WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Keselamatan warga yang melintasi perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi terancam dan mesti ekstra hati-hati.
Jembatan Kampung Kramat, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur amblas sejak dua pekan terakhir.
Ironisnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan dari pihak berwenang, meski kondisi infrastruktur krusial tersebut kian mengkhawatirkan.
Baca juga: Sudin Bina Marga Jaktim Akhirnya Perbaiki Jalan Amblas, Sempat Bikin Pengendara Motor Ketakutan
Pantauan di lokasi pada Rabu (25/2/2026) menunjukkan jalanan mulai membentuk cekungan kecil yang siap "menelan" kendaraan kapan saja.
Sebagian badan jembatan terpaksa ditutup menggunakan barrier plastik oranye, sehingga memaksa arus lalu lintas dari dua arah mengantre panjang demi menghindari titik amblas.
Warga Khawatir Ada Korban
Warga sekitar mulai menyuarakan kekecewaan atas ketidakpekaan pemerintah dalam merespons kerusakan ini.
Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat bahwa perbaikan baru akan dilakukan jika sudah ada kendaraan yang terperosok atau memakan korban jiwa.
Supriyanto, salah seorang warga, menyebut kemacetan parah menjadi menu harian terutama saat sore hari.
"Kendaraan dari dua arah harus gantian lewat jembatan yang hanya sisa satu jalur. Belum ada petugas yang benar-benar turun memperbaiki," keluhnya.
Terkendala Birokrasi: Jembatan Wewenang PUPR
Lurah Setu, Dwi Widiastuti, menuturkan bahwa jembatan tersebut amblas akibat faktor usia dan pengikisan air secara terus-menerus.
Meski mengaku sudah bersurat ke berbagai instansi mulai dari Dinas Bina Marga hingga Kementerian PUPR, perbaikan permanen, kata dia masih sekadar rencana.
Baca juga: Jembatan Amblas, Kegiatan Ekonomi di Empat Desa Karawang Lumpuh
"Jembatan ini adalah pembatas antara DKI Jakarta dan Jawa Barat, sehingga kewenangannya ada di tangan PUPR. Kami sudah laporkan dan bersurat, namun sementara ini hanya bisa memasang spanduk imbauan agar kendaraan berat tidak melintas," tegas Dwi, Rabu (25/2).
Saat ini, kondisi jembatan dinilai sangat berisiko bagi kendaraan roda empat.
Pihak kelurahan,kata dia, hanya menyarankan kendaraan roda dua yang melintas untuk menghindari kerusakan yang lebih fatal sembari menunggu respon dari pusat.