Bocor Isi Chat Ayah Saat Anak Kritis Dianiaya Ibu Tiri, Sibuk Bahas Pemakaman Padahal Masih Hidup
Tsaniyah Faidah February 25, 2026 02:03 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kasus kematian NS (12), seorang pelajar SMP asal Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, memasuki babak baru yang melibatkan proses hukum lebih luas.

Fokus penyelidikan kini tidak hanya tertuju pada dugaan penganiayaan oleh ibu tiri, namun juga merembet pada peran sang ayah kandung, Anwar Satibi.

Ayah korban secara resmi dilaporkan ke Polres Sukabumi oleh ibu kandung korban, Lisnawati, atas dugaan penelantaran anak.

Langkah hukum ini diambil pihak keluarga karena menilai adanya unsur pembiaran yang dilakukan Anwar saat kondisi kesehatan NS sedang memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada Februari 2026.

Sikap Anwar dianggap menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi NS tidak segera tertangani secara medis di saat-saat kritis.

Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, mengungkapkan bahwa dasar pelaporan ini diperkuat oleh sejumlah bukti digital berupa percakapan pesan singkat.

Dalam bukti yang diserahkan ke pihak kepolisian, terlihat respons Anwar yang dinilai dingin saat pihak keluarga mengabarkan bahwa kondisi NS menurun drastis dan mendesak agar segera dirujuk ke rumah sakit.

Percakapan tersebut terjadi sekitar dua hari sebelum korban mengembuskan napas terakhirnya.

Dalam tangkapan layar percakapan yang diklaim sebagai bukti awal, Anwar memberikan jawaban bahwa dirinya sedang sibuk bekerja di Kota Sukabumi ketika diberi tahu perihal kondisi anaknya yang kian memprihatinkan.

Bahkan, muncul pernyataan dari Anwar yang meminta pihak keluarga untuk pasrah atau mengikhlaskan apabila terjadi hal terburuk pada NS.

Hal yang paling menyita perhatian adalah pesan tertanggal 17 Februari 2026, di mana Anwar diduga sudah mulai membicarakan tentang penentuan lokasi pemakaman, padahal saat itu NS masih dalam keadaan hidup meski sedang kritis.

Tim kuasa hukum menilai isi pesan tersebut menjadi bukti kuat adanya pelanggaran Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Perlindungan Anak.

"Pihak keluarga menilai ada unsur pembiaran terhadap kondisi darurat kesehatan anak," jelas Krisna Murti.

Mereka mendesak agar aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan penelantaran ini secara transparan dan profesional.

Kecurigaan keluarga mengenai apa yang sebenarnya dialami NS kian menguat setelah mereka melihat kondisi jenazah korban.

Baca juga: Ungkap Kejanggalan Kematian Anak di Sukabumi, KPAI Pertanyakan Peran Ayah: Harusnya Bisa Melindungi

Pada tubuh pelajar SMP tersebut ditemukan berbagai tanda kekerasan fisik yang tidak wajar, mulai dari luka lebam di beberapa titik, bekas luka bakar, hingga kulit yang melepuh.

Temuan fisik ini memperkuat dugaan bahwa sebelum meninggal dunia, NS telah menjadi korban kekerasan yang berulang.

Secara kronologis, NS merupakan seorang santri yang sehari-harinya tinggal di lingkungan pesantren.

Ia pulang ke rumah di Surade untuk mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadan bersama keluarga.

Namun, saat berada di rumah itulah kesehatan NS menurun drastis.

Istri Anwar (ibu tiri korban) sempat menghubungi Anwar agar segera pulang dari tempat kerjanya untuk melihat kondisi sang anak.

Setibanya Anwar di rumah, NS memang sempat dibawa ke RSUD Jampangkulon untuk mendapatkan pertolongan.

Akan tetapi, upaya medis tersebut sudah terlambat karena kondisi NS sudah masuk tahap sangat kritis hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Anwar Disebut Lisnawati Tempramental

Lisnawati membongkar tabiat asli mantan suaminya selama mereka masih membina rumah tangga.

Ia menyebut bahwa Anwar Satibi adalah sosok yang sangat temperamental dan kerap melakukan kekerasan fisik atau KDRT terhadap dirinya, bahkan saat ia sedang mengandung NS.

"Temperamental, sering dipukul sering jambak. Waktu dalam kandungan juga (dibilang) sudahlah kamu mendingan meninggal juga," ungkap Lisnawati.

Baca juga: Ternyata Ayah Kandung Saksikan Anak Disiksa Ibu Tiri, Tidak Bela Korban : Istri Saya Berpendidikan

Tak sampai di situ, Lisnawati juga membeberkan perilaku Anwar yang diduga kerap berhubungan dengan wanita lain selama mereka masih menikah.

Kecurigaan itu muncul karena Anwar seringkali pulang ke rumah dengan tanda fisik yang mencurigakan di bagian leher.

"Dulu dia memang menikah sama orang lain. Saya tanya kalau pulang ke rumah banyak cupangnya (di leher)," pungkasnya.

Pengakuan soal tabiat buruk di masa lalu ini kini menjadi salah satu poin yang memperkuat alasan Lisnawati melaporkan Anwar Satibi ke pihak berwajib.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.