TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Inilah kasus viral yang tengah ramai jadi perbincangan publik, seorang anak lelaki bernama Nizam tewas di tangan ibu tirinya.
Kisah Nizam ini menyita perhatian publik sejak ramainya video sang remaja ini di rumah sakit.
Nizam tak berdaya namun bisa merespon sedikit demi sedikit pertanyaan orang-orang di sekitarnya.
Tubuhnya penuh luka melepuh.
Ia nampak sesak, napasnya terpangah dan matanya nampak tidak fokus.
Nizam berusaha untuk berbicara saat detik-detik jelang kematiannya.
Tak lama setelah itu, ia dikabarkan meninggal dunia.
Baca juga: Curi dan Jual Motor Ibu Tiri untuk Main Judi, Anak di Kota Kendari Diringkus Polisi
Kini, sang ibu tiri menjadi sosok yang dicurigai menjadi penyebab kepergian Nizam.
Bahkan pihak kepolisian telah menetapkan sang ibu tiri berinisial TR sebagai tersangka.
Deretan fakta terungkap dalam perjalanan kasus Nizam ini.
Salah satunya, kemunculan sang ibu kandung Nizam, Lisna.
Lisna tak menyangka anaknya yang berusia 12 tahun itu akan berakhir tragis.
Ia mengungkap fakta pilu di balik kepergian sang buah hati.
Dari tayangan YouTube Tvonenews, Senin (23/2/2026), Lisna mengaku dirinya selama ini dikira sudah meninggal dunia oleh anaknya.
Hal ini karena mantan suaminya, Anwar Satibi yang menurut pengakuan Lisna telah memframing terkait kematiannya.
Karena itu, Lisna mengaku komunikasi dirinya dengan sang anak pun terputus.
Kini, setelah Nizam tewas diduga akibat penyiksaan, sang ibu akhirnya buka suara, membongkar dugaan kekerasan yang dialami anaknya serta riwayat KDRT yang pernah ia alami di masa lalu.
Berikut sejumlah pengakuan ibu kandung Nizam :
1. Ibu Nizam Diframing Meninggal Dunia
Kuasa hukum keluarga, Mira Widyawati, menjelaskan awal mula dirinya menerima permintaan pendampingan hukum dalam kasus kematian Nizam.
Ia mengaku pertama kali mengetahui kasus tersebut dari media sosial.
Saat itu, ia baru saja sembuh dari sakit dan tengah berselancar di medsos ketika melihat kabar yang viral tentang meninggalnya Nizam. Namun, awalnya ia tidak terlalu menaruh perhatian.
Baca juga: Memahami Awal Kasus Viral ABK Terdakwa 2 Ton Sabu, Ibu Fandi Ramadhan Kirim Surat ke Hotman Paris
Pada Sabtu malam, Mira tiba-tiba menerima pesan langsung (DM) dari seseorang yang mengaku sebagai kerabat atau keluarga Lisna, ibu kandung Nizam. Mereka meminta bantuan pendampingan hukum atas kasus kematian bocah tersebut.
Ia pun menegaskan bahwa sebelumnya tidak pernah mengenal Lisna.
Untuk memastikan kebenaran pihak yang menghubunginya, Mira meminta bukti bahwa yang mengajukan pendampingan hukum benar ibu kandung Nizam.
Tak lama kemudian, dikirimkan dokumen berupa KTP, Kartu Keluarga, serta akta kelahiran Nizam.
Mira juga menyebut, informasi bahwa ibu kandung Nizam telah meninggal pertama kali ia ketahui dari media sosial.
Menurutnya, kabar tersebut ramai beredar dan disebut-sebut merupakan framing yang disampaikan oleh ayah Nizam.
2. Ibu Kandung Nizam Disebut Meninggal di Luar Negeri
Lisna mengungkap, kabar bahwa dirinya telah meninggal dunia pertama kali berasal dari mantan suaminya, ayah Nizam.
“Iyah, ayahnya bilang begitu (meninggal). Katanya Bunda sudah meninggal. Bahkan dibilangin ke anak saya, jangan pernah telepon Bunda, karena Bunda sudah meninggal di luar negeri,” tutur Lisna.
Menurutnya, narasi tersebut sengaja disampaikan agar komunikasi antara dirinya dan Nizam terputus. Sejak saat itu, hubungan Lisna dengan sang anak perlahan menjauh.
Lisna mengatakan, terakhir kali ia hidup bersama Nizam saat putranya berusia tujuh tahun.
Setelah itu, sekitar lima tahun terakhir, Nizam tinggal bersama ayahnya dan ibu tiri.
Awalnya komunikasi masih berjalan baik, namun kemudian terputus. Ia menduga ada faktor kecemburuan atau alasan lain yang membuat mantan suaminya menyebarkan kabar bahwa dirinya telah meninggal.
Setelah isu tersebut beredar, Lisna mengaku sempat berupaya menemui anaknya. Saat nenek Nizam sakit, kakaknya datang ke Jampang untuk menjemput Nizam agar bisa bertemu keluarga dari pihak ibu.
“Anaknya sebenarnya mau ikut, bahkan bilang ingin ikut sehari saja, nanti diantar lagi. Dia juga memanggil kakak saya ‘ayah’. Tapi di sana tidak diizinkan oleh ayahnya, sampai akhirnya Nizam tidak jadi ikut,” ungkap Lisna.
Momen itu kini menjadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Lisna mengaku, jika sejak awal mengetahui kondisi yang dialami putranya, ia pasti akan segera mengambil kembali hak asuh Nizam.
“Kalau tahu dari dulu, saya pasti ambil anak saya,” ujarnya lirih.
3. Sebelum Bercerai, Ibu Kandung Sering Alami KDRT
Saat ditanya mengenai pola pengasuhan mantan suaminya dan apakah pernah ada perilaku kasar selama mereka bersama, Lisna pun mengungkap pengalaman pahit yang selama ini ia simpan.
Ia mengaku menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sejak masih mengandung Nizam.
“Dari waktu hamil saja sudah sering mengalami KDRT. Bahkan saat melahirkan juga masih mengalami kekerasan,” tuturnya.
Menurut Lisna, kekerasan yang dialaminya bukan hanya verbal, tetapi juga fisik. Ia bahkan menyebut pernah mengalami tindakan yang mengancam keselamatannya.
“Rambut saya pernah dipotong pakai golok. Seperti mau membunuh saya,” katanya.
Pengalaman kekerasan itulah yang akhirnya menjadi alasan Lisna memutuskan untuk bercerai.
Pengakuan ini pun memunculkan pertanyaan baru, apakah pola kekerasan yang pernah terjadi di masa lalu turut memengaruhi situasi yang kemudian dialami Nizam.
Namun, hal tersebut masih menjadi bagian yang akan didalami dalam proses hukum yang berjalan.
4. Ibu Kandung Nizam Tuntut Keadilan
Lisna menegaskan, satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah keadilan untuk sang anak. Ia tidak ingin berspekulasi atau menuduh tanpa bukti, namun berharap proses hukum dapat mengungkap secara terang siapa yang bertanggung jawab atas kematian Nizam.
“Saya cuma ingin keadilan buat anak saya. Saya ingin semuanya terungkap, siapa pelakunya. Saya tidak mau menuduh tanpa bukti,” ujarnya.
Lisna menyerahkan sepenuhnya proses pembuktian kepada kuasa hukum dan aparat penegak hukum.
Baginya, yang terpenting adalah kebenaran terkuak dan pihak yang bersalah mendapatkan hukuman setimpal.
Korban mengembuskan napas terakhir di RSUD Jampang Kulon setelah menjalani perawatan akibat luka bakar serius dan dugaan penganiayaan oleh ibu tirinya.
Jenazahnya telah dimakamkan di TPU Desa Bojongsari, Sukabumi pada 22 Februari 2026.
TR (47), ibu tiri NS, ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian dalam kasus kekerasan terhadap NS.
Polisi resmi menetapkan ibu tiri berinisial TR (47) sebagai tersangka kasus meninggalnya bocah berinisial NS (13) asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Penetapan tersangka TR ini disampaikan langsung oleh Kapolres Sukabumi, AKBP Samian. Samian menegaskan, TR ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kekerasan fisik dan psikis terhadap korban.
"Terkait dengan perkara meninggalnya akibat kekerasan, Polres Sukabumi sudah menetapkan tersangka saudari TR (ibu tiri), sudah kita tetapkan jadi tersangka atas dugaan kekerasan baik fisik maupun psikis dan masih kita dalami adanya tersangka lain, namun kita sekarang masih fokus bagaimana mendalami unsur-unsur atau pasal-pasal, kemudian kita juga sedang menunggu hasil uji patologi anatomi dan juga toksikologi," ujar Samian, Rabu (25/2/2026).
Sebelumnya, NS (13) meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, tubuhnya penuh luka.
TR dan ayah kandung NS, Anwar Satibi, diketahui menghuni rumah orang tua TR di Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi.
Reporter Tribunjabar.id melihat langsung kondisi rumah TR. Pantauan Tribunjabar.id, suasana di rumah TR terlihat sepi, tidak ada penghuni dan tidak ada aktivitas apapun, Rabu (25/2/2026).
Cat rumah berwarna putih terlihat sudah pudar, kursi di teras rumah berwarna cokelat pun terlihat rusak.
Rumput hijau terlihat memenuhi halaman rumah TR. Hening, suasana yang terasa saat berada di area rumah tersebut.
Penelusuran Tribunjabar.id, rumah tersebut sudah dikosongkan sejak beberapa hari lalu.
Berdasarkan keterangan ketua RW setempat, Rahman. Rumah itu sudah tidak berpenghuni sejak Minggu malam lalu.
"Ini rumah orang tuanya TR yang struk itu. Ayahnya TR itu (dibawa) sama anaknya yang pertama di Sukabumi. Rumahnya kosong sejak kemarin hari Minggu, pas abis teraweh (orang tua TR) dibawanya, malam Senin," ujar Rahman.
Rahman mengaku tidak mengetahui pasti tentang konflik atau kasus yang saat ini terjadi di keluarga TR dan Anwar.
"Saya kurang tahu tentang kasus ini," kata Rahman.
Sementara itu, salah seorang tetangga TR yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dua minggu yang lalu NS yang merupakan anak tiri TR ada di rumah tersebut.
"Kemarin itu baru 2 minggu sebelum ada kejadian. Sebelum ada heboh kejadian ada kelihatan main di sini, main kelereng," kata seorang ibu tetangga TR.
Sementara Rahman menimpal bahwa TR juga mempunyai 2 anak angkat dari sebelum menikah dengan Anwar Satibi (ayah kandung NS).
"Jadi si ibu TR ini juga punya anak angkat 2, yang satu kuliah di Bandung, yang laki-laki sekolah SMA, cuma pulangnya suka pada kesini," ucap Rahman.
Menurut Rahman, sebelum berumah tangga dengan Anwar Satibi, TR sebelumnya juga menjalin rumah tangga dengan pria lain. Kala itu, TR beraktivitas seperti biasa, aktif di masyarakat.
Namun, setelah berumah tangga dengan Anwar Satibi, TR maupun Anwar alias Awang jarang bersosialiasi dengan tetangganya.
"Kalau dulu mah biasa normal-normal saja, sudah nikah ke pak Awang (Anwar) jarang, jarang keluar. Jarang komunikasi sama tetangga. Dulu mah aktif, waktu nikah sama pak Awang kadang-kadang keluar buat kepentingan pribadi, keluar balik lagi," kata Rahman.
Rahman menjelaskan, berdasarkan informasi dari para tetangga TR, bahwa saat berumah tangga dengan Anwar, keduanya kerap terlibat cekcok hingga suara ribut mereka terdengar ke tetangga.
"Yang sering tahu keributan mah tetangga di sini, cuman suaranya (suka terdengar, red)," ujar Rahman.
Tetangga TR pun menuturkan bahwa saat ribut masalah rumah tangga, suara keributan itu terdengar kencang sampai ke rumah tetangga.
"Kan kayak pake speaker, keras suaranya (kalau berantem)," ucap seorang ibu tetangga TR.(*)
(TribunJabar)(Tribunnews.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)