Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kota Palembang dikenal sebagai salah satu daerah bersejarah di Indonesia yang memiliki 18 kecamatan dengan jejak budaya dan peradaban yang kuat.
Salah satu kawasan yang memiliki peran strategis sejak masa lampau adalah Plaju.
Wilayah yang berada di tepian Sungai Musi ini tercatat memiliki peran vital sejak era Kesultanan Palembang Darussalam hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, Plaju dikenal sebagai titik penting dalam pengawasan jalur perairan.
Sungai Musi saat itu menjadi urat nadi perekonomian dan transportasi utama.
Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini bernilai tinggi, baik secara ekonomi maupun militer.
Penguasaan jalur sungai berarti mengendalikan distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Memasuki masa kolonial Belanda, fungsi strategis Plaju semakin menguat. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan kawasan ini sebagai pusat industri perminyakan.
Kilang minyak yang dibangun pada akhir abad ke-19 menjadikan Plaju sebagai salah satu sentra produksi bahan bakar terpenting di Sumatera.
Keberadaan kilang tersebut mempercepat pertumbuhan kawasan sekaligus mengubah lanskap ekonomi setempat.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), fasilitas perminyakan di Plaju menjadi aset vital yang berada di bawah pengawasan ketat militer Jepang untuk mendukung kebutuhan perang.
Setelah Indonesia merdeka, industri perminyakan di kawasan ini kemudian menjadi bagian dari aset nasional dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, khususnya di Sumatera Selatan. Hingga kini, Plaju identik dengan aktivitas industri energi.
Pegiat sejarah Palembang, Mang Dayat, menyebut terdapat beberapa versi mengenai asal usul nama Plaju.
Salah satu versi menyatakan Plaju merupakan nama anak sungai yang bermuara ke Sungai Musi. Sungai tersebut dikenal memiliki arus deras dan di sekitarnya banyak tumbuh tanaman perdu.
“Masyarakat sering menjumpai perdu kecil dengan bunga kuningnya yang disebut bunga Palajau. Versi lain mengatakan tumbuhan palajau pohonnya cukup tinggi dan buahnya bulat, termasuk tumbuhan rawa atau lebak dalam bahasa Palembang,” ujarnya melalui kanal YouTube pribadinya.
Dari era kesultanan, kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan, Plaju menjadi saksi dinamika politik, ekonomi, dan sosial di Palembang.
Kini, kawasan tersebut tidak hanya dikenal sebagai pusat industri, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas sejarah Kota Palembang sekaligus penopang pembangunan di Sumatera Selatan.