Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Samsul Hadi
TRIBUNJATIM.COM, BLITAR - Momen Ramadan 2026 membawa berkah tersendiri bagi Mujiono (44), perajin bedug asal Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Pesanan bedug meningkat tajam dibanding bulan-bulan biasa, bahkan ia telah menerima 10 pesanan sejak menjelang Ramadan.
"Pesanan bedug ramainya hanya pas Ramadan saja. Di luar Ramadan, jarang ada pesanan bedug," kata Mujiono, ditemui di sela-sela mengerjakan pesanan bedug di rumahnya, Rabu (25/2/2026).
Saat itu, Mujiono sedang menghaluskan kayu bagian luar kerajinan bedug yang sudah setengah jadi menggunakan mesin amplas di halaman samping rumahnya.
Ia terlihat berkali-kali menggosokkan mesin amplas pada kayu bagian luar bedug hingga halus.
Baca juga: Tradisi Tabuh Bedug usai Tarawih di Masjid Nurul Qolbi Ponorogo, Warisan Ramadan yang Dirawat
Di sampingnya, tampak satu pekerja Mujiono sedang memelitur badug lainnya yang juga masih setengah jadi dan ukurannya lebih kecil.
"Setelah dihaluskan, nanti baru diplamir untuk menutup sambungan kayunya. Ini bedug besar untuk masjid, diameternya 1 meter dan panjangnya 1,2 meter," ujarnya.
Mujiono mengatakan, tiap momen Ramadan, pesanan bedug memang selalu ramai.
Pada Ramadan tahun ini, ia sudah menerima pesanan sebanyak 10 bedug.
Baca juga: 2 Minggu Jualan Kurma di Pinggir Jalan Blitar, Novery Pedagang Musiman Dapat Omzet Rp125 Juta
Biasanya, pengerjaan pesanan bedug dilakukan sebelum Ramadan.
Jauh-jauh sebelum Ramadan, ia sudah menyetok kebutuhan untuk pembuatan bedug.
Ketika mendekati Ramadan, ia mulai menggarap pesanan bedug dari pelanggan. Biasanya, pengerjaan bedug tinggal finishing.
Dengan begitu, saat memasuki Ramadan, pesanan bedug sudah bisa diambil oleh pelanggan.
"Ini tinggal dua pesanan bedug yang belum selesai, sedang pesanan delapan bedug sudah diambil oleh pemesan," ujarnya.
Pesanan bedug paling banyak yang ukuran diameter 55 cm sampai 70 cm untuk kebutuhan di musala.
Sedang harga bedug paling murah mulai Rp 2,5 juta dan paling mahal sampai Rp 15 juta.
"Pesanan bedug paling banyak dari lokal Blitar. Tapi, ada juga pesanan dari luar kota seperti dari Tulungagung," katanya.
Mujiono menggunakan kayu mahoni, nangka, dan trembesi untuk bahan pembuatan bedug.
Sekarang, ia mulai kesulitan mencari bahan kayu besar yang utuh untuk bahan bedug.
"Kalau ukuran bedug besar dan tidak ada kayu utuh, antisipasinya kayu kami sambung. Hasilnya tetap sama seperti kayu utuh," ujarnya.
Selain memproduksi bedug, Mujiono juga memproduksi kendang Jawa untuk kesenian jaranan dan karawitan.
Malah, Mujiono bisa dibilang sebagai spesialis perajin kendang Jawa. Ia justru rutin memproduksi kendang setiap hari dibandingkan bedug.
"Kalau yang setiap hari produksi malah kendang. Karena sudah ada pelanggan tetap. Kalau bedug, pesanan ramai pas Ramadan saja," katanya.
Ia menekuni kerajinan kendang sejak masih muda. Ia belajar membuat kerajinan kendang dari ayahnya yang juga perajin kendang dan bedug di Kelurahan Ngadirejo, Kota Blitar.
Tiap hari, Mujiono bisa memproduksi sebanyak 20 unit kendang Jawa. Pesanan kendang paling banyak dari lokal Jawa Timur dan Lampung.
Hampir setiap sebulan sekali ia rutin mengirim pesanan 500 biji kendang ke Lampung.
"Kalau puasa seperti ini, pesanan kendang agak turun. Tapi, ada gantinya, pesanan bedug yang ramai," ujarnya.