TRIBUNMANADO.CO.ID - Saksi kata kali ini menghadirkan sosok Inggrid Pangkey.
Inggrid berperan sebagai ibu dalam Pertunjukan Drama Kolosal Sejarah Peristiwa Merah Putih di Manado, Sulawesi Utara.
Peringatan Peristiwa Merah Putih yang digelar di Lapangan Koni Sario, Sabtu (14/2/2026) pagi, berlangsung meriah.
Saat itu, ratusan warga Kota Manado dan sekitarnya larut dalam suasana seolah diajak kembali ke peristiwa 14 Februari 1946, saat terjadi penyerbuan markas militer Belanda di Teling, Kota Manado.
Dalam pertunjukan tersebut, Inggrid menjadi salah satu pemeran yang memberi warna tersendiri.
Dengan suara khasnya, ia mampu membangun emosi dan membuat penonton semakin terbawa suasana.
Berikut cuplikan wawancara dengan Inggrid Pangkey yang dilakukan jurnalis Tribunmanado.co.id Petrick Sasauw.
Iya. Yang pasti bangga ya karena sejak peristiwa 46 sampai 2026 itu berarti sudah jelang 80 tahun. Nah, sepanjang 80 tahun itu peristiwa heroik Merah Putih itu baru pertama kalinya diselenggarakan secara besar-besaran dan mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, khususnya oleh Bapak Gubernur. Ini jadi momentum yang bersejarah juga. Karena event pertama kali diselenggarakan secara besar-besaran, otomatis ada perasaan bangga karena bisa menjadi bagian dari momentum bersejarah ini.
Hal yang membanggakan dari pertunjukan kolosal ini adalah selain karena mengangkat peristiwa bersejarah, keseluruhan cerita atau rangkaian cerita dari pertunjukan kolosal Merah Putih itu disutradarai oleh Gubernur kebanggaan Sulawesi Utara, Bapak Mayjen Purnawirawan Yulius Selvanus, SE.
Jadi seluruh rangkaian cerita itu beliau yang buat sendiri didampingi oleh sejarawan. Kemudian pada pementasan teknisnya dibantu dan disutradarai oleh Pak Saputro Adi Nugroho yang merupakan Tenaga Ahli Urusan Presiden Bidang Pertahanan.
Jadi memang sebuah kebanggaan sekali bisa terlibat dalam pertunjukan ini karena disutradarai secara khusus oleh Bapak Gubernur. Ini merupakan hal yang unik juga bahwa Gubernur kita adalah gubernur yang juga mencintai seni dan sangat peduli dengan kelangsungan kesenian di Sulawesi Utara.
Wah, banyak sekali. Ada ratusan. Karena ini melibatkan keturunan keluarga pahlawan yang memang ikut memerankan tokoh-tokoh pahlawan. Juga melibatkan TNI Angkatan Darat dan pegawai negeri sipil Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, bahkan ada juga PNS dari Minahasa. Jadi ini merupakan kolaborasi unsur sipil dan militer yang tergabung bersama untuk memperkuat kolosal ini.
Selain pemain yang terlihat di lapangan, ada juga pendukung di bagian properti yang jumlahnya banyak sekali. Jadi memang sangat banyak yang terlibat dalam acara pertunjukan ini.
Memang ada keterbebanan sendiri karena peran ibu itu adalah puncak emosi dari keseluruhan cerita. Dari proses perjuangan sampai kepada adegan terakhir ketika ada pejuang muda yang meninggal, tokoh itu memang nyata meninggal pada waktu itu. Peran ibu ini termasuk peran fiktif, tapi menjadi puncak emosi dari keseluruhan kolosal ini.
Jadi ada tanggung jawab khusus supaya bisa memerankan tokoh ibu ini dengan baik. Waktu itu suaranya diambil secara dubbing, direkam tersendiri, lalu diputar bersamaan ketika tampil memerankan adegan tersebut.
Ada rasa bangga karena dipercayakan sebagai pemeran penting dalam pertunjukan kolosal ini, dan juga ada rasa tanggung jawab besar karena saat latihan Gubernur sempat hadir dan memberikan penguatan karakter secara langsung.
Persiapannya dimulai hari Senin dan pentas hari Sabtu. Tapi latihan intens sebenarnya hanya tiga hari. Rabu, Kamis, Jumat. Penggabungan adegan dimulai hari Rabu. Hari Kamis tidak sempat latihan penuh karena hujan di lapangan Koni. Hari Jumat latihan penuh lagi, dan Sabtu sudah pentas. Jadi kalau dihitung-hitung, hanya dua hari latihan penuh. Bahkan sampai menjelang hari pementasan masih ada penambahan narasi dan mixing musik untuk memperkuat adegan.
Awalnya keterlibatan saya di drama kolosal ini bukan sebagai pemain. Saya diminta bergabung untuk penguatan karakter pemain. Karena belum dapat pemeran ibu yang tepat, maka ditunjuklah saya secara tiba-tiba oleh Pak Sutradara. Kalau ditanya gugup ya pasti gugup, karena waktu latihan tidak lama dan tampil di depan para petinggi daerah serta keluarga pejuang. Tapi niatnya bagaimana supaya peran ini bisa menggugah banyak orang dan meninggalkan kesan yang baik bagi penonton.
Memang background saya dari kuliah sudah terlibat di organisasi teater. Sering juga melakukan pelatihan di sekolah-sekolah untuk lomba. Jadi sudah cukup lama beraktivitas di bidang teater.
Saya bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara. Alumni UNIMA, S1 dan S2 di sana. Teater sudah saya geluti sejak lama, mulai dari sekolah minggu sering main drama Natal. Lingkungan keluarga juga seni, papa saya dosen seni rupa dan sering tampil dalam drama gereja. Jadi sejak kuliah saya ikut organisasi teater dan kemampuan diasah melalui latihan intens.
Sekarang organisasi teater di Sulawesi Utara sudah banyak. Khusus di Gereja GMIM setiap tahun ada lomba teater tingkat remaja sampai pemuda. Di KGPM juga ada kegiatan seni kepemudaan dengan lomba teater. Banyak teater berbasis gereja dan keagamaan yang tumbuh, serta sanggar-sanggar teater mandiri yang masih eksis sampai sekarang. Ini hal yang positif karena banyak anak muda terlibat dalam kegiatan seni.
Karena ini langkah pertama dipentaskan secara kolosal, tentu secara teknis ada kekurangan. Tapi ini momentum besar dan awal yang baik untuk memicu pementasan peristiwa-peristiwa heroik lain. Supaya masyarakat dan pelajar lebih tahu bahwa di Sulawesi Utara banyak peristiwa heroik bermakna bagi kemerdekaan Indonesia.
Harapannya, generasi muda paham bahwa 14 Februari bukan hanya hari Valentine, tapi juga hari kasih sayang kepada negara, mengenang pejuang muda yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap negara demi tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Supaya setiap organisasi teater terus berkembang dan melahirkan seniman-seniman unggul yang bisa terlibat dalam pementasan kolosal, bahkan memproduksi pertunjukan yang mengangkat nama baik dan kisah-kisah heroik daerah Sulawesi Utara.
Demikian saksi kata rekonstruksi peristiwa bersama narasumber utama. Terima kasih.
Baca juga: Pertunjukan Drama Kolosal Sejarah Peristiwa Merah Putih di Manado, Warga: Kami Sangat Bangga