TRIBUNGAYO.COM - Masyarakat lima desa di Kecamatan Linge, Aceh Tengah mulai terbebas dari isolir.
Warga tersebut sebelumnya selama 4 bulan terakhir sejak banjir dan longsor menerja menjadi terisolir.
Kondisi isolir sangat dikeluhkan dan kini sudah dibangun jembatan darurat sehingga sudah bisa dilintasi kendaraan roda dua dan empat.
Melansir Kompas.com, jembatan penghubung menuju Kemukiman Wihni Dusun Jamat bisa kembali dilalui kendaraan roda empat.
“Alhamdulillah, kami sudah bisa melintasi jalan Kala Ili ini setelah hampir empat bulan terisolir, tidak bisa kami lewati dengan kendaraan roda empat,” kata warga Desa Linge, Zainuddin SL, melalui pesan WhatsApp kepada Kompas.com, Selasa (24/2/2026).
Jembatan tersebut menghubungkan wilayah Kemukiman Wihni Dusun Jamat yang terdiri dari Desa Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, dan Reje Payung.
Zainuddin mengatakan, sejumlah kendaraan warga bahkan sempat tidak bisa keluar desa setelah jembatan Kala Ili rusak diterjang banjir dan longsor.
“Kami merasa senang dan bahagia, walau terlambat, tetapi ini menjadi kabar baik bagi kami, karena sekarang bisa lancar untuk membawa keluar masuk barang,” ujar Zainuddin, yang juga mantan reje (kepala desa) Kampung Linge.
Ia menjelaskan, beberapa hari setelah bencana, warga Desa Linge bergotong royong membuka akses jalan secara mandiri menuju empat desa lainnya.
Sebab, banyak ruas jalan menuju desa-desa tersebut terputus.
Zainuddin menuturkan, Desa Linge tidak mengalami dampak langsung pada bangunan rumah.
Karena itu, warga merasa perlu membuka akses demi membantu desa lain.
“Kala itu kami bawa alat dari rumah, seperti cangkul, parang dan lain sebagainya, kami beramai-ramai berupaya membuka akses, walau roda dua terlebih dahulu bisa lewat,” ucap Zainuddin.
Ia mengatakan, Desa Linge menjadi desa pertama yang dilewati sebelum menuju empat desa lainnya.
Secara sukarela, warga berbergotong royong membuat jembatan rakit sebagai pengganti jembatan Kala Ili yang rusak.
“Jadi kami bawa masuk bantuan, kendaraan roda dua, petugas maupun alat medis, semua kami angkut dengan rakit darurat, meski terkadang ada yang jatuh,” kenang Zainuddin.
Setelah akses jalan antar desa mulai berangsur pulih, warga dari lima desa menerapkan sistem piket bergantian untuk membantu keluar masuk barang dari luar Kala Ili.
Ia menambahkan, hampir setiap warga di lima desa memiliki hubungan kekerabatan yang erat, terutama masyarakat Gayo di kawasan tersebut.
“Setelah itu, dibangunlah jembatan apung yang masih darurat oleh relawan Jagong Jeget. Kendaraan roda dua bisa masuk setelah dua bulan,” ungkap Zainuddin.
Pada Selasa (24/2/2026), pemerintah membangun jembatan darurat berbahan kayu di Kala Ili.
Menerjang Jembatan tersebut kini dapat dilalui satu kendaraan roda empat.
“Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada anggota TNI dan BNPB yang telah memperbaiki. Kini kami bisa kembali berbelanja keluar, bisa mengangkut barang-barang dari luar, namun kami berharap agar jembatan permanen juga segera dibangun,” tutup Zainuddin.
Sementara itu, utusan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya, Mohammad Syech Ismed, mengatakan jembatan tersebut dikerjakan oleh Batalyon Zeni Tempur 17 Kaltim.
Satuan tersebut berada di bawah pimpinan Taufiq.
“Alhamdulillah jembatan selesai, sudah bisa dilalui roda empat,” kata Ismed melalui pesan WhatsApp, Selasa (24/2/2026).
Baca juga: Jembatan Putus karena Bencana Alam belum Diperbaiki, 8 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolir