Berburu Takjil di Pasar Bantul
Yoseph Hary W February 25, 2026 09:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan lapak penjual takjil terlihat berjejer di depan Pasar Bantul, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Rabu (25/2/2026). Masing-masing penjual takjil itu menyajikan menu yang berbeda-beda mulai dari jajanan tradisional hingga modern.

Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com sekitar pukul 15.00 WIB, penjual takjil itu mulai menyiapkan lapak dan produk jualannya. Namun, ternyata tak sedikit orang yang mulai berdatangan untuk berburu kuliner tersebut, walau lapak belum siap dipasang. 

Beberapa orang beranggapan bahwa momen ini bukan sekadar memenuhi urusan perut, tetapi sudah menjadi agenda menarik untuk mengisi waktu menjelang buka puasa bulan suci Ramadan.

Variasi menu

Ratna Nur Hidayat (30), warga Kapanewon Imogiri, mengaku sengaja mampir ke lokasi itu bersama sang buah hati untuk berburu takjil menjelang buka puasa. Ia mengaku sudah sering berburu takjil di lokasi tersebut dikarenakan terdapat variasi makanan yang cukup banyak.

"Ini sekarang lagi beli mille crepes. Ini karena anak yang minta. Jadi beli ini," katanya, saat dijumpai.

Setelah itu, ia berencana melihat produk kuliner lainnya untuk dibeli dan dikonsumsi setelah buka puasa nanti. Apalagi di lokasi itu juga menjual sayuran, sehingga praktis dan tidak perlu masak saat ingin dikonsumsi. 

Agustina (45), warga Kapanewon Bantul, menyampaikan, sengaja berburu takjil di depan Pasar Bantul dikarenakan dekat dengan tempat tinggalnya dan terdapat menu yang cukup bervariasi.

"Saya selama bulan puasa sering berburu takjil. Karena kalau enggak berburu takjil kayaknya kurang lengkap. Ini sudah jadi kegiatan rutin kalau bulan puasa tiba," ucap dia.

Kali ini, ia sedang mengantre membeli bubur jenang tradisional. Sebab, rasanya yang manis, dinilai cocok untuk dikonsumsi saat momen buka puasa. Namun ia mengaku, jika di rumah sudah memasak sayuran dan daging, sehingga bubur ini sebagai pelengkap menu buka puasa.

"Iya saya sudah masak. Tadi masak sayur asem sama ayam goreng. Tapi, belum ada menu pembuka puasa, jadi saya ke sini untuk beli bubur jenang dan dikonsumsi saat buka puasa nanti," kata dia.

50 porsi per hari

Sementara itu, Parmi, penjual bubur jenang, di depan Pasar Bantul, mengaku dalam setiap harinya sekitar pukul 14.30 WIB sampai selepas magrib menjual bubur jenang khusus untuk edisi ramadan. 

"Sudah tiga tahun terakhir saya jualan di sini setiap Ramadan. Kalau hari-hari biasa enggak. Saya sengaja milih jualan jajanan jadul karena lebih praktis saja," terangnya.

Setiap harinya, ia bisa menjual lebih dari 50 porsi. Pembelinya pun beragam, tidak hanya warga Bantul tetapi juga warga luar Bantul dikarenakan lokasi Pasar Ramadan itu berada di dekat jalan raya.

Salah satu pengelola Pasar Bantul, Hajat, mengaku, ada sekitar 40-an orang penjual takjil di depan Pasar Bantul. Namun, satu orang itu bisa menjual beberapa kuliner, sehingga produk takjil yang disajikan cukup banyak.

"Tapi, satu lapak saat ini kita batasi 1,5 meter. Dan sebenarnya momen Ramadan tahun lalu lumayan banyak pedagangan, tapi masih lebih banyak tahun ini. Tahun lalu hampir 40 orang, karena tempat terbatas," ucap dia.

Disampaikannya, penjual kuliner tersebut tidak diberikan batasan. Akan tetapi, produk yang dijual mayoritas minuman es. Kemudian pedagang yang jualan di Pasar Ramadan Bantul diutamakan mereka yang berjualan di Pasar Bantul. 

"Kita utamakan pedagang lama dan dari pedagang di Pasar Bantul. Dan kalau pedagang lama itu udah mendaftar semua dan ada pedagang lain yang mendaftar, baru kita masukkan pedagang baru," terangnya. 

Saat ini, sejumlah pedagang takjil di depan Pasar Bantul sudah dilengkapi dengan skema pembayaran digital, walau belum seluruhnya menerapkan hal itu. Sebab, pihaknya ingin mempermudah pembeli dalam bertransaksi.

"Yang menerapkan pakai pembayaran digital belum sampai 30 persen dari total pedagang takjil itu. Tapi ini terus kami dorong untuk mempermudah transaksi," tutup dia.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.