Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026/ 9 Ramadan 1447 H: Ramadan adalah Hadiah dari Allah
Dedy Herdiana February 25, 2026 08:03 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Ramadan bulan istimewa penuh berkah, hidayah, dan rezeki.

Allah memilih Ramadan sebagai bulan kita menjalankan rukun Islam yang keempat, yaitu ibadah puasa. 

Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Allah memilih, itulah yang membuatnya tidak sama Ramadan dengan bulan-bulan yang lain.

Untuk itu, sudah sewajibnya, disiapkan seawal mungkin bagi tiap muslim.

Pasalanya, setiap muslim yang balig sudah wajib tentunya menjaga, meningkatnkan, serta bermawas diri pada apa-apa yang mengarah pada kebaikan bahkan jika selama 11 bulan lainnya tidak ia kerjakan kebaikan sekalipun.

Ini menjadi konteks penting seorang muslim dalam beribadah puasa, selain menahan nafsu, lapar, dan dahaga, mereka juga patut mempuasakan seluruh indra penting anggota tubuh demi menutup berbagai kekurangan dan kebocoran pahala selama Ramadan.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026: Hikmah Menjaga Pahala Puasa di Bulan Mulia

Untuk itu, topik ini bisa menjadi bagian dari pembahasan saat penyampaian Khtubah Jumat pada hari raya mingguan seluruh umat muslim, sebagai pengingat di awal Ramadan ini.

Berikut ini TribunPriangan.com telah merangkum secara singkat satu judul topik yang bisa disampaikan para khatib di jumat ini, dengan judul "Ramadan adalah Hadiah dari Allah".

"Ramadan adalah Hadiah dari Allah"

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Ramadan adalah hadiah Allah untuk kita, saudaraku. Kenikmatan yang besar. Karena di bulan Ramadan banyak sekali pemberian-pemberian yang ingin Allah berikan kepada kita. Di antaranya adalah Allah ingin memberikan kepada kita ampunanNya. AmpunanNya yang besar tentunya sangat kita butuhkan. Karena sesungguhnya orang yang tidak diampuni oleh Allah tentu dia tidak akan merasakan surgaNya.

Saudaraku, ibadah shiyam merupakan ibadah yang agung, ibadah sangat Allah cintai, bahkan ibadah yang tidak ada tandingan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

عليك بالصَّومِ فإنَّه لا مثلَ له

“Hendaklah kalian berpuasa sesungguhnya ia tidak ada yang sama dengannya.” (HR. An-Nasa’i)

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 27 Februari 2026: 5 Esensi Bulan Suci Ramadan

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan dalam hadits ini bahwa ibadah puasa tidak ada yang sama dengannya. Itu menunjukkan betapa agung dan besarnya puasa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untukKu dan Aku yang akan memberikan pahalanya.’” (HR. Muslim)

Subhanallah, betapa agungnya puasa di sisi Allah. Oleh karena itu, janji Allah untuk orang yang berpuasa pun sangat besar. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, untuk mendapatkan pahala yang besar ini, yaitu ampunan, hendaklah memenuhi dua perkara tadi. Yang pertama, karena iman; kita beriman bahwa ini perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita taati, kita beriman bahwa perintah Allah pasti maslahat untuk kehidupan manusia, kita beriman bahwa puasa di bulan Ramadhan itu adalah kebaikan yang Allah inginkan kepada kita. Ketika kita beriman kepada Allah, kepada hari akhirat, dan bahwasanya kita berharap pahala di sisi Allah, maka saat itulah Allah akan memberikan kepada kita ampunanNya yang besar.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 20 Februari 2026: Hal Penting yang Perlu Dilakukan pada Siang Ramadan

Namun, tentunya dalam Islam tidak mungkin ibadah puasa kita akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali memenuhi beberapa syarat. Yang pertama, ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Kita tidak mengharapkan dunia, tidak mengharapkan pujian manusia. Kemudian, yang kedua, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah tidak akan diterima oleh Allah. Rasul kita yang mulia ‘Alaihish Shalatu was Salam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada di atasnya perintah kami, maka ia tidak akan diterima, ia ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim).

Maka kita berusaha bagaimana agar puasa kita mendapatkan nilai di sisi Allah yang besar, bagaimana puasa kita mendatangkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Di sana ada beberapa perkara yang harus kita perhatikan agar mendapatkan pahala besar dari puasa kita. Yang pertama, kita berusaha memperbanyak dzikir kepada Allah saat berpuasa. Al-Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa manusia yang paling utama puasanya adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah saat ia berpuasa.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 20 Februari 2026: Rugilah Orang yang Tidur Setelah Subuh di Bulan Ramadan

Ketika berpuasa, ia banyak membaca Al-Qur’an; ketika ia berpuasa, ia banyak berdzikir, mengucapkan dzikir-dzikir yang disebutkan, bahwa itu adalah kalimat-kalimat yang sangat dicintai oleh Allah. Yaitu Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar. Demikian pula, kalimat-kalimat dzikir yang lainnya yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin puasa kita dihiasi dengan dzikir kepada Allah, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang kedua, semakin besar pahala puasa kita, ketika puasa menimbulkan ketakwaan kepada Allah. Karena sesungguhnya itulah tujuan dari shaum. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian shiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)

Maka shiyam yang tidak menimbulkan ketakwaan, itu pertanda shiyam yang tidak diterima oleh Allah. Tapi ketika shiyam menimbulkan ketakwaan pada mata kita, pada telinga kita, pada lisan kita, bahkan pada hati kita, sehingga pada waktu itu mata kita jaga dari melihat apa yang Allah haramkan, kita jaga telinga dari mendengarkan sesuatu yang Allah benci, kita jaga lisan, demikian pula anggota tubuh kita dari maksiat, berarti shiyam itu telah menimbulkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka itu pertanda shiyam kita diterima oleh Allah.

Adapun ketika shiyam kita dihiasi dengan perkara yang tidak bermanfaat, sebagian ada yang menghabiskan waktu shiyamnya dengan main game, sebagian ada yang menghabiskan waktu shiyamnya dengan menonton film, sebagian lagi habis waktunya dengan media sosial, dan yang lainnya. Demi Allah itu bukanlah hakikat shiyam secara hakiki. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makan dan minum. Akan tetapi, hakikat shiyam itu menahan diri dari perbuatan yang tidak ada manfaatnya dan ucapan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Nabi menyuruh kita untuk meninggalkan perkara yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya saat kita berpuasa, saudaraku. Maka kita berusaha. Kita dididik oleh Allah agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama kita di bulan Ramadhan ini.

Khutbah II

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلv  ِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللهم تقبل صيامنا وقيامنا و جميعا عباره يا رب العالمين

اللهم اصلح ولاه امور المسلمين في هذا البلد وفي سائر بلاد المسلمين يا رب العالمين اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين اللهم واتوب علينا انك انت التواب الرحيم

عباد الله:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.