Pemerintah Provinsi Bali lakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Kerjasama Pemenuhan Hak Administrasi Kependudukan bagi Anak Terlantar di Provinsi Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, pada Selasa 24 Februari 2026.
Pada sambutannya, Gubernur Bali, Wayan Koster mengungkapkan, tak menyangka di Bali terdapat anak putus sekolah dengan jumlah yang cukup banyak.
“Belum pernah saya pikirkan untuk hal ini, jadi saya langsung respon dan gerak cepat untuk tandatangan MoU berkaitan dengan penanganan anak terlantar di Provinsi Bali,” jelas Koster.
Lebih lanjutnya, Koster mengatakan, dipaparkan di Bali terdapat sekitar 20 ribu anak putus sekolah dan di antaranya 3 ribuan kategori anak terlantar.
“Ini angka kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Bali 4,4 juta dia jumlahnya kecil. Tapi 3 ribu ini jika dikaitkan statusnya dengan anak terlantar jumlahnya besar, jangankan 3 ribu, seribu pun besar, banyak itu,” imbuhnya.
Karena itu, kata Koster, ini harus menggugah kesadaran bersama untuk mengatasi anak terlantar di Provinsi Bali yang selama ini luput dari perhatian semua pihak termasuk dirinya sebagai Gubernur Bali.
Ia juga mengungkapkan terima kasih kepada Kajati Bali untuk inisiatif dan prakarsa-nya mengambil posisi bersikap menangani anak terlantar.
Tindak lanjuti MoU tersebut, Koster mengungkapkan, bersama Wali Kota/Bupati se-Bali akan mengadakan rakor penanganan anak terlantar di Provinsi Bali.
Akan dibuat panduan lanjutan serta bersinergi ditingkat perangkat daerah dengan beberapa instansi terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Kependudukan, Dinas Pendidikan dan dinas lain sampai turun ke Kepala Desa, Perbekel dan Desa Adat.
“Kita harus jemput bola berbasis desa dan desa adat untuk temukan anak-anak terlantar yang ada di semua wilayah Provinsi Bali. Agar negara ini hadir menyelesaikan anak-anak ini dengan skema kebijakan yang dijalankan bersama-sama, sebagaimana arahan Jaksa Agung Muda. Saya mohon kita semua bersinergi berkolaborasi harusnya tidak perlu waktu lama ini kita selesaikan,” pungkasnya.
Data anak putus sekolah dan terlantar di Bali paling banyak ditemui di Buleleng, Jembrana dan Karangasem.