Stok Pangan Aman untuk 2,5 Bulan, Wali Kota Yogyakarta Tekankan Stabilitas Harga
Joko Widiyarso February 25, 2026 09:14 PM

 


TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat dalam kondisi aman terkendali selama momentum Ramadan hingga Idulfitri 2026 mendatang.

​Bahkan, hasil pantauan menunjukkan stok logistik di Kota Pelajar mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi hingga 2,5 bulan ke depan.

​Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan, meski pasokan melimpah, tantangan utama yang dihadapi adalah menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen. 

Menurutnya, melimpahnya ketersediaan stok tidak akan berarti banyak jika warga masyarakat kesulitan mengakses akibat lonjakan harga.

​"Yang perlu diwaspadai, jangan sampai cukup tapi harganya naik. Harus bisa diakses. Kalau cukup tapi mahal, kan sama saja warga tidak bisa menjangkau," ujarnya, selepas memimpin High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (25/2/26).

Hasto memaparkan, berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Yogyakarta. 

Misalnya, di sektor pangan, perhatian ekstra tertuju pada beras, daging ayam ras, telur ayam, cabai rawit, dan bawang merah, lalu perhiasan emas pada sektor non-pangan.

​"Fokus kita adalah mengendalikan harga karena rantai pasok sebenarnya tidak ada masalah. Untuk beras (SPHP), kita sudah patok harga dari Bulog sekitar Rp11.000 dengan HET Rp12.500. Begitu juga minyak goreng di harga Rp14.000an," bebernya.

"Inflasi yang ada (di Yogyakarta) bukan karena ketersediaan pangan yang kurang, tetapi cenderung karena tata niaganya. Rantai pasoknya tidak langsung dari produsen ke konsumen, tapi lebih belok ke mana-mana, begitu," imbuh Hasto.

Selain intervensi harga, Pemkot Yogyakarta pun memperkuat skema Kerja Sama Antar Daerah untuk memastikan suplai komoditas tertentu tetap terjaga. 

Tidak berhenti di situ, kata Hasto, pihaknya juga melangsumgkan program subsidi transportasi untuk memangkas biaya distribusi logistik dari luar daerah, khususnya untuk komoditas telur.

​"Kita bantu transportasi telur total sebanyak 8 ton selama menjelang Lebaran, supaya biaya angkutnya tidak membebani harga jual di pasar. Selain itu, operasi pasar khusus minyak dan beras akan kita sasar langsung ke 25.000 KK (Kepala Keluarga) penerima," tandas Wali Kota.

Sementara, Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, berujar, meski ada tren kenaikan harga beberapa komoditas, optimisme ekonomi masih cukup tinggi, seiring padatnya agenda hari besar dan kunjungan wisatawan.

Dalam kesempatan tersebut, ia pun mengingatkan, supaya setiap intervensi yang ditempuh TPID Kota Yogyakarta melalui operasi pasar, bisa dilakukan dengan prinsip 3T.

"Operasi pasar harus tepat waktu, tepat sasaran, serta tepat lokasi. Jangan sampai intervensi harga ini justru dinikmati oleh pihak-pihak yang tidak tepat, atau bukan konsumen akhir," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.