Ego Spiritual tanpa Ibadah Sosial
Fitriadi February 26, 2026 06:36 AM

Oleh, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar

Dalam lintasan sejarah dunia Islam, skandal spiritual menyebabkan jatuhnya sejumlah makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.

Malaikat jatuh karena mereka
membangkang (aba) dan takabur (istikbar).

Malaikat turun ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena
mempertanyakan kebijakan Tuhan (over kritis) dan menepuk dada sebagai ahli ibadah (al-‘alin), dan manusia jatuh ke bumi karena tidak kuat menahan nafsu.

Dalam sebuah hadis diceritakan di dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali, seorang alim dan ahli ibadah yang semata-mata mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ia banyak mengasingkan diri dari keramaian demi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam.

Baca juga: Surat Cinta Tuhan

Suatu ketika seorang pelacur mencari ulama untuk curhat dan sekaligus meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini digelutinya.

Ia juga menanyakan apakah masih ada harapan Tuhan memaafkan dan menerima tobatnya setelah malang melintang hidupnya di tengah lumpur dosa. 

Mendengarkan keinginan itu, sang ahli ibadah itu menolak harapan perempuan nakal itu dengan mengatakan, aku tidak mau menodai diriku dengan berkomunikasi orang kotor seperti itu.

Mendengarkan cerita itu, maka Nabi mengatakan sang ahli ibadah itu penghuni neraka dan perempuan yang karena ketulusannya ingin bertaubat adalah penghuni syurga. Subhanallah.

Riwayat ini mengingatkan kita, kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan, tetapi ibadah sosial seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. 

Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan.

Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada malah dikhawatirkan terjebak dengan apa yang disebut dengan ego spiritual atau kesombongan spiritual.

Ego spiritual ialah orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa mau tahu lingkungan masyarakat sekitarnya. Bahkan ia cenderung menghindarinya karena seolah-olah dirinya sudah tidak selevel dengan mereka.

Ia mengklaim dirinya sebagai orang-orang kelas atas dalam dunia spiritual.

Ia memilih-milih sahabat dan menghindari orang-orang yang justru memerlukan perhatian dan kasih sayang serta bimbingan.

Jika orang-orang ini dijauhi, lantas mereka semakin jauh dengan Tuhan, sementara kita dengan.asyiknya beribadah sendirian tanpa kehadiran mereka yang boleh jadi menyita waktu, tenaga,
pikiran, dan materi, maka kita termasuk kategori ego spiritual (inniyyah).

Keangkuhan dan kesombongan spiritual tak ubahnya kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu. 

Orang-orang seperti inilah yang disebut di dalam Alquran tidak memiliki bekas-bekas sujud (atsar al-sujud).

Bekas sujud dalam Alquran bukan dengan sengaja menghitamkan dahi di atas kening seperti dilakukan segelintir orang yang memahami secara tekstual ayat tadi.

Atsar sujud ialah komitmen sosial yang tinggi dimiliki seseorang sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.

Termasuk dalam kesombongan spiritual ialah menikmati pujian orang-orang yang mengaguminya lantaran banyaknya ibadah yang dilakukan. 

Mungkin ia melaksanakan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ada yang ditinggalkan, dan zikirnya jalan terus, lalu dengan enteng memandang orang lain yang tidak seperti dengannya. 

Amal-amal kebajikannya lebih banyak digunakan untuk mengaktualisasikan diri sehingga orang takjub dan menikmati pujian-pujian mereka.

Padahal mungkin yang bersangkutan pada saat yang bersamaan meninggalkan aib-aiab dan dosa-dosa langganan yang terus-menerus dilakukan. 

Hanya karena keterampilannya menggunakan topeng-topeng kepalsuan, maka ia tidak dipermalukan orang lain.

Kesombongan spiritual tetap akan menjadi tantangan umat masa depan.

Bahkan mungkin akan semakin meningkat seiring dengan makin berkembangnya alat komunikasi canggih yang dapat digunakan untuk memuji atau menerima pujian.

Ada fenomena, jika tidak ada yang memuji, misalnya dengan mencium tangan atau berbagai macam bentuk kultus lainnya, maka seharian ia kehilangan semangat.

Semakin banyak yang memujinya, semakin mabuk dengan.

Pujian itu lantas rekayasa dilakukan sedemikian rupa agar orang lain memujinya. Subhanallah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.