Kerek Bali Jadi Barometer Industri Pernikahan Dunia Lewat BWF 2026, 2 Tahun Terakhir Meningkat
Putu Dewi Adi Damayanthi February 25, 2026 01:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kawasan pesisir Sanur, Kota Denpasar, Bali kembali menjadi magnet rujukan pusat industri kreatif di Pulau Seribu Pura ini.

Selama tiga hari berturut-turut terhitung sejak Jumat hingga Minggu 20-22 Februari 2026, gelaran Bali Wedding Fair (BWF) 2026 dihelat di The Meru Sanur menyedot ribuan pengunjung.

Bukan sekadar ajang pameran biasa, edisi kedua ini membawa misi besar meningkatkan standar industri pernikahan lokal agar mampu bersaing secara absolut di kancah global.

Antusiasme tahun ini terlihat dari bergabungnya sekitar 120 jenama industri pernikahan yang memenuhi area pameran.

Baca juga: Sidak Wedding Chapel di Atas Tebing Bali, Izin Belum Lengkap, Senin Depan Panggil Pemilik Usaha

Event Director BWF 2026, Ferdiansyah King, mengungkapkan bahwa visi utama dari perhelatan ini adalah menciptakan sebuah "rumah" bagi para pekerja industri.

Ia menuturkan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan saat melihat pasangan asal Bali justru harus terbang ke Surabaya atau Jakarta hanya untuk mencari vendor yang akan bekerja di Bali.

"Harapannya, Bali Wedding Fair nantinya bisa menjadi rumah untuk para pekerja wedding industry. Siapa yang bisa bergabung di sini bisa show up dan elevate industri ini juga," ujar Ferdiansyah saat dijumpai Tribun Bali di sela kegiatan.

Ia menambahkan bahwa tahun ini pihaknya mulai melakukan ekspansi pasar secara agresif ke mancanegara.

Dengan menggandeng vendor internasional seperti videografer asal Filipina dan pelaku industri dari India, BWF 2026 berupaya menarik kerumunan wedding destination dari luar negeri untuk melangsungkan momen sakral mereka di Bali.

Sejalan dengan semangat peningkatan kualitas tersebut, Chairwomen Bali Wedding Association, Veronika Ika Prawasti, menekankan bahwa industri pernikahan tidak boleh dipandang sebagai seremoni semata.

Menurutnya, ini adalah bagian dari experience-based tourism yang memiliki multiplier effect luar biasa bagi ekonomi Bali, mulai dari sektor hotel, transportasi, hingga tenaga kerja kreatif.

Namun, ia mengingatkan agar para pelaku industri tidak terlena hanya dengan modal keindahan alam Pulau Dewata.

"Kita tidak boleh hanya mengandalkan keindahan Bali. Keindahan adalah anugerah, namun kualitas adalah pilihan," jelasnya.

"Pilihan untuk menjaga profesionalisme, pilihan untuk membangun sistem yang solid, serta mempertahankan integritas dan reputasi," imbuh Veronika.

Ia juga mencatat adanya pergeseran tren menuju intimate wedding dan micro wedding yang lebih mengedepankan pengalaman spiritual.

Selain itu, jangkauan destinasi kini terus meluas hingga ke Lombok, Labuan Bajo, dan Sumba sebagai bagian dari ekosistem pernikahan Indonesia Timur.

Semangat kolaborasi ini juga diamini oleh General Manager The Meru Sanur, Ed Brea. 

Dalam pandangannya, industri pernikahan di Bali telah berkembang pesat sepanjang 2024-2025 dan diprediksi akan terus menanjak di 2026.

Ia menekankan pentingnya konsep gotong royong dan menaruh kepentingan destinasi di atas segalanya.

"Kita semua di sini bersama-sama sebagai Bali. Tidak masalah apakah Anda datang dari hotel kecil atau besar, pusat konvensi, atau tempat pernikahan di utara maupun selatan. Anda di sini untuk mempromosikan Bali sebagai destinasi," kata dia.

"Kita semua bekerja sama dengan prinsip 'destinasi yang utama' (destination first)," ungkap Ed Brea.

Ed Brea percaya bahwa spiritualitas dan suasana magis Bali adalah fondasi yang harus dijaga bersama oleh seluruh vendor.

Keberhasilan visi kolaboratif ini tercermin secara nyata dalam angka pertumbuhan partisipan, Director of Marketing and Communications The Meru Sanur, Melody Siagian, mencatat adanya kenaikan jumlah vendor yang cukup signifikan pada tahun ini.

Hal ini membuktikan bahwa para pelaku industri semakin percaya pada kekuatan sinergi lintas sektor.

"Kami sangat bangga karena tidak hanya mempromosikan hotel kami saja, tetapi memiliki visi yang lebih besar yaitu berkolaborasi dengan industri perhotelan lain, dekorasi, hingga wedding organizer untuk membuat Bali menjadi destinasi pernikahan sekelas dunia," paparnya.

"Dari tahun sebelumnya ke tahun ini, ada kenaikan sekitar 20 persen dari total vendor yang bergabung," pungkas Melody. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.