Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah
TribunGayo.com, REDELONG - Tiga bulan telah berlalu pascabencana tanah lonsor dan banjir bandang melanda Kabupaten Bener Meriah, ribuan warga dari 14 kampung di Kecamatan Mesidah masih harus bertaruh nyawa melewati jembatan bambu Wih Kanis yang kian rapuh.
Baca juga: Tiga Bulan Pascabencana, Akses Jalan Lintas KKA Bener Meriah Tak Kunjung Normal
Jembatan ini sebelumnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat untuk menghubungkan kembali akses jalan warga dari Kecamatan Mesidah dan Bandar.
Namun tiga bulan pascabanjir bandang 26 November 2025 lalu, struktur jembatan yang dibuat dari bambu sepanjang 30 meter kini mulai goyah dan belum ada tanda-tanda perbaikan secara permanen.
Padahal akses jalan ini menjadi satu-satunya urat nadi ekonomi bagi warga disana, mesti hanya bisa di akses menggunakan roda dua.
Kondisi di lapangan menunjukkan pemandangan yang menyayat hati, para petani harus bersusah payah membawa hasil kebun menuju Pondok Baru dengan perasaan waswas jika sewaktu-waktu jembatan itu roboh ke dasar sungai yang deras.
Jembatan permanen sebelumnya hancur diterjang banjir bandang dan longsor yang sempat mengisolasi warga di Kecamatan Mesidah.
Namun dalam kondisi darurat, warga bergotong royong membangun jembatan bambu agar aktivitas tidak sepenuhnya lumpuh.
Sejak saat itu warga disana hanya mengandalkan jembatan sederhana tersebut.
Petani, pedagang, hingga ibu rumah tangga setiap hari harus melewati jembatan yang jauh dari kata aman.
Hermansyah salah satu warga asal Kecamatan Mesidah kepada TribunGayo.com, Rabu (25/2/2026), mengaku jika saat ini kondisi jalan sangat memprihatinkan serta rawan terjadinya kecelakaan.
Baca juga: Jalan Menghubungkan 3 Desa di Bintang Aceh Tengah Sudah Kembali Lancar
"Belum ada tanda-tanda perbaikan, kami setiap melintas selalu was-was berulang kali kami bersuara agar jembatan ini segera di perbaiki namun tak juga terealisasi," ujarnya.
Saat ini negara seakan absen di saat warganya harus membelah bambu dan menyusun papan sendiri demi menyambung hidup.
"Kami harap pemerintah segera bertindak jangan menunggu jatuh korban jiwa baru bergerak," tegasnya.
Menurut Herman, akses jalan ini bukan sekadar soal transportasi, melainkan tentang kehancuran ekonomi akibat biaya angkut yang melambung dan pendapatan yang merosot tajam.
Perjuangan warga yang bergotong-royong membangun jembatan darurat ini seharusnya menjadi cambuk bagi pihak terkait.
Bukan malah justru dijadikan alasan untuk menunda kewajiban pembangunan infrastruktur publik.
Saat ini membiarkan ribuan jiwa melintasi jembatan bambu yang tidak layak selama berbulan-bulan adalah bentuk pembiaran terhadap keselamatan manusia.
"Kami tidak butuh empati dalam kata-kata, kami butuh solusi nyata sebelum jembatan bambu itu benar-benar memakan korban jiwa," pungkasnya. (*)
Baca juga: Anggota DPRA Tinjau Fenomena Lubang Sedalam 15 Meter di Ruas Jalan Bener Meriah