TRIBUNSUMSEL.COM - Sosok Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa LPDP viral karena membanggakan anaknya jadi warga negara Inggris, kini masih menjadi sorotan.
Tak hanya soal status kewarganegaraan anaknya yang menjadi WNA, perilaku masa lalu perempuan yang akrab disapa Tyas ini mulai dikuliti oleh orang-orang yang mengaku mengenalnya.
Kehebohan ini bermula dari unggahan akun @ceritamakvee di platform Threads yang mencoba melihat situasi Dwi dari sudut pandang psikologis.
Baca juga: Rekam Jejak Dwi Sasetyaningtyas Alumni LPDP Viral Anaknya Jadi WNA, Pernah Ribut dengan Sarah Sechan
Akun tersebut menduga bahwa perilaku emosional yang kerap ditunjukkan Dwi di media sosial merupakan dampak dari kelelahan kronis (burnout), hingga potensi depresi pascapersalinan karena tinggal di luar negeri tanpa sistem pendukung (support system).
Namun, analisis tersebut dipatahkan oleh komentar seorang netizen yang mengaku sebagai kakak kelas sekaligus mantan penyedia jasa layanan untuk Dwi Sasetyaningtyas dan keluarga.
Akun bernama @artbynega mengungkapkan bahwa perilaku temperamental Dwi bukan disebabkan oleh kelelahan sebagai ibu, melainkan memang karakter asli sejak lama.
"no kak, dia dan suaminya dari dulu emang entitled begitu kok. saya kenal personally dgn mereka waktu mereka pake jasa saya beberapa waktu," tulis akun @artbynega.
Ia menambahkan bahwa Dwi dikenal mudah mengamuk dan sering memaki orang lain, terutama dengan orang tuanya.
Bahkan, ia menyebut Dwi merasa memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang lain meskipun berhadapan dengan kakak kelasnya sendiri.
"Mbak Saset ini emang mudah ngamuk, mudah maki orang. merasa mereka lbh tinggi dari orang lain, padahal saya kakak kelas alumninya," tulisnya.
"Saya menyaksikan sendiri mbak ini tantrum ke orang tuanya meledak-ledak, ke vendor lain," lanjutnya.
Baca juga: Dwi Sasetyaningtyas Tantang Bukti Usai Disindir Pakai Uang Pajak Negara Buntut Beasiswa LPDP
Akun @ayud.ya juga mengaku trauma dengan perlakuan Tyas beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, tetangga Tyas juga membenarkan perlakuan buruknya.
Ia pun menyarankan Tyas untuk segera mencari pertolongan ke ahli.
"Ybs tetanggaku di Limo Depok, relate dengan pengalaman kaka. Buah busuk ngga usah dicucuk emang, pada waktunya dia jatuh sendiri," tulisnya.
Ia mengatakan kalau Tyas pernah menyidang tetangganya tengah malam untuk satu urusan.
"Cerita traumatik tetangga lain juga ada karena disidang Saset tengah malam. Semoga ybs nyari pertolongan ya, supaya karakternya bisa bertumbuh ke arah yg konstruktif krn dia juga sedang mengasuh dan mendidik karakter 2 anaknya," tulisnya
.
Nama Dwi Sasetyaningtyas ternyata bukan kali ini saja membuat kontroversi.
Melansir dari Wartakota.com, Ia ternyata pernah bersiteru dengan artis Sarah Sechan tepat dua bulan lalu pada Desember 2025.
Keduanya terlibat perseteruan di Threads perkara industri kelapa sawit.
Awalnya Sarah Sechan mengimbau masyarakat agar mengurangi makan gorengan dan produk olahan sawit lainnya sebagai bentuk untuk mengurangi deforestasi di Indonesia.
Menurut Sarah Sechan, hal itu bisa menjadi efektif karena bisa menekan produksi sawit yang biasanya pembukaan lahannya merusak hutan.
Namun demikian, reaksi Sasetyaningtyas ternyata cukup vokal.
Wanita yang kini menetap di Inggris itu menyebut ajakan Sarah Sechan omong kosong dan tidak bisa menghentikan deforestasi di Indonesia.
Sebab kata Tyas, minyak kelapa sawit paling efisien untuk menjadi minyak goreng karena membutuhkan lahan lebih kecil.
Oleh karena itu Tyas meyakini kerusakan hutan saat ini ialah karena perusahaan sawit yang tidak peduli dengan lingkungan dalam menjalankan bisnisnya.
Tyas pun menyebut orang yang kampanye stop penggunaan minyak kelapa sawit sebagai pahlawan kesiangan dan menuduh buzzer.
Tidak terima dengan pernyataan Tyas, Sarah Sechan kemudian menyebut Tyas sebagai bocah halu karena menuduhnya sebagai pahlawan kesiangan hingga buzzer.
Namun perdebatan keduanya pun berhenti setelah Sasetyaningtyas meminta maaf kepada Sarah Sechan.
Sarah Sechan pun menerima permintaan Tyas dan bersedia menghapus unggahan konfliknya dengan Tyas.
Pun dengan Tyas juga menghapus unggahannya yang menyindir Sarah Sechan.
kasus ini bermula ketika Dwi Sasetyaningtyas (DS) mengunggah sebuah video yang menampilkan dokumen kewarganegaraan asing milik anaknya.
Dalam video itu, ia melontarkan kalimat yang memicu kontroversi:
“Cukup saya aja yang WNI, anak-anakku jangan.”
Ucapan tersebut segera menjadi trending topic di platform X (dahulu Twitter).
Banyak warganet merasa tersinggung, mengingat DS dan suaminya pernah menempuh pendidikan tinggi berkat dana pajak rakyat Indonesia.
Sikap yang ditunjukkan dianggap meremehkan arti kewarganegaraan Indonesia.
Tak berhenti di situ, publik juga menyoroti dugaan adanya privilese yang melekat pada DS, karena latar belakang keluarga mertua disebut-sebut berasal dari kalangan mantan pejabat kementerian.
Menyadari kegaduhan yang timbul, DS kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengakui bahwa pernyataannya tidak tepat dan menyinggung banyak pihak.
Namun, permintaan maaf tersebut belum mampu meredakan desakan publik.
Baca juga: Harta Kekayaan Syukur Iwantoro Mertua Dwi Sasetyaningtyas, Anak Diwajibkan Kembalikan Dana LPDP
Diskusi di media sosial justru bergeser pada tuntutan agar sistem pengawasan alumni LPDP dievaluasi secara menyeluruh, sehingga kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.
Imbas dari konten Dwi Sasetyaningtyas, suaminya Arya Iwantoro kini harus menerima nasib terancam diwajibkan mengembalikan dana beasiswa LPDP.
Pasalnya, Arya dinilai belum menuntaskan kewajiban sebagai penerima LPDP lantaran memilih langsung bekerja keluar negeri setelah dua tahun lebih.
Merespons kegaduhan di media sosial, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dana beasiswa LPDP milik suami DS akan segera dipulangkan ke kas negara.
Melalui koordinasi Plt Direktur Utama LPDP, penerima beasiswa tersebut akhirnya sepakat untuk mengganti seluruh biaya pendidikan yang telah diterimanya setelah kasusnya menjadi sorotan publik.
"Bosnya LPDP sudah berbicara dengan suami yang bersangkutan. Dan dia sepertinya sudah setuju untuk mengembalikan uang yang dipakai dari LPDP. Jadi termasuk bunganya loh. Uang LPDP kan kalau saya taruh uang itu di bank, ya kan ada bunganya, kan dengan treatment yang fair,” ujar Purbaya mengutip Kompas.com Senin (23/2/2026).
Tak Sekedar mengembalikan uang, Purbaya juga menyebut akan memberikan sanksi berupa memasukan nama bersangkutan ke dalam daftar hitam (blacklist) sehingga tidak bisa bekerja di lingkungan pemerintahan.
"Kalau gitu nanti saya akan blacklist dia di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk," tegas Purbaya.
Dengan pemberlakuan blacklist tersebut maka Dwi tidak bisa bekerja di lingkungan pemerintahan Indonesia.
Purbaya mengingatkan jangan menghina negara Anda sendiri.
"Kalau enggak patriotis enggak apa-apa tapi jangan menghina negara deh. Itu saya ngingatkan kepada teman-teman yang lain dari LPDP dan saya pastikan yang ini akan di-blacklist betulan dengan serius ya," ucap Purbaya.
Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso mengungkapkan AP sempat curhat bahwa dirinya sedih atas polemik yang menimpa keluarganya.
AP mengaku sedih gara-gara ulah sang istri, keluarganya jadi sorotan se-Indonesia.
"Tadi pagi sudah kita tindaklanjuti antara jam 9 sampai jam 10, kita lakukan secara zoom pemeriksaan terhadap saudara AP. Saya dapat kesan, AP kooperatif dan memberikan seluruh data dan memahami terjadinya polemik. Secara tidak langsung yang bersangkutan sedih juga atas polemik yang muncul akibat tindakan istrinya," ujar Dwi Larso.
Dari hasil pemeriksaan hari ini, pihak LPDP menemui sejumlah fakta dari suami Tyas.
Rupanya AP tidak dibiayai penuh hingga lulus S3 karena ia lulus lebih lama dari perjanjian LPDP.
"Yang jelas kan kita klarifikasi, kita juga cocokkan data mulai daftar kapan, melakukan persiapan keberangkatan, setelah master apa yang dilakukan, kesempatan lanjut ke S3, kapan selesainya, LPDP kapan pembiayaannya. Karena LPDP tidak membiayai total sampai yang bersangkutan selesai karena yang bersangkutan selesai melewati masa studi yang diharuskan oleh LPDP," kata Dwi Larso.
Selain itu, AP juga mengaku ada konsep dari LPDP yang disalahpahami olehnya sehingga ia terancam dikenai sanksi.
"Kami juga sampaikan, atas perjanjian itu, yang bersangkutan juga memahami memang ada beberapa persepsi yang mungkin awardee salah persepsi bahwa tidak ada 2n+1 yang ditandatangani, tapi di peraturan ada," ujar Dwi Larso.
Dalam waktu dekat, pihak LPDP akan mengumumkan sanksi apa yang akan diberikan kepada suami Tyas.
Namun sanksi tersebut merujuk pada saran dari Menteri Keuangan Purbaya dalam rapat hari ini.
"Sanksi yang paling berat adalah pengembalian dana. Tadi kita lihat ada dana yang dibelanjakan untuk S2 dan S3, kita pertimbangkan itu. Sanksi berikutnya adalah pemblokiran untuk layanan LPDP di masa depan. Kalau tadi saya dengar pak Menkeu menyampaikan semacam diblacklist, semacam diblokir dari layanan LPDP," ungkap Dwi Larso.
(*)