Tgk Hasan, ditawan Belanda dan dibuang ke Beutawi.

Tahun 1326 H,   dalam persembunyian di kedua benteng “Ureueng Muslimin” di Gampong Bucue itu, Tgk Ibrahim selesai menyalin Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil).

Saat itu, perang melawan Belanda di Aceh sudah berlangsung 37  tahun yang bermula tahun 1289 H (1873 M). Tahun 2007 kajian hikayat itu  diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Aceh dengan judul Hikayat Muda Balia.

Bale seumeubeuet              

Sejauh yang masih terkambam (melekat) dalam ingatan saya, Tgk Seumeubeuet (guru mengaji) di Gampong Bucue bernama Tgk Nyak Khatijah. Rumah beliau di sekitar lapangan sepak bola sekarang, dekat ‘jeumatan’ (jembatan). Ke rumah itulah putra-putri Gampong Bucue belajar mengaji  Al-Qur’an dan menimba ilmu agama saat itu, termasuk ibunda saya.

Setelah Tgk Nyak Khatijah meninggal, pusat pengajian di Bucue berpindah ke Meulasah Jambee, hingga dulu dusun itu sering disebut “Tumpok Teungku”.

Ketika saya  masuk SMAN Sigli (1972), muncul  Bale  Seumeubeuet baru di Bucue Meulasah Jambee, yang diasuh oleh Tgk Muhammad  Amin Usman selama beberapa tahun.

Setelah saya merantau kuliah ke Banda Aceh tahun 1975 tumbuh ‘bale semeubeuet’ (tempat pengajian)  baru  lagi di Bucue, di bawah asuhan Tgk M Hasan  Amin, dibantu istri beliau, Tgk Nyak Hamidah binti Bansu Sulaiman.

Tempat ‘seumeubeuet’ ini di Dusun Meunasah Pi. Kemudian, hadir pula  ‘bale semeubeuet’ di Dusun Meuseujid, dipimpin Tgk Muhammad Nur (Aceh: Tgk Mat Nu).

Mengingat  di Aceh sekarang sudah ada lembaga resmi  pengelola pendidikan agama, yaitu Dinas Pendidikan Dayah, diharapkan dinas ini juga peduli terhadap ‘bale seumeubeuet’ yang cukup banyak di Aceh dan kiranya Dinas Pendidikan Dayah ini diubah namanya menjadi “Dinas Pendidikan Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Aceh”.

Gampong berkesenian

Meunasah Pi lebih berperan sebagai dusun kesenian Aceh. ‘Rapai pulot’ cukup terkenal di sana tempo dulu. Syekh Basyah cukup populer dalam hal menabuh rapai,  meski  beliau tak pernah melantunkan  lagu.

‘Aneuk pulot’ (anak penari) cukup terkenal bernama Bansu yang mampu mengambil uang koin dengan lidah,  saat melenturkan badan ke belakang.

Tahun 1976, bangkit kembali piasan (seni) rapai di Meunasah Pi.

Tahun 1972, tradisi membaca Dalail Khairat tumbuh di Bucue yang dipimpin Tgk Ramli. Acara baca Dalail bergilir pada malam Senin dan Jumat, berlansung di Meunasah Jambee.

Saya pernah ikut berjalan kaki lewat pematang sawah  8-9  kilometer di malam hari, menyertai rombongan baca Dalail yang diundang ke Gampong Keumangan, Kecamatan Mutiara, Pidie. Demikianlah, kisahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.