Orang Tua Siswa di Kota Yogyakarta Keluhkan Menu MBG Ramadan: Didominasi Roti, Berujung Mubazir
Joko Widiyarso February 25, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Yogyakarta mengalami penyesuaian selama bulan Ramadan. 

Namun, perubahan menu yang didominasi oleh kudapan kering berupa roti-rotian dan sebagainya, mulai memicu keluhan dari para orang tua siswa.

​Ruswati, wali siswa di salah satu SMP negeri di Kota Yogyakarta, menceritakan, MBG yang diterima anaknya selama Ramadan ini jauh dari kata mengenyangkan. 

Jika biasanya siswa mendapatkan satu porsi makanan bergizi berupa nasi dan lauk pauk, saat ini menunya berubah menjadi paket makanan ringan.

​"Kemarin cuma roti kecil kayak donat, terus kacang telur plastik kecil, jeruk satu, sama susu kotak kecil satu. Sudah itu saja," keluhnya, Rabu (25/2/26).

​Menurutnya, anak-anak cenderung kurang suka dengan jenis makanan semacam itu, meski mau tidak mau jatah MBG tetap harus diambil.

Namun, tak jarang anaknya sama sekali tidak menyentuh makanan tersebut hingga dibawa pulang ke rumah dalam kondisi masih utuh di dalam tas.

​"Pernah enggak ambil, kalau memang enggak cocok. Karena pernah dibawa pulang tapi sama sekali enggak dibuka (dari tas). Ketahuannya baru besok paginya pas mau berangkat sekolah. Jadinya mubazir," ungkapnya.

"Makanya, kalau saya pribadi, MBG (selama Ramadan) ini enggak begitu suka. Mending diganti uang saku saja, sayang kalau kebanyakan (makanan) yang kebuang," urai Ruswati.

Perubahan mencolok 

Senada, Wardana, wali siswa di SMP negeri lainnya di Kota Yogyakarta, turut menyoroti perubahan mencolok pada menu MBG yang diterima anaknya. 

Jika sebelum Ramadan siswa bisa menikmati nasi dengan sayur, lauk, bahkan sesekali burger atau spaghetti, kini menu beralih ke konsep takjil.

​"Ramadan ini isinya jadi roti, kurma, telur rebus, onde-onde, dan kawan-kawannya. Mungkin jadi seperti ini supaya bisa dimakan nanti pas buka puasa ya," katanya.

Meski bisa memaklumi alasan di balik pemilihan menu kering tersebut, ia tetap menyimpan keraguan terkait kecukupan gizi yang terkandung di dalamnya. 

Baginya, menjamin standar dengan mengacu kosep "4 Sehat 5 Sempurna" melalui menu camilan semacam ini jelas bukan perkara yang mudah.

​"Kalau sesuai gizi atau enggaknya itu gampang-gampang susah. Karena dari metode memasak sendiri berpengaruh ke nilai gizi. Kadang sesuai, kadang juga enggak," tuturnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.